Unknown Baby

Unknown Baby
Parkiran


Hujan angin di luar begitu deras, mengguyur kota Metro hingga larut malam. Memberi genangan di halaman rumah Faiq. Suara air mengalir di selokan juga terdengar.


Suara Faiq yang sedang mendaki gunung dan lewati lembah hingga sampai di tempat bercocok tanam tersamarkan oleh hujan. Dia menambah tanda kehadiran ular yang bertamu. Walaupun malam itu si ular tak ada sopan santun sama sekali. Menyemburkan bisanya beberapa kali tanpa aba-aba.


Usaha bercocok tanam yang dilakukan Faiq dan Myesha menjadi harapan besar. Semoga segera menjadi tunas supaya keluarga mereka semakin ramai. Mereka menanti, terus berusaha dan dicoba setiap malam atas inisiatif Faiq.


Hingga hari itu tiba, saat mereka ke Bandar Lampung untuk membayar pengobatan Ayah Myesha.


Rumah sakit sudah di depan, mobil berhenti di parkiran. Sekali lagi Myesha mengembuskan napas berat, masih memangku Yuno yang tenang dengan mainannya. Enggan untuk turun sekalipun mesin mobil sudah dimatikan.


"Ayo turun," ajak Faiq.


Suasana hati Myesha memburuk sejak semalam, keinginannya supaya ibu tirinya memohon tidak terkabul. Dengan sombongnya tidak merasa bersalah sama sekali. Keluarga besar Myesha juga malah menjelek-jelekan Myesha di sosmed. Anak tidak berbakti katanya.


Mau tidak mau dia harus ke rumah sakit sekarang, ayahnya butuh operasi segera. Walau enggan namun Faiq terus memaksa supaya mereka datang.


"Aku di mobil aja."


"Jangan gitu Sha, ayo masuk."


Myesha menggeleng, merajuk seperti anak kecil. Si jabrik Yuno menoleh ke atas, melihat ibunya kemudian kembali memainkan mobil-mobil kecil kesayangannya.


"Jhata dha ta dhta." Oceh Yuno seakan ikut mengobrol.


"Bagaimana pun juga dia ayahmu, sudah waktunya kamu lihat dia sekarat." Faiq melempar senyum sembari memegang tangan Myesha dengan lembut.


Sekali lagi Myesha mengembuskan napas, ia mengangguk dan merasa ucapan Faiq benar. Sudah waktunya melihat ayahnya terkena azab.


Rumah sakit bercat putih dengan orang berlalu lalang, Myesha membenarkan gendongan terhadap Yuno sembari membuka pintu mobil dengan keras.


"Aduh anuku!" Suara orang di luar mobil.


Myesha terkejut karena tak menyangka pintu mobilnya akan mengenai anu seseorang yang lewat.


Segera wanita itu turun, dia melihat pria jangkung dengan rambut hitam lebat. Sebelah tangannya diperban. Terlihat kesakitan.


"Maaf Mas aku nggak sengaja," kata Myesha buru-buru.


Pria yang sedikit meringkuk dengan sebelah tangan yang memegang anu itu melihat ke depan, mata mereka bertatapan. Sementara Faiq berlari mengitari mobil untuk menghampiri Myesha.


"Ada apa, Sha?"


"Mas ini nggak sengaja kena pintu mobil."


"Pintu mobilnya nggak papa, 'kan? Eh, maksudku Mas ini nggak papa kan?" tanya Faiq sembari melirik ke pintu mobilnya. Takut lecet.


"Kamu Myesha author komik Yusha sang pangeran bukan?" tanyanya kemudian.


Mendengar itu Myesha mengedip beberapa kali sebelum mengangguk. "Iya."


"Wah, saya ini penggemar berat anda. Kenalkan saya Aslan," ucap pria itu sembari mengulurkan tangan.


Myesha menyambutnya sembari tersenyum ramah. "Makasih udah baca komik Yusha, jangan lupa baca komik Super Baby juga ya."


"Tentu saja, saya penggemar berat anda."


Aslan belum juga melepas jabatan tangan mereka sampai Faiq berdehem berat. Membuat sosoknya yang transparan di depan Aslan kembali terlihat.


"Saya suami Myesha," ucap Faiq yang tiba-tiba mengenalkan diri sekalipun tidak ada yang bertanya.


"Oh iya," jawab Aslan tak acuh. Masih memandang Myesha dengan kakaguman.


Melihat itu Faiq merasa naik pitam, dia menyipitkan kedua matanya tanda tak suka dengan sikap kurang ajar Aslan.


"Ayo sayang kita masuk," ucap Faiq mengambil tangan Myesha. Menggenggamnya erat.


"Tunggu sebentar, saya ingin foto bareng." Aslan mengeluarkan ponselnya. Langsung memberikan ponsel itu kepada Faiq. "Tolong fotokan."


Segera Aslan pindah ke sisi Myesha yang sedang menggendong Yuno. Dengan rasa ingin menggoncang dunia Faiq memfoto mereka. Dua cepretan yang semuanya ngasal.


"Makasih Author. Semangat berkarya. Oh ya ini anak anda imut sekali. Mirip dengan saya. Hehe."


Mendengar itu Myesha nyengir kuda. Ada aura panas dari sisi kanannya tempat Faiq berada. Jika adegan ini dia gambarkan dalam komik maka di belakang Faiq ada api neraka yang membara.


"Haha, masak sih mirip. Padahal anak saya mirip suami saya." Kata Myesha. Masih berusaha ramah dengan penggemar.


Aslan mengusap rambut Yuno yang berdiri tegak. "Dulu saya dan kakak saya sewaktu kecil rambutnya juga tegak seperti ini."


"Tja ta dha ta." Yuno mengoceh seperti menanggapi ucapan Aslan. Seolah mengerti apa yang diucapkan pria itu ketika mengusap rambut jabriknya.


.


..


.


bersambung.


jangan lupa like dan komen