Unknown Baby

Unknown Baby
Motor


Malam semakin larut, walau malu akhirnya mereka berhutang bensin di warung yang tak jauh dari motor macet. Beruntung pemilik warung itu pernah menjadi pasien Faiq dan mengenalinya. Perjalanan dilanjutkan sampai rumah.


Sesampainya di rumah Tina menyambut mereka sembari menggendong Yuno yang menangis kencang. Myesha segera turun dari motor dan mengambil Yuno yang berada di gendongan Tina.


"Yuno demam, kalian kok lama banget," ucap Tina sembari memberikan Yuno ke Myesha. 


"Ini bakso buat kalian." Faiq memberikan dua bungkus bakso kepada Susi.


"Loh mana mobilnya katanya ngambil mobil?" tanya Susi.


"Oh iya ya mana mobilnya?" Faiq baru ingat tujuan awal mereka menitipkan Yuno untuk mengambil mobil. 


Ah, dia lupa.


"Yuno demam, gimana ini Mas?"


Sementara itu Myesha panik, suhu badan Yuno tinggi. Faiq mendekat, memegang tubuh bayi yang sedang menangis kencang itu.


"Tadi siang kamu jadi imunisasi?" tanya Faiq.


"Iya."


"Masuk ke rumah dulu." Ajak Faiq.


Faiq paham kenapa Yuno demam. Ia memeriksa suhu tubuh Yuno, 38 derajat. Bayi itu mengalami demam sedang.


"Buka semua baju Yuno dan nyalakan kipas angin, jaga suhu kamar ini tetap dingin." Kata Faiq lagi.


Myesha hanya bisa menuruti semua perintah dari Faiq. Dokter itu ke atas, ke ruang kerjanya untuk mengambil obat. Kemudian memberikan ibuprofen dalam takaran yang pas untuk bayi umur 2 bulan setengah.


"Yuno nggak kenapa-napa kan, Mas?" tanya Myesha dengan mata berkaca-kaca. Ia panik dan takut.


"Nggak papa, tenang aja. Oh ya aku mau ambil mobil dulu."


Faiq menoleh ke belakang, ingin meminta bantuan Susi atau Tina untuk mengambil mobil. Tetapi mereka berdua tak ada. Ia kembali melihat Myesha, tak mungkin bersama Myesha lagi karena keadaan Yuno yang tak bisa ditinggal.


Jika mobilnya dibiarkan maka bisa diambil orang jahat. Faiq keluar dari kamar. Matanya tertuju ke dapur setelah ada suara di sana. Ternyata Susi dan Tina sedang makan bakso bahkan memakai nasinya juga.


"Nanti habis makan salah satu dari kalian temenin ngambil mobil ya?"


Susi segera mengangkat tangannya, "aku aja yang nemenin."


Tina hanya melirik kemudian memakan baksonya lagi, menambah saos ke dalam mangkok.


Faiq kembali ke dalam, Myesha masih murung sembari menenangkan Yuno. Faiq mengusap kepala gadis itu.


"Nggak papa, habis imunisasi demam itu wajar."


"Tapi ... bukannya jaga Yuno kita malah asik main."


Untuk perihal itu Faiq juga merasa bersalah, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi. Faiq kembali keluar kamar.


Tina dan Susi sudah selesai makan dan mencuci piringnya. Setidaknya mereka tahu diri untuk mencuci piring itu. Faiq sudah menunggu di luar. Tak lama kemudian Susi muncul dengan wajah cerah.


"Ayo, Pak Dokter." Susi duduk diboncengan.


"Pak Dokter suka dari Kak Myesha dari apanya?" tanya Susi.


Udara semakin dingin, Susi menempelkan tubuhnya ke Faiq dan tanpa sungkan memegang perutnya.


"Dia cantik dan baik," jawab Faiq, masih memacu kendaraannya dengan sedang.


Jalanan sepi, hiruk pikuk penduduk Kota Metro masih berada di Metro pusat. Menikmati ulang tahun Kota Metro dengan kembang api yang cantik. Pesta rakyat terbesar di Kota Metro.


Susi semakin mempererat pegangannya, dadanya bahkan menempel di punggung Faiq.


"Aku juga cantik dan baik," ucap Susi menggoda.


Kali ini Faiq kesal, ingin sekali mendorong gadis genit itu supaya menjauh darinya. Setidaknya jangan menggesekkan dadanya seperti itu, Faiq malah langsung ingat pada dada Myesha ketika menyusui Yuno di rumah orang tuanya.


"Nggak usah pegangan kayak gitu, aku nggak ngebut." Protes Faiq supaya Susi menjaga jarak.


"Tapi aku takut jatuh. Oh ya, kalau Pak Dokter butuh curhat. Bisa kok dateng ke aku."


Susi semakin berani mempererat pegangannya di perut Faiq sampai membuat pemuda itu geli dan merinding. Apalagi tangan susi semakin berani turun ke bawah. Faiq segera menghalau tangan Susi dan menghempasnya. Mobilnya sudah terlihat, masih terparkir di depan alfa.


"Jaga sikapmu!" bentak Faiq.


"Ya kan aku cuma ...."


Belum Susi menyelesaikan bicaranya Faiq mengengas motor itu dengan kencang. Tak ingin mendengar apa yang akan diucapkan Susi.


"Akhh!"


Mendengar teriakan dari Susi, Faiq berhenti kemudian menoleh ke boncengan belakang. Susi tak ada di sana tetapi gadis itu berada di jalan aspal. Susi terjungkal.


"Ehh ...."


Faiq segera turun dari motor dan melihat keadaan Susi, gadis itu duduk di aspal dan mengusap kepala belakangnya yang berdenyut akibat jatuh di aspal.


"Dok, sakit. Tolongin." Susi mencoba meraih tangan Faiq.


"Nggak papa, jauh dari nyawa. Cepat bangun." Faiq berbalik. "Kamu pakai motor ini pulang, aku pakai mobil."


.


.


.


bersambung.


Hargailah cerita ini dengan cara vote. Biar semangat update. Walaupun ini cuma cerita sederhana tapi susah buatnya krn cerita ini lain dari yg lain.


kalau mau masuk ke gc ka umay sandinya jawaban dari pertanyaan di bawah ini.


Kapan Faiq jatuh cinta dengan Myesha?