
Mie dalam panci mengeluarkan asap, tercium sempurna wangi sedap nan nikmat. Cocok untuk orang kelaparan. Myesha mengaduk mie itu dengan garpu, meniup kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Kok nggak pedes sama sekali ya, Mas. Tadi dikasih cabai, 'kan?" tanya Myesha sembari mengunyah mie itu.
"Dikasih tiga biji cabai, tapi isinya aku buang." Faiq ikut memakan mie itu menggunakan garpunya.
Myesha mengangkat sebelah bibirnya, memandang Faiq dengan sudut matanya yang menyipit. Kesal.
"Mending nggak usah dikasih cabai sekalian, Mas. Sama aja nggak ada rasa pedesnya." Protes gadis itu sembari memutar garpu di dalam panci. Mengambil mie.
"Lah, kamu kan suka cabai."
"Aku suka cabai karena pedas. Kalau nggak pedas ya nggak suka." Myesha memasukkan mie itu ke dalam mulut.
Mereka bergantian mengambil mie di dalam panci, tak ada adegan saling menarik mie menggunakan bibir. Faktanya perut lapar lebih utama dibanding menjadi sok romantis.
"Oh ya, istrinya Riki melahirkan, mungkin kamu bakal ketemu di posyandu. Kalau bisa kamu deketin dia buat cari info." Faiq mengunyah mienya.
"Ibu-ibu posyandu tu rempong banget, aku nggak nyaman di sana. Tapi aku usahain ikut gosip, sapa tau dapet info."
"Yuno udah lumayan besar, ajak ke pengajian setiap hari jumat. Cuma dua jam, habis pengajian setahuku ada arisan. Ikut juga."
"Arisan piring?"
"Bukan, tapi arisan mingguan."
"Oalah, tapi aku males banget mau ikut. Nggak tahu caranya ngegosip aku tuh."
"Cari di yt, tutorial menggosip." Faiq menyarankan sembari menyodorkan HP.
"Oh ya, ibu-ibu di posyandu pernah bilang soal olah raga malem. Aku nggak maksud. Banyak omongan mereka yang aku nggak paham." Myesha memakan mienya lagi.
Memang susah jika Myesha terlalu polos seperti ini, Faiq mendesah sembari mengunyah mienya. Sepertinya dia harus lebih bersabar. Bisa jadi jika dia langsung meminta malam pertama bukan tidak mungkin Myesha akan ketakutan melihat ularnya.
Nyicil dalam memulai malam pertama sepertinya bukan ide buruk. Myesha harus kenal dulu dengan ularnya, berteman akrab kemudian baru bisa jelajah bersama mencari surga dunia.
"Olah raga malem itu ...." Faiq menghentikan ucapannya. Ragu untuk memberitahu. Dia tidak bisa memilih kalimat yang tepat.
"Apa? Main basket?"
"Nah, itu seperti main basket. Seperti yang kita lakukan tadi."
"Apaan sih, aku nggak maksud. Kapan kita main basket."
"Ah sudahlah kapan-kapan aku jelasin, yang penting mulai sekarang aku juga akan ikut acara yasinan. Kayaknya kita bisa kena fitnah karena kurang berbaur sama masyarakat sini. Makanya bisa digosipin aneh-aneh."
Kini tinggal kuah yang tersisa di panci, mereka meminumnya bergantian dengan mengangkat panci tersebut menggunakan kain lap. Panci yang hanya menyisakan rasa hangat.
Faiq berjalan mengambil ceret dan gelas. Menuangkan lalu minum setelah itu mengisi air di gelas itu lagi dan memberikannya ke Myesha sebelum kembali duduk.
"Ada tamu kayaknya?"
"Siapa ya, Mas?"
Faiq mengangkat bahu tanda tak mengerti kemudian berjalan ke pintu depan disusul Myesha dari belakang. Pintu dibuka menampakkan keluarga besar Faiq dengan dandanan yang rapi.
"Assalamualaikum." Sapa mereka.
"Waalaikumsalam, loh ke sini kok nggak ngabarin dulu?" tanya Faiq sembari mencium tangan bapaknya.
"Iya, niatnya nggak ke sini, cuma pulang kondangan dari Pringsewu dan kemaleman." Bapak masuk ke dalam rumah dan langsung disambut ciuman tangan dari Myesha.
Para ibu Faiq masuk bergantian, lengkap dangan tas kondangan berisi makanan. Mereka memeluk Myesha.
"Yuno mana? Kangen sama cucu gembulku." Tanya ibu kandung Faiq.
"Ada di kamar, Bu. Sedang tidur."
Ibu kandung Faiq mengajak ketiga ibu Faiq yang lain untuk masuk ke dalam kamar menengok cucu mereka. Sementara Bapak duduk di sofa dan terlihat lelah.
"Aku ke dapur buatin minum dulu, ya." Ucap Myesha kepada Faiq. Pria itu mengangguk kemudian duduk bersama bapaknya di sofa.
Myesha tak tahu apa yang mereka obrolkan. Yang pasti saat ini gadis itu bingung karena tak memiliki makanan. Takut orang tua Faiq lapar. Ingin potong ayam tapi tidak punya ayam, tidak mungkin mereka memotong si oren untuk dihidangkan. Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. Warung Riki sudah tutup.
Tak lama kemudian Faiq masuk ke dapur, mendekat ke Myesha yang sedang membuat teh untuk lima orang.
"Sha, kamar depan kamu bersihin nggak?" tanya Faiq.
Myesha mengangguk, "Mas kita nggak ada makanan. Gimana?"
"Nggak papa, mereka udah makan kok, besok pagi kita ke pasar pagi buat belanja."
"Oh ya, Mas. Aku takut ibumu nyuruh aku nyusuin Yuno lagi." Kali ini Myesha memandang bola mata suaminya.
"Aku nggak rela kamu nyusuin Yuno, mending nyusuin aku."
"Ehh ...."
.
..
bersambung
Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip
(╥﹏╥)