
Faiq keluar rumah mengantar Pak Polisi sekaligus membukakan gerbang. Setelah insiden orang mencurigakan yang ingin mengambil rambut Yuno, kini gerbang rumah Faiq selalu digembok. Pagar juga ditanami beling dan kawat duri hingga tiga meter.
Setelah insiden itu Myesha menjadi overprotektif. Yuno tidak boleh jauh darinya, hal itu membuat Faiq takut tumbuh kembang Yuno terganggu. Maka dia memilih mengamankan rumah dengan menambah pagar dan menggembok gerbang.
Halaman rumahnya tidak begitu luas ataupun sempit, tapi cukup untuk batita itu bermain. Di rumah bagian belakang Faiq juga menanam pohon pisang. Walaupun sempit tapi Faiq memanfaatkannya dengan baik. Terkadang Yuno bermain di sana dan mencari hewan kecil yang tersembunyi seperti bekicot.
"Kalau ada informasi tentang orang itu, anda bisa langsung hubungi saya." Kata Pak Polisi sembari menuruni tangga kecil.
"Saya akan memberitahu jika ada hal yang mencurigakan," balas Faiq.
Mata pria itu tertuju kepada Yuno yang mengobrol dengan seorang anak yang pakaiannya lusuh. Keningnya berkerut karena gerbang di kunci. Tidak mungkin anak itu bisa masuk.
Belum Faiq bertanya dan menghampiri dua bocah itu Pak Polisi membuka suara duluan. "Dia anak yang terlantar, ayahnya pemabuk dan suka judi. Sekarang mendekam di penjara."
Faiq melihat ke samping, Pak polisi sedang menatap bocah itu dengan iba.
"Lalu kenapa bisa anak itu bersama anda?" tanyanya.
"Dia akan saya masukkan ke panti sosial, tidak mungkin anak sekecil itu bisa hidup seorang diri. Lihat, perbedaannya dengan anak anda begitu jauh."
Faiq memerhatikan bocah itu yang sedang bicara tak jelas dengan Yuno, dari segi pakaian saja sudah sangat mencolok. Yuno rapi dan terlihat tampan, seperti anak dari kalangan berada. Sekalipun anak angkat tapi Yuno mendapat kasih sayang melimpah dari orang sekitar. Jauh berbeda dengan anak yang kelihatannya sedang ketakutan itu.
"Semoga anak itu bisa diadopsi orang yang baik," ucap Faiq.
"Anda ingin mengadopsinya?" tanya Pak Polisi sembari berjalan beriringan dengan Faiq menuju mobil.
"Tentu tidak, sebentar lagi istri saya melahirkan. Saya tidak mungkin mengambil anak jika dirasa tidak mampu merawat."
Mendengar itu Pak Polisi hanya tersenyum. Dia menghampiri Yuno dan anak itu.
"Rijal sekarang sudah punya teman, ya?" tanya Pak Polisi sembari tersenyum.
Melihat ayahnya datang Yuno segera berlalu memeluk kaki Faiq, dengan sekali angkat Yuno berada di gendongan pria itu.
"Yuno punya teman baru?" tanya Faiq kepada bocah kecil itu.
Yuno menunjuk bocah yang ketakutan yang mendekat ke mobil. "Cu temen balu Uno."
Faiq mengelus kepala Yuno, gemas dengan bibir kecil yang senang mengoceh itu.
"Kami pergi dulu," ucap Pak Polisi setelah membukakan pintu untuk Rijal.
"Da Lical," ucap Yuno melambaikan tangan.
Gerbang dibuka, mobil polisi meninggalkan rumah Faiq. Sampai tak terlihat lagi Faiq baru menutup gerbang dan menguncinya kembali.
Tangannya meraih jari kecil Yuno, menuntunya masuk ke dalam rumah. "Yuno tadi main apa?"
"Uno ain mobilan, ayo Yah ain baleng." Ajak Yuno lagi.
"Ayok. Kita main bajak laut."
"Aciik." Yuno terlihat gembira. Bermain bersama Faiq selalu menjadi kesukaannya. Ayah yang selalu dia banggakan di depan teman-teman seumuran yang bisa ditemui di warung Yuriel.
Di dalam mereka disambut dengan pisang goreng, Yuno makan dengan lahab diselingi cerita dari dua neneknya. Memiliki keluarga utuh dan lengkap, tanpa ada ketakutan. Keinginan Archie untuk putranya Yuno telah terwujud.
Menyebrangi selat Sunda yang memisahkan antara pulau jawa dan sumatra. Di kota padat penduduk dan gedung pencakar langit. Ren membanting semua berkas di meja.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak sudi memiliki anak pungut!" Matanya melotot menantang Elja.
"Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memiliki anak!" Elja tak kalah berteriak. Dia juga frustasi akan keadaan ini.
Satu tahun lalu, Ren mengalami Azoospermia yang menyebabkanya sulit memiliki keturunan. Berbagai cara pengobatan sudah dia jalani tetapi hasilnya nihil.
"Apa kamu ingin aku mengandung anak dari pria lain dan mengakuinya anakmu?" tanya Elja menawarkan solusi.
Mendengar itu Ren semakin marah, kali ini laptopnya yang dibanting ke lantai. "Kau sudah gila? Untuk apa anak pria lain menjadi pewaris WterSun?!"
"Lalu bagaimana? Apa kau punya anak haram yang bisa dijadikan penerusmu? Selama ini kan kau suka gonta ganti simpanan."
Mendengar itu Ren berani menujukkan foto Archie yang ada di lacinya. Foto yang diambil dari CCTV. Terlihat Archie sedang hamil.
"Dia istri siri, mengandung anakku. Tapi sampai sekarang anak itu belum berhasil ditemukan," ungkap Ren.
Perlahan Elja mengambil foto itu, ada rasa cemburu di sana. Wanita lain berhasil mengandung anak Ren. Hal itu membuatnya muak. Akan tetapi sekarang tidak ada pilihan selain mempertahankan posisinya dan Ren dalam memimpin perusahaan.
"Aku yang akan mencari anak ini dan menyusun strategi supaya kelemahan kita tidak diketahui para pemegang saham." Elja mengambil foto itu, dia berbalik dan meninggalkan ruangan Ren yang sudah berantakan.
.
.
bersambung.
Jangan lupa dukung cerita ini lewat like, komen, vote dan share. Makasih.