Unknown Baby

Unknown Baby
Pisang


Myesha menutup mulutnya menahan muntah. Ia hendak berdiri dari posisi duduknya di lantai, buru-buru Faiq memasukkan ularnya ke kandang. Takut dilihat Susi, itu ular khusus untuk Myesha jadi haram dilihat wanita lain.


Tak bisa menahan mual Myesha berlari ke kamar mandi dan muntah. Berusaha memuntahkan bisa ular yang tak sengaja tertelan.


Sementara itu Faiq masih duduk di kursi dengan perasaan bahagia. Ia mengacungkan jempol ke Susi. Berterimakasih atas pelajaran yang diberikan kepada istri polosnya.


"Saya juga bisa lo Dok kayak gitu. Bahkan lebih ahli," ucap Susi sembari mendekat. Mencoba menggoda Faiq yang masih duduk di sofa dan mengatur napasnya yang tadi hilang kendali.


"Tidak perlu, Myesha saja sudah cukup. Nanti aku akan membelikanmu bakso tanda terimakasih."


"Nggak usah repot-repot, tapi kalo maksa sekalian yang banyak ya, Dok."


Faiq mengacungkan jempol lagi tanda setuju. Kemudian berdiri, ia mengambil tas kerjanya dan masuk ke kamar mandi tempat Myesha berada. Walau kasihan tapi dalam hati dia merasa sangat senang memiliki istri pengertian dan perhatian seperti Myesha yang mampu melayaninya dengan baik. Gizinya terpenuhi dengan sempurna.


"Kamu nggak papa, 'kan Sha? Harusnya jangan ditelan."


"Nggak sengaja, nggak papa. Mas mandi aja sana sekalian bawa Yuno ke kamar."


Myesha mengibaskan tangannya menyuruh Faiq pergi. Setelah mengusap punggung istrinya Faiq menurut untuk membawa Yuno ke kamar.


"Ayah mandi dulu, kamu jangan rewel dan tetap anteng." Itu kalimat Faiq untuk Yuno sembari mengusap rambut Yuno yang berdiri tegak. Bayi itu masih memainkan kerincingan.


Dengan hati gembira Faiq mandi sembari membersihkan ularnya. Tak masalah jika harus menunggu seminggu lagi asalkan bisa seperti tadi dia sudah senang. Bukankah dia tidak banyak menuntut?


Sementara Myesha sedang muntah di kamar mandi dapur, Susi menghampirinya setelah mengambil ponsel.


"Wah Kakak hebat langsung praktek." Susi mengacungkan jempol.


"Kan kamu yang ngajarin sampek kita habis pisang satu sisir."


Pisang kesukaannya yang akan digoreng malah jadi habis untuk pelajaran.


"Nggak akan habis banyak kalo nggak Kakak makan."


Myesha mengusap mulutnya setelah kumur, matanya merah. Dia melepas kacamata dan mengusapnya dengan tangan. Hampir memuntahkan semua isi perutnya.


"Tapi kayaknya Mas Faiq udah nggak sedih lagi. Aku seneng walaupun harus berkorban."


"Dih bucin."


Selama pernikahan Faiq sudah menahan banyak hal, bahkan saat iya-iya pun juga selalu saja ada halangan. Tak ingin melihat suaminya murung lagi Myesha berinisiatif mencari cara alternatif dengan bertanya kepada Susi.


"Ya sudah aku pulang dulu, kalau butuh diajarin lagi bilang aja ke aku. Koleksi video iya-iya ku banyak. Berbagai macem genre, tinggal pilih."


"Makasih," ucap Myesha sembari memakai kecamatanya lagi.


Susi keluar dari kamar mandi, langsung berjalan cepat menuju pintu depan dan keluar. Di jalan dia bertemu dengan Andre yang sedari tadi mengintai.


"Loh kenapa kamu di sini?" tanya Susi.


Mereka berada di jalan, tepat di depan rumah Faiq.


"Cuma lewat, kamu sendiri ngapain di rumah mereka?".


"Ooh aku tadi habis ngajarin Kak Myesha ngelayanin suaminya walaupun lagi datang bulan. Trus waktu balik lagi ngambil HP yang ketinggalan ternyata mereka langsung praktek. Nggak nyangka sih mereka polos banget."


"Hah? Jadi Myesha sekarang udah nggak perawan?" tanya Andre terkejut.


"Iyalah, mereka kan sudah punya anak. Masak kamu nggak tahu. Anak mereka namanya Yuno, imut banget."


Saat itu juga hati Andre hancur berkeping keping. Padahal dia pikir masih ada kesempatan mendapatkan Myesha, tapi rencananya malah gagal total. Mungkin Faiq sudah tahu sisi cantik gadis itu dan memanfaatkan keadaan. Andre tidak bisa menerimanya. Dia akan menjadikan Faiq target selanjutnya untuk dibasmi.


****


Makan malam di rumah bercat coklat terlihat meriah. Myesha bersusah payah memasak hidangan yang lumayan bisa dimakan dengan normal setelah melalui banyak percobaan. Seharian ini dia terus berada di dapur menyiapkan hidangan untuk hari spesial.


"Tumben masak banyak," ucap Faiq setelah duduk di kursi meja makan.


Ia mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk. Memakan satu suapan ayam goreng.


"Iyalah, hari ini kan ulang tahunku." Myesha menjawab dengan ceria.


Seketika itu juga Faiq tersedak. Dia tidak tahu bahwa Myesha hari ini ulang tahun. Ia mengambil air putih dan meminumnya.


"Mas nggak lupa, 'kan?" tanya Myesha.


Faiq menelan ludah, gugup. Padahal Myesha sudah berbuat banyak untuk membuatnya senang. Bahkan mau berguru pada Susi dan menyenangkan ularnya. Tapi dia malah melupakan ulang tahun istrinya itu. Sungguh terlalu.


Melihat tatapan penuh harap dari Myesha membuatnya tak tega bilang bahwa sebenernya dia tidak tahu bahwa Myesha ulang tahun. Pantas saja beberapa waktu lalu Myesha ingin ke pantai, ternyata ada hari spesial. Sungguh dia tidak peka dan malah mempermasalahkan uang yang tidak cukup. Faiq merasa dirinya menjadi suami laknat!


"Em ... Tentu aja aku inget. Ini mau ngambil kuemu. Habis makan ya sayang aku ambil pesanan kue."


"Kalau kadonya mana?" tanya Myesha lagi. Penuh harap.


Selama bertahun tahun dia ingin merayakan hari ulang tahun dengan seseorang. Setelah hidup dengan Faiq, Myesha yakin bahwa ulang tahunnya yang ke 24 ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukankah Faiq sangat menyayanginya? Pasti pria itu sudah menyiapkan kado istimewa.


Kado? Faiq bahkan tidak menyiapkan apapun!


"Nanti sekalian ngambil kue ya."


Mati ngeri, apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin membuat Myesha kecewa.


Sementara Myesha sedang berbaik sangka, Faiq malah merasa mati rasa. Otaknya berputar 180 derajat mencari cara supaya tidak membuat Myesha kecewa.


"Aku ngambil kuenya dulu ya," ucap Faiq. Hanya makan beberapa suap.


Myesha mengangguk penuh harap. Akhirnya dia bisa merayakan ulang tahun dengan orang tercinta.


Faiq meraih kunci mobil, buru-buru keluar rumah. Ia menggigit bibir bawahnya. Gugup. Di mana dia harus mencari kue malam-malam begini? lalu kado apa yang harus diberikan? Ahk! Otaknya serasa mau meledak.


.


.


.


Bersambung


Lop lop buat para pembaca setia, makasih buat dukungannya.


(๑ơ ₃ ơ)♥