Unknown Baby

Unknown Baby
Andai


Ungkapan yang dulu menjadi patokan Myesha bertahan adalah Ayah menyayanginya. Di antara rasa kesepian dan ingin menyerah dia ingat masih ada Ayah yang mungkin akan sedih. Berharap Ayah sadar akan dirinya yang kesepian dan menginginkan kembali seperti dulu, keajaiban yang membuat Ayah kembali peduli padanya suatu hari nanti menjadi harapan Myesha.


Namun rupanya Ayah bahagia tanpa dia, setelah mengirim dia pergi jauh. Ayah tidak menyesal sedikitpun. Malah semakin mencintai Tuti dan dua adik tirinya. Lupa bahwa masih ada dia sebagai anak pertama yang juga membutuhkan sosoknya.


Myesha memupuk rasa benci terhadap Ayah dalam waktu yang lama. 12 tahun terhitung sejak dia pindah ke Bandar Lampung dan ngekos. Anak yang tidak tahu apapun harus hidup mandiri di kota besar tanpa pendamping. Dia belajar melakukan semuanya sendirian layaknya anak buangan.


Uang yang diberikan Ayah perbulan juga sering kurang, dia pernah mengumpulkan botol bekas untuk menambah pemasukan supaya tidak kelaparan. Hingga dia mengasah bakat menggambar kelas 3 SMP.


Semua tidak berjalan mudah, Myesha berjuang sendirian mengumpulkan uang membeli tablet gambar. Setelah berhasil membeli tablet gambar bekas pun hidupnya tidak langsung membaik. Selama setahun dia belajar menggambar sampai tangannya penuh luka dan kram.


Baru ketika SMA dia berhasil kontrak dengan platfom hijau. Uangnya mengalir sehingga bisa makan dengan layak. Seminggu sekali bisa makan enak di warteg. Uang dari ayah yang dikirim perbulan selalu kurang untuk makan dengan layak.


"Ayah pikir kamu tidak akan pernah datang." Kalimat itu terucap dari bibir Ayah yang kering. Lirih tapi menusuk.


Myesha tersenyum sinis. "Iya juga ya, kenapa aku masih datang padahal Ayah sudah membuangku."


Mereka saling diam, Ayah tak berkata apapun. Terasa bibirnya tercekat dan kelu. Sama halnya dengan Myesha. Setiap kalimat yang sudah disusun rapi buyar seketika.


"Ayah akan mengganti uangmu." Harga diri Ayah nampaknya masih dijunjung tinggi.


"Apakah hanya uang yang ayah pikirkan, bagaimana caranya Ayah mengganti sakit hatiku?"


Pertanyaan dari Myesha membuat Ayah terkejut, matanya memandang Myesha yang berkaca-kaca.


Orang-orang yang berada di ruangan itu saling berbisik, mengamati ayah-anak dengan teliti. Betapa Tuti menyombongkan diri di hadapan mereka selama ini. Ingin mereka buktikan.


"Apa Ayah bisa menganti masa remajaku yang kesepian? Kelaparan karena nggak punya uang? Sendirian ketika sakit? Apa yang bisa mengganti semuanya?" tanya Myesha, air matanya menetes begitu saja. Buru-buru dia melepas kacamatanya untuk menyeka. Dadanya bergemuruh, rasa sakit yang selama ini disimpan rapi mendadak terangkat kembali.


"Kenapa selama ini tidak bilang kalau sakit dan kurang uang?" Rupanya Ayah masih tidak ingin mengakui kesalahannya.


Bersikukuh bahwa semuanya salah Myesha, ego orang tua yang selalu benar dan anak sudah pasti salah. Tidak peka sama sekali bahwa Myesha tengah terluka.


"Sekali saja apa Ayah pernah bertanya? Apa aku sakit? Apa aku sedih? Apa aku kesepian? Apa Ayah pernah peduli?" Air mata Myesha mengalir deras. Berkali kali diseka namun tetap mengalir tanpa peringatan. Hari ini dia berjanji kepada Faiq untuk mengungkapkan semuanya supaya hatinya lega.


Saat ini Ayah langsung terdiam, matanya melihat ke arah Myesha dengan kebingungannya. Mungkin, mencari letak kesalahannya di mana.


Sementara Myesha terus mengusap air matanya, malu menangis di hadapan orang yang telah mengingkirkannya.


.


.


.


bersambung.


jangan lupa like!