
Tangisan si bayi jabrik telah terganti dengan baju putih dan celana biru, tergantung di belakang pintu. Sepatu baru yang katanya untuk pertandingan basket tidak dipakai, rapi berada di rak sepatu. Meja makan kosong satu anggota, Pinea tidak lagi melihat gerbang untuk menunggu kakaknya pulang sekolah mengendarai sepeda.
Tangan lembut milik bayi yang Myesha temukan 12 tahun lalu telah pergi, dia bisa berjalan keluar rumah dan melepaskan genggaman tangannya. Berjalan menghampiri takdir yang harus anak itu jalani. Meninggalkan dalam kesedihan tiada ujung.
Sudah dua bulan Yuno pergi, tepat sehari sebelum pertandingan basket. Kamarnya kosong, tapi setiap hari tetap Myesha bersihkan. Bisa saja Yuno pulang dan menempatinya kembali. Itu harapannya.
Myesha duduk di kursi belajar Yuno, menyalakan lampunya. Dia mengambil buku asal. Ingin melihat goresan yang Yuno ukir di sana, mungkin dia bisa melihat tangan kecil anaknya lagi.
"Yuno pinter, tulisannya rapi. Di sekolah baru, apa kamu sudah dapat teman?" tanya Myesha, seolah Yuno ada di sampingnya.
Dia membuka lembaran kertas itu, mengamati setiap goresan yang Yuno ukir di sana.
Dulu, ketika pertama kali menemukan bayi di depan rumah dan dipaksa menikah karena difitnah. Tujuan hidup Myesha adalah menemukan orang tua kandung si bayi jabrik dan mengembalikan hidupnya.
Sekarang semua warga yang dulu menfitnah sudah tahu kebenaran tentang Yuno, orang tuanya dan orang tua Faiq juga tahu bahwa perkataan mereka 12 tahun lalu adalah benar.
Tapi, kenapa Myesha tidak merasa lega? Kenapa hatinya malah sakit? Seolah difitnah seumur hidup pun tak masalah asal bayi jabrik kesayangannya tetap bisa dia peluk.
Tetasan air matanya jatuh, membasahi buku Yuno. Memudarkan pena hitam yang menulis tentang pancasila.
"Unda, Bang Uno pan ulang?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Myesha menghapus air matanya, dia menoleh dan melihat Pinea. Anak yang bisa hadir akibat Yuno datang di hidupnya.
Usapan lembut Myesha berikan di rambut lebat Pinea. Berusaha tersenyum. "Doain Bang Yuno pulang secepatnya, ya?"
Batita itu mengangguk. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi kamar Yuno. Aroma abangnya itu masih tercium. Namun si pemilik ruangan ntah berada di mana dan sedang apa? Apakah baik-baik saja? Apakah makan dengan benar? Apakah bahagia? Tidak ada yang tahu.
Bukan hanya Myesha, tapi seluruh keluarga ini merindukan sosok Yuno. Terkadang mereka lupa bahwa kehadiran anak itu sudah tidak ada, menunggunya turun untuk makan bersama. Membuatkan makanan kesukaannya seolah Yuno masih bersama mereka.
"Pinea turun ya, main sama Bang Kahfi."
"Ina kangen Bang Uno, ngin main ma Bang Uno."
"Bunda juga kangen sama Bang Yuno. Sabar ya, Bang Yuno udah janji bakal pulang. Kita harus nunggu."
Sekali lagi batita itu mengangguk. "Ina mau ke epan, unggu Bang Uno ulang."
Tetesan air mata Myesha jatuh lagi, Pinea masih menganggap Yuno masih sekolah dan akan pulang seperti biasa menggunakan sepedanya. Tapi keadaan sekarang tidak seperti itu. Bisa melihat Yuno lagi terasa seperti mimpi.
Pinea berbalik, dia turun ke lantai satu dan menunggu Yuno di teras. Berharap Abangnya segera pulang dan menggendongnya seperti biasa. Myesha tidak punya kekuatan untuk mematahkan harapan putri kecilnya yang sedang merindu.
Dia mengembalikan buku Yuno ke tempat asal, tak sengaja melihat amplop berwarna putih di sana. Tertulis untuk Rizal. Mungkin itu surat untuk Rizal yang belum sempat Yuno berikan.
"Bunda mau pergi sebentar, Kahfi jagain rumah dan Pinea, ya?"
"Iya, Bun."
Motor Myesha keluarkan dari garasi, ia membuka gerbang dan keluar ke jalan raya. Menuju panti asuhan tempat sahabat Yuno berada.
Anak itu masih menyapu halaman panti, Myesha mengajaknya duduk di bawah pohon rambutan tempat biasa Yuno dan Rizal bercengkrama.
Langit cerah dengan sedikit awan. Cahaya silau memantul dari jendela panti. Udara sedikit panas tapi sejuk di bawah pohon rambutan.
"Ada kabar dari Yuno nggak, Bi?
Myesha menggeleng. Dia mengulurkan amplop yang tadi ditemukan. "Sepertinya ini buat kamu, mungkin Yuno tidak sempat kasih."
Rizal mengambilnya, dia membuka amplop itu dan membaca isinya hanya beberapa baris.
*Bang Rizal, aku tunggu kamu di WterSun Group*
Hanya singkat tapi Rizal mengerti artinya, dia tersenyum. Terlihat bersemangat dan harapan bisa bertemu lagi dengan sahabat yang tidak mengucapkan salam perpisahan itu akan terwujud.
"Bibi nggak usah khawatir, aku akan menjaga Yuno di masa depan."
Myesha mengangguk, ujung matanya berair. Ternyata tidak hanya keluarganya yang merindukan sosok Yuno, tapi juga orang lain.
"Kamu anak yang baik, ya."
.
.
.
.
.
bersambung.
Jangan lupa pencet like