
Setelah Faiq pergi ke Natar bersama Riki, Myesha memandikan Yuno. Bayi imut yang suka dengan air. Senyuman manis hadir di sana. Myesha yang dulu tak bisa menggendong bayi kini lihat mengurus semua keperluan Yuno.
Dulu, Myesha seperti tak membutuhkan dunia nyata. Asik dengan karakter komik yang dia ciptakan. Memainkan mereka dan memberi takdir seperti keinginannya. Itu sudah cukup. Tetapi sekarang ada Yuno dan Faiq dalam hidupnya. Seolah menarik dia yang berada di dunia hayalan. Memaksanya beradaptasi dengan dunia nyata, dan ternyata itu ... menyenangkan.
"Kamu makin imut banget sih." Gemasnya sembari mencium Yuno. Ia meletakkan Yuno di ranjang. Masih dibalut handuk. Kemudian Myesha mengambil baju dan celana Yuno. Memilih yang paling imut untuk bayi gembulnya.
Baru ditinggal sebentar rupanya bayi itu tak tahan. Kelincahannya terlihat, berusaha untuk tengkurap. Setelah beberapa kali percobaan gagal akhirnya kini bayi itu berhasil.
Myesha yang kembali dan melihat Yuno berhasil tengkurap sangat terkejut. Matanya berbinar kagum akan bayi yang dia rawat akhirnya bisa tengkurap walaupun masih kesusahan mengangkat kepala.
"Wah, kamu hebat. Mas Faiq harus liat ini."
Buru-buru Myesha mengambil ponsel. Memfoto Yuno, dan selama merawat Yuno isi galeri ponselnya berubah menjadi folder berisi foto-foto Yuno layaknya fans garis keras. Ada pesan masuk. Ternyata dari Erika, editornya.
"Aku sekarang di Lampung mau mampir ke rumahmu, cepat kirim alamatnya." Pesan yang sangat singkat tanpa basa basi.
Myesha terkejut, rumahnya masih berantakan. Wanita perfeksionis itu pasti akan mengomel. Gawat! Buru-buru Myesha mengirim alamatnya. Kemudian memakaikan baju untuk Yuno.
"Kamu yang anteng ya, aku mau beresin rumah."
Setelah Yuno memakai baju ia meletakkannya di box bayi dan memberikan mainan. Seperti dikejar guk guk, Myesha berlari ke sana ke mari membereskan barang yang berserakan.
Dia menyapu dan mengepel kilat. Memasukkan semua pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Belum beres semua Yuno menangis, rambutnya acak-acakkan dan keringat bercucuran.
Suara mobil sampai rumah, Myesha berharap itu Faiq tetapi naas. Itu adalah Erika.
Wanita berpakaian rapi dengan rambut cantik terurai sebahu, handrok selutut menambah pesonanya.
Myesha membuka pintu, dia belum mandi dan sekarang menggendong Yuno sambil menimangnya. Mata mereka bertemu, Erika terkejut dengan keadaan Myesha yang mirip zombie.
"Silakan masuk, Kak."
Erika masuk, langsung duduk di sofa dan tak memerhatikan sekitar. Pandangannya tertuju kepada Yuno.
"Haduh ... buluk banget sih kamu. Eh tapi udah besar ya bayimu. Siapa namanya?"
"Wajar kak, sekarang kan aku ibu rumah tangga. Namanya Yuno, imut kan?"
"Sebelum nikah kamu juga buluk nggak mau ngrawat diri. Untung bayimu nggak nurun dari kamu, dia lumayan imut, pasti namanya plesetan dari Yusha."
"Kayaknya cuma Kakak yang mengerti diriku."
"Aku sudah jadi editormu selama 5 tahun."
"Tapi baru mampir ke rumahku sekarang."
"Dulu aku kan pernah mampir di kosanmu yang waktu masih di Bandar Lampung."
"Eh nggak usah, aku ke sini cuma mau bahas komik barumu. Kapan mau rilis?"
Myesha duduk, berhadapan dengan Erika. Bibir merah merona yang jika marah kalimatnya setara pedasnya dengan Faiq dulu. Jika diingat lagi sekarang Faiq tak pernah berbicara pedas padanya seperti awal pernikahan dulu. Kemajuan hubungan yang pesat.
"Aku juga belum tahu, aku sudah nyusun outline tapi masih repot ngurus Yuno. Suami juga kerja. Jadi waktuku jadi terbatas banget buat gambar."
"Kalau pakai asisten aja gimana? Nanti aku yang cariin. Yusha kemarin mendapat respon bagus dari pembaca internasional, ending yang tak terduga. Plot twistnya keren. Mereka nunggu komik ke 4 mu."
"Aku juga baca komentar dari pembaca internasional, tapi pembaca dalam negeri komennya pedes banget."
"Halah, walaupun komen pedes mereka tetap baca sampai tamat. Nggak usah dipikirin."
Myesha mendesah berat. Dia sudah menyusun outline untuk komik barunya. Jalan cerita sudah di acc. Tinggal mulai pengerjaan, tapi mengurus Yuno dan rumah benar-benar menyita waktunya. Mungkin memakai asisten adalah jalan terbaik. Tetapi Myesha takut jika memakai asisten gambarnya akan berubah.
"Tolong carikan asisten bagian pewarnaan aja, Kak."
"Yakin nggak repot kalo cuma bagian pewarnaan?"
"Aku nggak mau gambarnya berubah. Pasti pembacaku langsung tahu kalau bukan aku yang ngerjain gambarnya walaupun cuma gambar pohon."
"Iya juga. Ah, kamu sih nikah mendadak. Langsung punya anak pula."
Untuk perkataan ini Myesha tak bisa menanggapi, ia hanya tersenyum. Tak lama kemudian suara mobil dan motor masuk ke halaman. Pintu terbuka tak lama kemudian. Menampilkan Faiq yang memakai kaos biru berkerah. Terkejut melihat Erika duduk di ruang tamunya, begitu juga sebaliknya.
"Faiq?" Tatap Erika pada Faiq yang berdiri tak jauh darinya.
"Mantan?"
Sementara Faiq lupa nama Erika, yang dia ingat wajah cantik itu adalah salah satu mantan onlinenya.
.
.
.
.
bersambung
Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip
(╥﹏╥)