Unknown Baby

Unknown Baby
Sella


Sementara itu, di rumah Myesha sedang berkemas. Mereka berniat untuk segera pindah sebelum Ren datang mengambil Yuno. Rencananya untuk sementara mengungsi di rumah orang tua Faiq. Mereka pasti menyambut dengan tangan terbuka.


Faiq memberi tahu bahwa Bapak adalah tuan tanah, memiliki perkebunan sawit di Jambi. Mungkin, Faiq dan Myesha bisa tinggal di sana. Menjadi petani dan terhindar dari Ren.


Myesha kagum dengan Faiq yang tak ambil pusing tentang klinik dan karirnya sebagai dokter harus berhenti. Katanya tak apa, uang bisa dicari tapi orang terkasih akan selalu di hati. Dia tak masalah kehilangan pekerjaan asal bukan kehilangan keluarganya yang berharga.


Di tempat baru Myesha juga ingin mulai menggambar lagi. Sejak Pinea lahir dia semakin repot mengurus rumah sampai terpaksa hiatus. Tapi jika sudah begini mau tidak mau dia harus menggambar lagi demi menghasilkan uang.


"Sha, buatin teh. Sella dateng." Faiq membuka pintu kamar.


Myesha menoleh. "Iya, Mas." Baju yang akan dimasukkan koper terpaksa diletakkan. Myesha beranjak keluar kamar. Mengintip ke ruang tamu. Ada Sella sedang bicara serius dengan suaminya.


Dia ke dapur dan membuatkan dua cangkir teh. Berbeda dari sebelumnya, wajah Sella tampak kusut. Sahabat karib Faiq itu menahan tangis.


"Silakan diminum."


Myesha duduk di sebelah Faiq, dia memangku nampan.


"Jadi, kalian mau pindah?" tanya Sella dengan nada suara tercekat. Ada tangis yang sepertinya tertahan.


"Experience is the best teacher, kau tidak perlu khawatir. Kami akan memulai di tempat baru dengan pengalaman yang baru." Faiq menjawab dengan tersenyum, tak ada nada gentar sama sekali.


Kali ini Sella menunduk, air matanya menetes. Saat direktur rumah sakit memecat Faiq, dia orang pertama yang protes. Tapi apa mau dikata. Direktur rumah sakit juga tidak bisa berbuat banyak selain memberi pesangon yang banyak. Dia tidak bisa mengambil resiko dengan menentang Presdir WterSun.


"Kenapa kayak gini? Apakah Yuno benar tidak mau ikut ayah kandungnya?" tanya Sella.


Berbeda dengan Faiq dan Myesha yang tenang, wanita itu terlihat kacau. Dari SMA selalu bersama Faiq, sampai kini mereka memiliki anak-anak pun disekolahkan di tempat yang sama, bekerja di rumah sakit yang sama. Sekarang tiba-tiba sahabatnya itu akan pergi? Diusir demi anak angkat. Sella merasa ini tidak adil untuk keluarga Faiq.


"Yuno anak kami, tanpa kehadiran dia aku tidak mungkin menikah dengan Myesha dan memiliki kahfi dan Pinea. Dia anak yang berharga, jangankan rumah dan pekerjaan. Nyawa pun akan kami korbankan demi dia."


"Mas Faiq benar, kami tidak keberatan tinggal di hutan. Jadi petani. Memulai hidup baru. Asal bersama Yuno dan anak-anak."


Mendengar itu air mata Sella menetes, dia terharu dengan pengorbanan mereka sebagai orang tua. Tak membedakan anak kandung atau bukan. Mereka rela berkorban nyawa.


"Hati kalian terbuat dari apa sih?" tanya Sella dengan air mata yang terus menetes.


Myesha dan Faiq hanya tersenyum, bagi mereka tidak masalah sama sekali asal Yuno bahagia. Faiq mengambil tehnya, meniup pelan sebelum meminumnya.


"Besok aku akan membawa barang-barang ke Lampung timur. Rumah ini akan dikosongkan. Malam ini ayo makan malam bareng. Ajak anak dan suamimu. Ntah kapan kita ketemu lagi." Faiq menawarkan.


Sella mengangguk. "Iya, ayo makan malam bareng." Dia menghapus air matanya.


Terlalu memalukan terlihat lemah di depan dua orang kuat ini.


"Oh ya, barang-barangmu dari rumah sakit aku beresin. Tapi masih di rumah, nanti malem aku bawa sekalian."


Senyum terpaksa dibalut wajah sedih tampak dari Sella. Melihat sahabatnya baik-baik di kala sulit seperti menguatkannya. Dia tak boleh membuat Faiq sedih sementara mereka berusaha kuat.


"Assalamualaikum."


Pandangan semua orang melihat ke pintu, Yuno pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya kusut, masih memakai kaos olah raga. Membawa tas sekolah.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang bersamaan.


"Loh kok udah pulang? Katanya mau latihan?" tanya Myesha.


Yuno masuk ke dalam, mencium tangan tiga orang dewasa yang tengah duduk di ruang tamu itu.


"Disuruh istirahat, Bun. Aku ke atas dulu. Mau mandi."


"Iya, habis mandi langsung turun. Bunda panasin sayur."


"Aku masih kenyang. Nanti siang aja sekalian."


"Yaudah kalau gitu kamu istirahat, nanti makan siang Bunda panggil."


"Iya, Bun."


Wajah anak itu terlihat lesu, tidak semangat seperti biasanya. Terlihat ada beban di sana. Kenapa? Myesha bertanya dalam hati.


Kembali lagi ke obrolan dengan Sella. Mereka bercerita banyak hal. Tentang anak-anak yang tumbuh begitu cepat. Menjadi orang tua begitu banyak rintangan. Memiliki tanggung jawab terhadap keluarga.


Sella membuka aib Faiq yang dulu jatuh cinta dengan Myesha karena melihat wanita itu memakai handuk. Tawa menghiasi rumah itu. Mungkin, mereka berusaha menutupi luka di hati dan rasa tertekan dengan saling menguatkan memakai caranya masing-masing.


.


.


.


.


.


.


bersambung


jangan lupa vote ya