Unknown Baby

Unknown Baby
Mie + Telur


Myesha melihat wajahnya di cermin. Tetasan air menetes dari wajahnya yang baru dibasuh. Perlahan dia membuka handuknya, membersihan dadanya yang banyak bercak merah. Faiq menandai di banyak tempat. Pipinya merona merah, perasaan yang terbalas ternyata sangat menyenangkan.


Dunia terasa indah dan Myesha benar-benar merasa jatuh cinta sekarang.  Gadis itu segera keluar dari kamar mandi setelah memakai baju, kakinya masih sakit dan susah untuk berjalan.


Sementara itu Faiq memarahi si kucing oren yang memakan ayam bakarnya. Seperti kucing pada umumnya yang selalu menjawab jika sedang dimarahi. Membuat Faiq semakin emosi dan membuang kucing tak tahu harga ayam itu keluar rumah lewat jendela dapur. Pria itu mendesah berat. Tak ada makanan yang bisa dimakan saat ini.


Myesha menghampirinya, melihat Faiq sedang membersihkan ceceran bekas ayam bakar.


"Loh ayam bakarnya mana?" tanya Myesha.


"Udah dimakan si kucing oren. Nggak ada sayur nih, nggak ada nasi juga, apa malam ini kita bakal kelaperan?"


"Nggak usah drama deh, Mas. Tinggal beli mie instan sama telur di warung sebelah kok repot."


"Hahaha ... iya deh iya aku pergi sekarang."


Suara Yuno menangis terdengar, "yaudah cepetan aku mau ngasih Yuno susu dulu."


"Ok."


Faiq keluar dari rumah setelah mengambil uang sepuluh ribu dari dompetnya. Kemudian meraih ponsel yang berada di atas nakas. Menutup kembali pintu rumahnya setelah keluar. Langit gelap. Sepertinya akan hujan.


Ketika keluar dari gerbang rumahnya tak sengaja bertepatan dengan terbukanya gerbang rumah mewah yang berada di depan rumahnya.  Seorang pria separuh baya keluar dari sana.


"Selamat malam, Pak Burhan." Sapa Faiq ramah.


"Hmm ... malam."


Sifat tetangga depan rumahnya itu sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Anti sosial dan terkenal sombong. Wajar orang kaya, kata orang-orang.


Ternyata Pak Burhan juga menuju mini market tempat Riki bekerja. Faiq tak mengajak ngobrol lagi dan mereka hanya saling diam.


Mengenai Riki, setelah kejadian kejar-kejaran di sawah waktu itu setiap Faiq membahas CCTV, Riki mendadak amnesia.


"CCTV apa? Kamu siapa? Aku siapa? Ini di mana?"


Terus seperti itu dan membuat Faiq tak berdaya untuk bertanya lebih lanjut. Dia hanya bisa pasrah dan menyerahkan penyelidikan Riki kepada Dito.


"Yang rasa ayam bawang habis ya, De?" tanya Faiq setelah tak mendapati mie instan kesukaannya.


"Udah habis, belum kulak lagi," jawab Bude Lisna. Penjaga toko selain Riki.


Faiq mengambil dua mie instan rasa kari dan juga mengambil dua butir telur sebelum menuju kasir.


"Riki mana?" pertanyaan Pak Burhan mampu Faiq dengar.


"Dia libur, istrinya melahirkan."


"Tidak profesional, yang melahirkan kan istrinya kenapa dia yang libur. Tolong beritahu Riki untuk segera menghubungi saya." Kata Pak Burhan lalu pergi meninggalkan mini market.


Faiq segera ke kasir dan membiarkan Bude Lisna menghitung barang belanjaannya.


"Kemarin. Ini total 8 ribu." Bude Lisna menyodorkan sekantong plastik. 


Faiq mengeluarkan uang sepuluh ribu. Dan diberikan kembalian permen.


Ah, dia paling benci diberikan kembalian permen. Giginya bisa rusak. Tetapi karena tidak ada uang dua ribu maka mau tidak mau Faiq menerimanya.


"Aku pulang dulu."


"Iya."


Selama jalan pulang Faiq melihat rumah besar di depan rumahnya. Dia tidak terlalu mengenal Pak Burhan, yang dia tahu hanya Pak Burhan memiliki dua anak. Laki-laki dan perempuan. Tetapi selama ini dia belum pernah berjumpa. Mereka orang yang terlanjur kaya, sangat jarang berbaur.


Faiq mendesah berat kemudian masuk ke dalam rumah, terlihat Myesha sedang menimang Yuno. Bayi itu mulai terlelap lagi. 


"Punggungmu emang nggak sakit gendong Yuno?" tanya Faiq.


"Nggak papa kok. Ini aku mau nidurin dia ke kamar habis itu masak mie."


"Nggak usah, aku aja yang masak mienya."


Faiq berlalu menuju dapur, ia mulai memanaskan air di panci. Kemudian meraih pisau dan telenan, kemudian ke kulkas mengambil cabai. Perlahan dia mengiris cabai.


Sementara itu Myesha menidurkan Yuno kembali ke dalam box bayi. Ia mengganti botol susu dengan dot biru favorit bayi mungil itu.


Perlahan menutup pintu kamar dan menuju dapur, ia mendapati punggung Faiq yang lebar membelakanginya. Pria itu sedang fokus memasak mie.


"Perlu aku bantu nggak, Mas?" tanya Myesha sembari mendekat.


Faiq berbalik dan mengambil kursi, "silakan Nyonya Alamsyah duduk, mie instan ala chef Faiq segera siap."


Myesha tertawa mendapatnya perlakuan seperti itu, ia menurut duduk dan menyangga dagunya ke meja. Mengamati Faiq yang sedang menyiapkan mangkok.


Pria itu membawa panci berisi mie dan telur ke tengah meja, kemudian membuka tutupnya hingga asap mengepul keluar. Makan malam mereka siap.


"Sha, makan sepiring berdua kayaknya so sweet."


"Nggak, Mas. Laper kalo cuma sepiring. Langsung aja pakai pancinya, mangkoknya masukin lagi ke rak. Lumayan ngirit sabun buat nyuci."


"Yaudah itu juga so sweet, makan sepanci berdua."


.


.


.


Bersambung


Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip (╥_╥)