Unknown Baby

Unknown Baby
Kopi


Lampu menyala terang, uap kopi mengepul meniupkan aroma kuat. Tiga hari ini Myesha dan Faiq berdiskusi setiap malam. Mencari tahu asal usul Yuno.


Papan telah dipasang dengan gambar para terduga beberapa hari yang lalu. Terlihat imut dan manis di sana. Tak nampak seorang kriminal sama sekali. Selain tiga terduga Faiq juga menambahkan gambar X yang artinya orang di luar mereka.


Tak menutup kemungkinan bahwa pelakunya adalah orang lain. Maka dari itu Faiq juga melebarkan penyelidikan.


"Hari ini kamu jadi nggak ikut arisan ibu-ibu?" tanya Faiq. Ia duduk di kursi depan papan.


Myesha mengambil cangkir kopinya, menyeruput ringan kopi itu sampai masuk ke tenggorokan. Kemudian matanya beralih pada Faiq sembari menggeleng.


"Aku nggak kuat kalau mereka nyindir soal kita, jadi besok niatnya aku bawa Yuno ke kosan Tina dan susi dulu. Coba akrapin mereka buat cari tahu."


"Ibu-ibu rumpi adalah CCTV berjalan, pasti ada banyak petunjuk dari mereka."


"Aku tahu, tapi coba Mas ada di tengah-tengah mereka kira-kira kuat atau nggak?"


Sejenak Faiq terdiam kemudian menggeleng. Memikirkannya saja membuat pria itu merinding. Kepalanya berdenyut lagi, lemas. Beberapa hari ini pemuda itu merasa tidak enak badan karena terlalu lelah.


"Udah malem, Sha. Tidur yuk." Faiq mengambil kopinya. Masih ada banyak, tenggorokannya sakit. Ia meletakkannya lagi tak jadi meminumnya.


Mereka masih belum menemukan petunjuk apapun yang terdapat di papan. Hanya informasi para terduga yang mereka ketahui.


Para elite local, pak RT dan pak lurah belum bisa dicari tahu motifnya jika mereka yang menjebak. Tak mudah mendekati mereka.


Tina dan Susi berusia 20 tahun. Tinggal di sebelah rumah selama 1 tahun 5 bulan. Belum ada informasi lebih selain wajah dan postur tubuh. Setahu Faiq Mereka juga memiliki pacar karena sering diantar jemput.


Riki berusia 21 tahun, penjaga mini market, suka merokok dan naik motor vespa. Gadis yang Faiq lihat beberapa hari yang lalu bukan pacar Riki yang Myesha lihat, di sini mereka tahu bahwa Riki suka gonta ganti pacar dan sex bebas.


Sementara X adalah orang yang tidak diketahui. Mereka masih mencari petunjuk. Myesha juga belum sempat membawa kalung Yuno ke toko mas.


Myesha menempelkan tangannya ke dahi Faiq, terlihat khawatir dengan keadaan pria itu. Ia terperanjat setelah mengetahui bahwa panas tubuh Faiq melebihi rata-rata.


"Ternyata Mas sakit," kata Myesha lagi. Sorot mata di balik kacamata hitam itu tampak khawatir.


"Hanya pusing sedikit, kamu tidak perlu cemas," jawab Faiq mengambil tangan Myesha yang berada di dahinya.


"Mana mungkin, demammu sangat tinggi, Mas. Ayo istirahat di kamar."


Myesha menarik tangan Faiq untuk segera turun ke lantai bawah, membuat laki-laki itu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengimbangi tinggi Myesha. Kepalanya semakin berdenyut dan terasa seluruh badan sakit semua.


"Cepat berbaring aku akan mengambilkan kompresan."


Gadis itu mendorong Faiq supaya berbaring di atas ranjang, kemudian mengambil selimut dan menutup sebagian tubuh pria itu.


Tak ada pilihan lain bagi Faiq selain menurut, kepalanya berdenyut dan badannya terasa sangat lemas sejak beberapa hari yang lalu. Walaupun merasa tidak enak badan tetapi dia abaikan. Hal itu karena rasa tanggung jawab untuk tidak meninggalkan pekerjaannya. Apalagi karena cuti beberapa waktu lalu membuat jadwal pasiennya menumpuk padat.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa like!