
Kasih sayang tanpa batas, sejak kejadian tadi siang membuat Myesha was-was, Dia memeluk Yuno dengan erat hingga membuat batita itu tidur. Myesha sangat takut anak yang dia besarkan itu diambil orang tua kandungnya. Rambut Yuno diusap, lurus dan lebat. Dia sedikit mendengkur.
Tidak bisa Myesha pungkiri bahwa tindakannya egois, Ren adalah ayah kandung Yuno, Myesha paham sekali hal itu. Ren berhak atas Yuno melebihi dirinya yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
"Biarkan Bunda egois, Bunda tidak ingin kehilanganmu."
Myesha mencium kening Yuno dengan lembut, rasanya sedikit asin karena bercampur dengan keringat. Kipas mereka mati beberapa hari lalu, tidak sengaja ditabrak Yuno hingga rusak. Setelah bersedih ria akhirnya Myesha terlelap, perutnya yang buncit akibat mengandung cikal batal Faiq junior membuatnya sulit tidur akhir-akhir ini. Belum lagi kakinya yang bengkak air.
Memasuki bulan ke 9 ibu kandung Faiq datang, kali ini beserta ibu Faiq nomor 3. Mau membantu dan siap-siap menyambut cucu yang masih otw katanya. Rumah semakin ramai, semua orang menanti kelahiran bayi yang berjenis kelamin laki laki itu.
"Ayah main, yuk." Ajak Yuno, Faiq mengibaskan tangannya. Menyuruh Yuno untuk masuk ke dalam, pasalnya sekarang Faiq ada tamu penting. Seorang polisi yang membantu menyelidiki orang mencurigakan yang beberapa waktu lalu meresahkan warga karena dianggap penculik anak.
"Main sama Bunda aja ya." Faiq membalik badan batita itu, menyuruhnya menjauh dari sana.
Dengan bibir cemberut Yuno membawa maiannya menjauh, ia melihat ke bundanya kemudian mengembuskan napas berat. Saat ini Myesha sedang ghibah dengan ibu mertua di dapur. Cekikikan tidak jelas, Yuno tidak suka melihat bundanya seperti itu. Menyeramkan.
Bocah batita itu berlari ke depan rumah, ada mobil polisi terparkir di halaman. Seorang anak yang usianya tak jauh darinya duduk sendirian di dekat mobil, Yuno menghampiri dengan berlari menggunakan kaki kecilnya.
"Main yuk!" Tiba-tiba dan tanpa rasa takut Yuno mengulurkan mobil mbilan. Anak lelaki kisaran umur 3-4 tahun itu mundur. Dia takut.
"Pelgi!" Teriaknya.
Yuno bergeming, dia melihat dari atas sampai bawah bocah yang lebih tinggi darinya itu. Pakaiannya lusuh, wajahnya lebam, dan ketakutan.
"Ama kamu ciapa?" Tanya Yuno. Mata cantiknya berkedib beberapa kali.
Bocah itu melihat ke Yuno, perlahan ketakuannya mereda. "Lical."
"Ical?" Yuno mengulangi.
"Bukan Ical tapi Lical!"
Yuno menelengkan kepala tak mengerti, kalimatnya sama saja tetapi bocah itu kenapa marah? Sekali lagi Yuno mengulurkan mainannya. Dia menunjuk pasir bekas pembuatan gerbang di sudut rumah. Mengajak bermain di sana. Ada mainan mobil truk besar yang di dalamnya sudah terisi pasir, bekas mainan Yuno kemarin.
"Main di cana, yuk." Ajak Yuno lagi. Kali ini bocah itu mengandeng tangan bocah yang bernama Lical tersebut.
"Gak mau main!" Dia menghempas tangan Yuno. Membuat bocah batita itu terjatuh ke rumput hijau. Rupanya yang shock bukan Yuno, melainkan anak itu. Dia melihat keadaan Yuno dengan takut.
Yuno bukan anak yang cengeng, Faiq yang mengajarinya seperti itu. Bocah itu tak menangis walaupun jatuh. Dia cepat berdiri dan mengambil mainannya yang kotor.
"Amu gak papa?" tanya bocah itu khawatir.
"Ata Bunda, Uno Abang."
Bocah itu terhenyak mendengar penuturan Yuno. "Kamu bunda punya ayah." Sedihnya. Wajahnya menunduk.
"Bunda Ical ana?" tanya Yuno.
"Gak ada, mati."
Mati? Yuno tak mengerti dengan arti kalimat itu. Lalu dia tiba-tiba ingat dengan ikan ****** milik Yuriel yang mati. Mati artinya tidak bisa berenang lagi. Itu kata Yuriel.
"Ayah Ical ana?"
"Ayah mukul. Tanganku cakit."
Ical menunjukkan badannya yang penuh memar, selama ini Yuno tidak pernah diperlakukan kasar sekalipun berbuat salah. Myesha dan Faiq selalu menasehati dengan kalimat yang baik, kalau dia menumpahkan susu maka Faiq mengajarinya untuk mengelap sendiri tanpa memarahi.
Ketika mainan berserakan, Myesha akan menyuruhnya untuk membereskan sendiri. Hal itu membuat Yuno menjadi mandiri walaupun usianya baru 2,5 tahun.
"Kamu akal?"
Pernah beberapa kali Yuno melihat Yuriel dipukul Riki, Biasanya hanya bagian bokong hingga Yuriel menangis keras.
Bocah itu menggeleng. "Amu pukul ayah?"
Yuno menggeleng, Faiq sekalipun tak pernah memukulnya. Pernah memarahi beberapa kali tapi tidak pernah menyakiti fisiknya sama sekali.
"Ayah mu baik."
Baru kali ini Yuno merasa senang ayahnya dipuji. "Ayahku doktel baik." Batita itu tersenyum lebar membanggakan ayahnya.
.
.
.
bersambung.
Maaf ya gengs skrng susah update. Laptop sering error. Jangan lupa dukung cerita ini ya. makasih.