Unknown Baby

Unknown Baby
Lelah


Malam itu Faiq sadar bahwa mereka telah menjadi orang tua. Yuno berharga, tak hanya bagi Myesha yang setiap hari merawatnya tetapi juga untuknya. Ia ikut merasa sakit melihat bayi mungil itu demam. Myesha juga tak tidur malam itu, mengurus Yuno yang rewel.


"Kamu tidur aja Mas di lantai atas. Besok kamu kan kerja," suruh Myesha.


Bukannya menurut, Faiq malah mengambil Yuno dari gendongan Myesha, ia gantian menenangkan bayi yang sedang demam itu.


"Kamu istirahat juga, gantian."


"Aku nggak papa. Emang udah tugas cewek ngurus anak."


Jawaban Myesha membuat Faiq menggeleng, merasa bahwa pikiran Myesha itu tidak benar. Ia masih menimang Yuno sekalipun sekarang hampir jam 12 malam.


"Namanya jadi orang tua itu nggak ada tugas cewek atau cowok. Semua setara."


Kalimat itu terasa menghangatkan hati Myesha, ia sadar bahwa rasa sayang ke Yuno tak hanya dia sendiri yang merasakan. Tetapi Faiq juga. Mereka peduli dengan bayi mungil itu.


Betapa beruntungnya bayi itu, walaupun tak mengetahui orang tua kandungnya tetapi mendapat kasih sayang mereka. Myesha iri sekaligus senang, Yuno tak mengalami seperti dirinya.


Melihat Faiq menimang Yuno dengan penuh kasih sayang seperti putra kandungnya, terlihat pemandangan yang hangat. Apakah ayahnya juga seperti itu ketika dia masih bayi? Ah, pertanyaan itu muncul begitu saja.


"Aku buatkan kopi, kayaknya malam ini kita harus begadang." Kata Myesha.


"Iya," jawab Faiq tanpa melihat ke arah gadis yang meninggalkan kamar.


Ia menuju dapur dan membuat dua cangkir kopi. Saat itu Myesha berpikir. Andai Yuno diberikan kepada orang yang belum dewasa maka apa jadinya. Dia sudah pantas memasuki usia pernikahan, dalam artian siap mengasuh anak. Begitu juga Faiq, pria itu sudah mapan dan siap secara mental dan finansial.


"Kopinya aku taruh sini." Kata Myesha menaruh kopi di meja. Ia menyingkirkan perlengkapan Yuno.


Barang-barang bayi itu sungguh mendominasi kamar. Sebenarnya ada tiga kamar di rumah ini. Pertama kamar Faiq, lalu kamar tamu di samping ruang tamu, lalu kamar di lantai atas.


Jam 3 pagi Yuno baru bisa tidur, begitupun mereka. Ketiduran di ranjang bertiga. Bahkan setelah solat subuh mereka tidur lagi sampai jam 7 pagi. 


"Ya ampun telat." Panik Faiq setelah melihat jam dinding.


Kamar sudah seperti kapal pecah, bahkan Faiq pecinta kebersihan tak sadar sejak kapan kamarnya menjadi kandang yang mirip kamar Myesha. Ia melewati barang yang berserakan dan langsung masuk ke kamar mandi.


Yuno terbangun, bayi itu menangis lagi. Myesha hanya mengucir rambutnya asal dan menggendong bayi itu. 


"Maaf ya, Mas. Aku nggak bisa buat sarapan." Myesha masih menenangkan Yuno yang menangis sementara Faiq memakai kemejanya setelah mandi ala bebek.


"Nggak papa, nanti aku beli sarapan di depan RS. Kamu beli aja bubur di warung Riki. Kalau demam Yuno nggak membaik bawa aja ke RS tempat aku kerja."


Faiq meraih jas putihnya, melewati barang yang berserakan lagi dan keluar kamar. Buru-buru memakai sepatu.


"Sha, aku pakai motormu ya?"


Myesha keluar kamar. Lingkaran matanya semakin jelas. Tak ada jawaban dari Faiq, pria itu melesat pergi.


Rumah begitu berantakan, ia tak masalah. Tapi Faiq pencinta kebersihan pasti tidak nyaman. Myesha membawa Yuno ke dapur. Ia lapar. Ah, semua nasinya dimakan Susi dan Tina tadi malam. Akhirnya dia membawa Yuno ke mini market samping rumah.


"Loh Riki ke mana? Biasanya dia yang jaga."


Myesha mengambil sebungkus bubur, dua ikat kacang panjang, gula putih, teh dan cabai merah.


"Dia katanya sakit, ini totalnya 36 ribu."


Myesha memberikan uang tersebut ke penjaga toko perempuan. Dibanding Riki, wanita di hadapannya jarang dia temui.


Setelah membayar Myesha pergi. Yuno masih rewel jika tidak digendong. Badan gadis itu terasa remuk. Benar-benar repot. Ia tahu merawat bayi memang sangat merepotkan tetapi dalam keadaan bayi sakit, rasa lelah itu bisa menjadi berlipat lipat.


"Tidur ya tidur, aku pingin makan dan beresin rumah." Myesha menimang Yuno. Berusaha menidurkan bayi itu.


Dia harus membuat ayunan. Setidaknya itu akan membantu menenangkan bayi. Punggungnya terasa ingin copot. Sudah hampir jam sembilan tapi dia belum sarapan dan membereskan rumah. Yuno masih saja rewel. Dia lelah, sangat sangat lelah.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia melihatnya. Itu nomor Dhamar. Matanya yang terkantuk langsung melotot.


"Hallo."


"Hallo Mye, minggu besok aku ke Bandar Lampung. Ketemuan di sana yuk. Aku udah lama nggak liat kamu. Kabar kamu baik 'kan?"


"Kabarku?" Tidak. Kabar Myesha hampir kehilangan semua tenaganya.


"Tentu, minggu besok kita ketemuan. Ada hal yang ingin aku omongin."


"Oke, dah dulu ya. Aku cuma mau ngabarin itu."


"Iya."


Sama seperti dulu, Dhamar memang tidak ada basa basinya. Langsung ke inti. Myesha melihat ke kaca. Wajahnya sangat buluk dan tak terurus. Ia melihat Yuno yang hampir tertidur. Gadis itu akan menuntaskan perasaannya minggu depan. Mengungkapkan rasa cinta yang terpendam selama bertahun-tahun.


.


.


.


Bersambung.


Aku lagi nggak enak badan gengs, tapi ttp aku usahain up. Hargailah dengan cara vote. >_<