Unknown Baby

Unknown Baby
Rumah Sepi


Mata Myesha mengerjap, belum menjawab pertanyaan dari Faiq. Mandi barsama? Gadis itu berpikir sembari membayangkan mandi bersama berarti tanpa busana, pipinya merona merah.


"Nggak ah malu," jawab Myesha sembari menunduk.


Perlahan Faiq mengelus rambut gadis di sampingnya dengan penuh kasih sayang dan rayuan. Tentu saja, Faiq tak akan menyerah hanya karena kata malu.


"Nggak papa, Sha. Sekalian aku ajarin tentang reproduksi."


Kali ini Myesha membalas tatapan Faiq dengan kening berkerut, tak mengerti. "Kenapa belajar reproduksi sambil mandi?" tanyanya.


Faiq mengalihkan pandangan, bingung bagaimana mengibuli Myesha. Pikiran jahat yang ingin mencuri kesempatan dalam kebodohan terlintas begitu dahsyat.


"Biar lebih jelas, toh kita sudah halal. Kewajibanku ngasih tahu hal yang belum kamu tahu. Mau ya, Sha? Soalnya ini juga penting banget," rayu Faiq lagi.


Gadis itu berpikir, tatapan antusias dan senyum dari Faiq terasa meluluh lantahkan pertahanannya mengalahkan rasa malu. Toh, Faiq sudah pernah melihat gunungnya. Melihat yang lain sepertinya tak masalah. Mereka kan sudah halal. Tidak dosa. Lagi pula kata Faiq ini adalah pelajaran yang penting, bisa saja berguna untuk diajarkan ke anak mereka nanti.


Perlahan Myesha mengangguk, "iya mau."


Faiq ber-iyes ria dalam hati, akhirnya cicilannya sebentar lagi lunas dan tuntas. Dia bersyukur memiliki kemampuan merayu. Tak sulit merayu gadis sepolos Myesha.


"Mandinya di lantai atas atau bawah?" tanya Myesha. "Oh ya Yuno mana ya, kok sepi, tumben."


"Tadi pagi Ibu bilang mau ngajak Yuno belanja, nggak tahu sudah pulang atau belum. Biar aman mandinya di kamar atas aja ya."


"Tapi bajuku di bawah."


"Emang baju di lemari itu nggak ada?" tanya Faiq sembari menunjuk lemari pakaian di sampingnya.


Itu lemari milik Myesha, mereka menyimpan sebagian pakaian yang jarang dipakai di sana supaya lemari yang di kamar bawah muat.


"Di situ nggak ada daleman."


"Nggak usah pakai daleman, toh aku dah pernah liat."


Sejurus kemudian pundak Faiq dipukul Myesha dengan keras. "Orang tuamu masih di sini, Mas."


"Duh, sakit Sha. Aku kan cuma bercanda."


"Udah ah, aku mau ke kamar bawah ngambil daleman."


Myesha beranjak dari ranjang, ia memakai sandal rumah dan keluar dari kamar.


"Aku tunggu, jangan lama-lama," kata Faiq.


Bayangan tentang mandi bersama Myesha membuat Faiq tak bisa menahan senyum, akhirnya setelah detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah tiga bulan dia menahan nafsu akhirnya hari ini akan lepas juga.


Faiq membayangkan di bawah guyuran air dia dan Myesha melakukan hal iya-iya. Pastinya sangat menyenangkan. Ya walaupun dia akan menjaga supaya tidak hilang kendali dan mengambil keperawanan Myesha di kamar mandi. Tak etis jika melakukan pertama kali di kamar mandi. Jadi, setelah mandi saja mungkin. Dan mandi menjadi proses pemanasannya. Muehehehe, batin Faiq.


Sementara itu di lantai bawah tak ada seorang pun. Sepi. Sepertinya orang tua Faiq belum kembali. Myesha membenarkan kuciran rambutnya yang berantakan sembari berjalan ke luar. Ah, dia merindukan Yuno. Semalam tidak tidur dengan Yuno dan setengah hari ini dia juga tidak menggendong bayi imut itu.


Myesha membuka pintu depan. Mencari mobil bapak, mencoba memastikan mereka benar-benar belum pulang dari belanja. Memang mobilnya tidak ada.


Dari arah jalan seorang pria melambai padanya, anak lelaki Pak Burhan. Menyapa. Myesha membalas lambaian itu sembari tersenyum.


"Andre, semakin hari dia semakin aneh." Gumam Myesha lalu kembali ke dalam rumah dan menutup pintu.


Kembali ke kamar dan mengambil pakaian yang diperlukan. Lalu ke kamar mandi, mengambil handuk dan sabun tak lupa juga shampo.


Sebelum kembali ke kamar atas Myesha ke dapur untuk minum air putih, tenggorokannya terasa kering. Perutnya dari kemarin merasa tidak nyaman padahal sudah BAB.


Gadis itu menaiki tangga menuju lantai atas, tempat di mana Faiq berada dengan senyum cerahnya menyambut Myesha. Gadis itu mengabaikan Faiq dan berjalan menuju nakas. Menaruh kacamata dan kuciran rambutnya di sana.


"Mas, apa kamar mandinya nggak sempit kalo mandi berdua?" tanya Myesha sembari masuk ke kamar mandi dan meletakkan baju di besi atas. Tempat handuk.


Faiq mengikuti masuk, "nggak kok, buktinya sekarang kita berdua di sini muat."


Myesha berbalik, menatap lekat wajah Faiq. Kamar mandi ini berukuran sedang, tidak luas dan tidak sempit. Lantainya keramik berwarna biru, ada wastafel, WC duduk di sampingnya dan sower. Myesha yang mendesain kamar mandi ini. Beda dengan kamar mandi di bawah tempat cuci baju yang memakai gayung.


"Ayo Sha, buka baju," kata Faiq antusias. Hatinya sangat berbunga-bunga saat ini. Ber-iyes ria terus menerus.


"Malu, Mas." Myesha masih enggan membuka bajunya. Ia memegangi dadanya.


"Yaudah aku duluan yang buka baju, habis itu kamu ya," ucap Faiq kemudian melepas kaosnya. Meletakkan kaos itu ke keranjang yang berada di pojokan. "Nah, gantian kamu buka."


Myesha masih ragu, kemudian memandang Faiq yang antusias terhadapnya. Perlahan dia membuka kancing bajunya dimulai dari yang paling atas.


.


.


.


Bersambung


Hiya hiya hiya aseeekkkk hahahahahaa mandinya lanjutin besok. Jangan lupa like, komen dan vote (๑•́ ₃ •̀๑) Nulis yang asik" butuh kata kiasan yang tepat biar gk kena sensor tp ttp asik bagi yang mudeng. Jadi ya, lanjut besok.