
Banyak pejalan kaki di sore hari seperti ini, Faiq memacu kendaraannya dengan pelan sampai melewati pasar pagi. Sawah terbentang luas di sisi kanan dan kiri.
Tadi sebelum berangkat Faiq sempat marah karena Myesha berdandan dan terlihat sangat cantik. Padahal mereka hanya akan ke bumi perkemahan atau biasa dikenal dengan Buper. Tetapi Myesha bersikeras untuk berdandan.
"Aku nggak rela Riki lihat kamu cantik, harusnya dandan buat di rumah aja, buat suami."
"Aku mau cantik buat diri sendiri nggak cuma buat Mas atau pun Riki. Aku kan culun dan buluk jadi sekali kali pingin cantik."
Sejak marah Myesha menjadi sedikit pembangkang, padahal biasanya dia selalu menurut apapun yang Faiq bilang. Ternyata wanita itu belum memaafkannya, masih saja membahas masalah culun dan buluk. Mungkin selamanya kalimat itu akan dibahas dan disebut terus menerus.
Khas emak-emak yang akan mengungkit semua masalah walaupun tidak berhubungan. Dan sekarang Myesha sudah terkena virus tersebut. Sial. Kesalahannya akan selalu dikenang padahal bukan pahlawan.
Mobil masih melaju di daerah Bantul yang tak jauh dari rumah, hanya setengah jam untuk sampai ke Buper. Pohon rindang di sisi kanan dan kiri serta hamparan sawah indah nan permai. Myesha membuka kaca mobil, hanya setengah karena takut angin kencang mengganggu pernapasan Yuno yang berada di gendongannya.
Dia pernah dua kali ke mari, yang pertama mengunjungi Fifi untuk memberinya uang. Adik tirinya itu pernah ikut kemah ke sini dan yang kedua Myesha hanya jalan-jalan sendiri.
"Istriku sayang, nanti nggak usah ikut keluar ya."
Myesha menoleh ke Faiq dengan tatapan penuh tanya.
"Kenapa?"
Karena kamu cantik, Riki nggak boleh lihat! Sebenarnya Faiq ingin berkata seperti itu tetapi pasti Myesha akan menolak.
Rambut diurai tanpa kacamata, bibir ranum menggoda. Tubuhnya wangi seakan mengajak untuk berdansa. Faiq tak rela ada yang menikmati pemandangan indah ini selain dirinya.
"Nanti Riki canggung kalau ada kamu, takutnya dia nggak jadi ngasih suratnya. Jadi kamu tunggu di mobil aja." Faiq berbohong.
Kali ini Myesha langsung menurut. Tak protes sedikitpun.
Mobil berhenti ketika melihat motor vespa milik Riki yang terparkir di samping jembatan gantung. Terakhir ke sini jembatan itu masih karatan, tetapi kini Faiq terkejut dengan perubahan jembatan yang dicat warna warni seperti pelangi, cantik.
"Aku turun dulu," ucap Faiq. Ia membuka pintu mobil dan berjalan mendekat ke arah Riki.
Pemuda itu masih duduk di motor vespanya. Tersenyum kecil ketika melihat Faiq. Rambutnya yang acak-acakan mendapat predikat keren dari pada remaja. Tetapi bagi Faiq, Riki lebih mirip itik yang terjebur di sawah.
"Lama banget sih, Bang."
"Kenapa juga cuma ngasih surat pake acara ke sini, padahal tinggal jalan kaki ke rumahku aja sampek."
"Aku takut dilihat Andre, nih suratnya."
"CCTV nya mana?"
"Aku nggak bakal ngasih CCTV nya, cukup surat itu aja. Maaf udah palsuin surat buat jebak kalian."
Faiq mengembuskan napas berat, ia menerima surat beramplop biru itu. Masih tersegel.
"Apa kamu kenal orang tua si bayi?" tanya Faiq lagi.
Riki menggeleng, "aku nggak bisa bantu lebih dari ini."
Sementara itu Myesha yang melihat surat sudah berada di tangan Faiq segera turun dari mobil. Dia berjalan cepat menghampiri mereka.
"Udah dapet kan suratnya?" tanya Myesha mendekat ke Faiq.
"Nggak usah pura-pura amnesia." Kata Faiq. Kesal.
"Beneran aku tanya ini siapa? Pacarmu ya, Bang?"
Faiq menampol kepala Riki, "pacar apaan? Dia istriku."
"Loh istri Abang kan Myesha, tunggu ... apa dia Myesha? Kok lebih cantik dari Nindy istriku?"
Sekali lagi Faiq menampol kepala Riki kemudian melangkah menutup pandangan pemuda itu terhadap Myesha menggunakan badan.
"Kucolok matamu kalau melihat Myesha lagi. Pulang sana!" perintah Faiq.
Tatapan Riki beralih ke Faiq, ia mengulurkan tangan, "minta ongkos."
Riki memang iklas membantu Faiq. Lebih tepatnya mengurangi beban hati karena menanggung semua rahasia mengenai di bayi. Tetapi saat ke sini bensinnya tinggal sedikit dan tak membawa uang.
Faiq berdecak, kemudian mengeluarkan uang 2 ribu ditaruh di tangan Riki.
"Bang, segini mah cuma dapet bensin setetes."
Faiq mengeluarkan uang 2 ribu lagi. "Tuh dua tetes."
"Parah, Sha suamimu pelit banget padahal aku udah bantuin kalian."
Myesha maju, kini berhadapan dengan Riki. "Mas nih, kalau ngasih jangan pelit kayak gitu."
Sembari menggendong Yuno, Myesha mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang 5 ribu. Riki menyipitkan mata melihat kepelitan suami istri itu.
"Kalian cocok banget!"
Sama-sama pelit! Riki mengantongi uang 9 ribu pemberian mereka. Kesal. Ia memutar motornya dan meninggalkan Faiq dan Myesha di Buper.
Melewati para anak muda yang pacaran di bawah pohon rindang, Riki memacu motor vespanya.
Sementara itu Faiq dan Myesha berhadapan. Menatap surat dengan amplop biru yang kini dipegang Faiq. Tak memedulikan kekesalan Riki sama sekali.
"Buka di sini?" tanya Faiq meminta pendapat.
Myesha mengangguk setuju, ia semakin mendekap kuat Yuno. Bayi itu masih anteng dengan dot birunya, tak tahu detak jantung kedua orang tua angkat yang menanti kebenaran tentang dirinya.
Segel amplop itu dibuka, menampilkan tulisan yang tak jauh lebih indah dari ceker ayam. Myesha melangkah berdiri di samping Faiq. Membaca isi surat itu bersama-sama.
.
.
.
.
Bersambung
Walaupun banyak cerita yang lebih bagus dari Unknown baby tapi kalian mau ngevote. makasih makasih makasih banget buat kalian yang mau merelakan poinnya demi ngevote cerita ini.