
Setelah Sella keluar ruangan Faiq menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tertidur sejenak karena terlalu lelah. Walaupun sedang berada di rumah sakit akan tetapi suara tangisan Yuno masih terngiang di telinganya sampai sekarang.
Pintu diketuk, seorang gadis dengan jas pendek masuk ke ruangan Faiq. Ia membawa bungkusan plastik berwarna hitam.
"Dok, saya taruh sini ya pecelnya," ucap Cindy hati-hati.
"Makasih, Cin." Faiq merubah posisi duduknya menjadi tegak.
Gadis bernama Cindy itu pura-pura tersenyum sebelum berbalik, menjadi koas Faiq terasa menyebalkan. Selain Faiq yang killer soal pekerjaan, ia juga sering menyuruh koas seenaknya seperti membelikan pecel.
"Oh ya Cin, tolong ambilin minum juga ya," pinta Faiq sembari membuka bungkusan pecel.
"Baik, Dok." Cindy berjalan menuju galon air. Mengisi gelas plastik dengan air minum kemudian meletakkannya di meja Faiq.
"Apa ada perlu lagi Dok? Saya mau makan siang."
Faiq mengibaskan tangannya menyuruh Cindy keluar, "nggak ada."
"Kalau begitu saya permisi dulu, Dok."
Dalam hati Cindy mengumpat, malang nasibnya menjadi koas di sini dan bertugas di samping Faiq. Padahal awalnya dia sangat senang mengetahui bahwa Faiq si dokter gigi tampan yang akan membimbingnya. Tetapi seperti rumor yang beredar, Faiq killer, menyebalkan, dan jika kesal omongannya bisa sangat tajam dan menginjak nginjak harga diri lawan bicaranya. Hal menyelamatkan Faiq hanyalah ketampanannya.
Cindy keluar ruangan setelah berkali-kali mengumpat dalam hati. Menyumpahi Faiq dengan kalimat kotor yang hanya mampu dia dengar.
Sementara itu Faiq memakan pecelnya dengan lahap, ia tak ada tenaga ke kantin rumah sakit. Rasanya sangat mengantuk dan lelah.
Tadi malam pria itu pindahan, memindahkan meja kerja yang tadinya ada di kamar ke lantai atas. Memasang box bayi di samping tempat tidur.
"Masak kita tidur sekamar sih, Mas?" Protes Myesha tadi malam.
"Kalau begitu kamu mau bangun malam sendirian untuk mengurus bayi?"
Faiq tidak bisa lepas tanggung jawab walaupun ingin sekali kabur dari situasi ini, dia juga tidak tega membuat Myesha harus menanggung semua sendiri. Jadi sebisa mungkin Faiq akan berperan menyeleseikan masalah.
Pada akhirnya Myesha menurut untuk tinggal satu kamar demi menjaga si bayi, lagi pula selama beberapa hari ini mereka juga tinggal satu ranjang dan tidak ada apapun yang terjadi.
"Tapi Mas jangan macem-macem ya?" Myesha memperingatkan sembari menyilangkan tangannya di depan dada.
Dibalas sipitan mata oleh Faiq merendahkan, "selama kamu tidak telanjang di hadapanku maka tidak akan terjadi apapun."
Bukannya tidak nafsu ketika ada seorang gadis tidur di sebelah, tetapi Faiq bisa mengontrol diri. Dia punya etika, bahkan ketika berpacaran dia tidak akan melakukan hal lebih selain pegangan tangan.
Alasan pacaran pun simpel, dia hanya ingin bermain-main supaya tidak bosan. Toh, pada dasarnya bukan dia yang mengajak pacaran, tetapi para wanita yang mendekatinya duluan.
Faiq menghabiskan pecelnya. Kemudian membuang bungkus pecel ke tempat sampah yang berada di samping meja. Ia menenggak air putih yang tadi dihidangkan oleh Cindy sampai habis.
Matanya melirik ke jam dinding, hampir pukul satu siang. Dia membersihkan meja menggunakan tissu.
Sampai sore terhitung ada lima pasien yang Faiq tangani dengan berbagai keluhan yang berbeda. Sampai waktunya pulang Faiq buru-buru ke ruangan Sella untuk meminta catatan yang dijanjikan.
"Jangan sampai ketahuan kalau aku memberikan ini." Sella memperingatkan sembari menatap Faiq dengan serius.
"Kamu tenang saja, oh ya ... kamu bisa membayar hutangmu bulan depan."
Salinan catatan pasien Sella sudah ada di tangan Faiq. Malam ini juga dia akan menganalisa.
"Good. Ini baru namanya teman," ucap Sella senang. Hutang dua juta rupiah yang harusnya dibayar bulan ini bisa mundur sampai bulan depan.
"Aku pulang duluan, sampai ketemu besok."
Faiq memasukkan catatan itu ke tas kantornya yang berwarna hitam. Kemudian beranjak keluar dari ruangan Sella.
"Hati-hati."
Faiq berjalan menuju lobbi kemudian keluar dari rumah sakit menuju parkiran, mobilnya terpajang di sana mengarungi panas dan hujan. Faiq ingin membeli motor saja dan meninggalkan mobilnya di rumah. Tetapi masih sayang uang. Apalagi sekarang dia harus menghidupi Yuno dan Myesha untuk sementara.
Mobil avanza putih itu keluar dari rumah sakit, ia menengok ke kanan dan kiri sebelum memasuki jalan raya yang ramai.
Kemudian matanya tak sengaja melihat Riki berboncengan dengan seorang gadis dengan mesra.
"Daftar terduga." Gumam Faiq, ia teringat terduga nomor 3 si Riki penjaga mini market di samping rumah.
.
.
.
bersambung.
Jangan lupa votenya ya biar jariku yang lelah dan kriting gk sia-sia.
(๑-﹏-๑)