Unknown Baby

Unknown Baby
Sepeda


Matahari bersinar terang, Yuno mengayuh sepedanya di jalan raya. Asap dari knalpot motor dan debu tak menghalangi niatannya untuk segera sampai di panti asuhan Cinta Kasih.


Yuno berbelok, melawati sawah di kanan dan kiri. Kaki panjangnya mengayuh lebih cepat, sesekali mengusap keringat di pelipis. Napasnya naik turun.


Tepat di gerbang panti wajahnya tersenyum melihat sahabat karibnya. Sedang menyapu di bawah pohon rambutan. Yuno pelan mengarahkan sepedanya ke sana.


"Rizal!" teriaknya.


Anak laki-laki bercelana pendek itu menoleh. "Bang Rizal!" sungutnya. Merasa Yuno tak sopan.


"Hahaha ... gimana cerdas cermat kemarin, menang nggak?" tanya Yuno sembari menyenderkan sepedanya di bawah pohon lalu berjalan mendekat.


Rizal menepuk dadanya dengan tangan kanan setelah sapu yang dipegang ditaruh di sebelah kiri. Merasa bangga dagunya ke atas.


"Juara 1 donk!"


"Wah, berarti dapet beasiswa buat ke SMA negeri?"


"Iyalah, kan emang itu tujuanku ikut lomba."


"Keren keren."


Mereka tos dan saling menubrukkan punggung kemudian tertawa lepas. Ibu panti sampai berteriak karena mereka berisik hingga dua anak itu meminta maaf.


Rizal bercerita proses selama lomba kemarin sembari menyapu, ada beberapa anak yang melihat mereka dari kejauahan. Melambaikan tangan ke Yuno. Yuno kena hampir semua anak-anak panti.


Yuno berjalan untuk duduk di kursi bawah pohon, dekat dengan sepedanya. Mendengarkan cerita Rizal tanpa ada niat membantu menyapu.


"Oh ya sepatumu udah aku cuci. Aku ambil bentar."


"Eh, nggak usah. Aku udah terlanjur bilang ke Bunda kalau ilang hahaha."


"Kenapa bohong?" Marah Rizal.


"Nggak niat bohong, lagi pula aku emang pingin punya sepatu baru. Sama Bunda udah dibeliin baru. Yang itu buat kamu aja."


"Kamu nggak niat ngasih 'kan?"


Yuno mengibaskan tangannya ke udara. "Ya nggaklah, aku kan pelit. Hahaha. Aku emang pingin dibeliin sepatu baru, makanya alasannya hilang."


Mendengar itu Rizal mengerutkan kening. Seperti tak percaya. Matanya menyipit, masih tidak puas dengan jawabannya Yuno.


"Suer!" Yuno berdiri, mencoba menyakinkan. "Oh ya, mumpung aku nggak latihan basket, hari ini mau aku ajarin taekwondo nggak?"


Mata Rizal membulat, dia sangat menyukai taekwondo. Namun karena biaya, bocah itu tidak bisa belajar secara resmi. Hanya bisa minta diajari Yuno secara diam-diam.


"Aku selesein ini bentar."


Dengan gerakan cepat Rizal menyapu halaman, sangat antusias jika sudah menyangkut soal bela diri. Beruntung memiliki teman seperti Yuno yang bersedia membagi ilmu dengannya.


"Habis belajar main ke warnet yuk?" ajak Yuno.


"Nggak mau lah, nanti Bundamu razia lagi kayak waktu itu."


Yuno mendengus kesal. Pasalnya Bunda sering mencarinya ke warnet. Ntah kenapa tempat itu menjadi terlarang untuknya. Padahal dia boleh menggunakan komputer di rumah, tapi soal ke warnet dilarang. Padahal baru beberapa waktu ini ada warnet di kota Metro.


Memang sih dia pernah melihat orang mojok di warnet, cewek cowok bercumbu. Tapi dia bukan anak yang seperti itu. Lagi pula, dia belum mengerti soal begituan.


Dua anak itu belajar taekwondo sampai sore, Yuno pamit pulang setelah mendengar azan ashar. Harus segera mandi dan mengaji di pondok pesantren dekat rumah. Jika terlambat dia bisa kena hukum.


Yuno mengayuh sepedanya dengan kencang, bemain dengan Rizal baginya selalu menyenangkan. Berbeda dengan teman-temannya di sekolah yang selalu memuji dan menganggapnya 'wah' dalam bidang apapun.


Rizal berbeda, dia bisa belajar mandiri dan kerja keras dari teman yang sudah seperti kakak itu.


Sepedanya terhenti ketika sebuah mobil hitam memotong jalannya dengan tiba-tiba. Yuno takut, dia mundur.


"Jangan takut, Nak. Kita cuma ingin sehelai rambutmu," ucap pria dengan tubuh kekar yang baru saja keluar dari mobil.


"Om ini penculik anak ya?" tanya Yuno sembari waspada.


"Tidak. Cuma ingin memastikan sesuatu saja."


Dua orang pria lagi keluar dari mobil, bersiap menangkapnya. Yuno semakin memundurkan sepeda. Ia ingat pesan Bunda dan Ayah. Jika ada orang yang mencurigakan harus segera kabur atau berteriak.


"Nggak mau, Om! Rambut saya berharga bagai emas!" Teriak Yuno, berharap ada orang yang dengar. Sayangnya dia berada di jalan sempit, menuju jalan besar. Kanan dan kiri sawah. Tak ada yang bisa menolongnya.


"Tenang, Nak. Cuma sehelai. Kami tidak akan menyakitimu." Mereka mendekat. Hendak meraih Yuno.


Bocah itu turun dari sepeda dan berbalik, hendak lari. Namun segera dijegal dua orang bertubuh besar. Semua gerakan taekwondo yang dia pelajari dikerahkan semua. Tapi tenaganya kalah kuat berkali kali lipat.


"Lepas! Tolong!" Yuno berteriak. Berharap ada orang yang mendengar.


Rambut Yuno berhasil diambil, setelah itu mereka melepaskan Yuno dan masuk ke dalam mobil lagi. Meninggalkan bocah itu dalam kebingungan.


Mobil berjalan menjauh, Yuno heran dengan yang dialami. Pasalnya adegan seperti ini setahu dia kemungkinan akan diculik lalu dijual. Tapi mereka benar-benar hanya mengambil sehelai rambut. Untuk apa?


Dengan rasa bingung Yuno mengambil sepedanya lagi dan pulang, ia harus menceritakan kejadian ini pada orang tuanya.


.


.


.


.


bersambung.