
Anak di bawah umur dilarang baca part ini!
Bulan bersinar terang malam ini, suara azan isya terdengar satu jam yang lalu. Mereka tak bisa solat berjamaah karena Yuno. Bayi itu harus dijaga bergantian. Setelah solat Faiq duduk di ranjang, masih memakai sarung. Matanya membaca buku, menunggu Myesha menidurkan Yuno.
Setelah jam 9 bayi itu tidur nyenyak dengan dot berwarna biru yang berada di mulut. Masih berada dalam dekapan Myesha.
"Yuno udah tidur belum?" tanya Faiq.
"Udah," jawab Myesha sembari berjalan ke box bayi. Meletakkan Yuno di sana dengan hati-hati.
"Sha, cini peyuk Mamas."
Mendengar itu Myesha tertawa, geli. Ia berbalik melihat Faiq.
"Dih apaan sih, Mas. Geli tau."
"Manja-manjaan sama istri bolehlah. Cini cini peyuk, Mamas pingin nyusu."
Perkataan Faiq membuat Myesha semakin geli bahkan merinding, senyumnya semakin lebar dan menahan tawa supaya Yuno tidak bangun.
"Idih geli sumpah."
"Ayolah cini cayang, kita anu-anu malam pertama."
"Dih nggak romantis! Kalo di film tuh ya si cowok romantis, gendong si cewek sampek kasur. Si cewek pakai lingeria trus si cowok pakai kemeja putih keren."
Myesha melihat dirinya sendiri, memakai daster batik seharga 35 ribu. Ringan dan mudah dicuci. Sementara Faiq memakai sarung dan kaos. Sama sekali tidak ada nilai so sweetnya.
"Tumben kamu mudeng gituan, biasanya polos."
"Aku kan belajar lewat nonton film."
"Apapun pakaiannya yang penting kan isinya. Udah cepet sini, kita sayang-sayangan dulu."
Myesha tak bisa menahan tawa, Faiq romantis dengan cara gasreknya. Walaupun begitu Myesha suka dengan sisi humor dari pria itu. Dia naik ke ranjang, duduk di samping Faiq dan menyandarkan punggungnya.
"Cini lebih deket dong. Kan Mamas mau ngusel-ngusel."
"Ihh aku geli!" Myesha tak bisa berhenti tertawa.
"Coba panggil yang so sweet gitu, Mamas cayang." Suruh Faiq.
"Ogah ah! Geli banget ya ampun." Myesha tak bisa menahan perasaan gemas itu.
Acara malam pertama yang biasanya membuat deg deg ser dan panas pun berubah menjadi panggung stand up comedy.
Faiq mendekat, meraih lengan gadis itu. Dia sungguh-sungguh nempel seperti anak kucing.
"Sha," panggilnya halus.
"Apa?"
"Anu-anu yuk."
"Ya hayuk loh."
"Lepas dastermu dong. Bau apek nih."
"Loh apa iya, kayaknya ini gara-gara kemaren hujan nggak kering."
Myesha melepas dasternya yang bau apek. Menyisakan dalaman dengan gunung yang sebagian keluar dari bungkus. Ia menarik selimut. Menutupi tubuhnya yang dingin.
"Cini peyuk, Mamas." Faiq melebarkan tangannya sembari tersenyum lebar.
Myesha merasa olah raga wajah, tak bisa berhenti tersenyum lebar dengan tingkah Faiq. Ia berhambur datang ke dekapan Pria itu. Merasakan detak jantung pria yang telah ijab kabul atas namanya. Tak menyangka ia menikahi si pemilik rumah.
Mereka berbaring, Faiq melepaskan sarungnya. Kaos itu juga lepas dari tubuh. Menyisakan hal yang sama dengan Myesha.
Menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. Faiq menatap gadis yang dia ajak berpetualang mengarungi kehidupan rumah tangga.
Tanpa kacamata, bola mata indah milik Myesha terlihat bersinar. Faiq menyentuh mata Myesha.
"Pandangan ini, aku ingin hanya tertuju padaku," ucap Faiq mencoba menggombal.
"Jangan, Mas. Nanti aku kesandung."
"Gimana aku makannya? Ntar kalo aku kelaparan mati."
"Yaelah, Sha. Aku ini masih coba romantis loh."
Kali ini Faiq yang tertawa. Sulit menggombali gadis seperti Myesha. Sudahlah menyerah saja. Percumah.
"Terlalu hanyak basa basi Mas tuh."
Myesha mencium duluan. Tak sabar. Hanya sekilas dan sangat cepat tapi membuat Faiq terpaku. Dengan gerakan cepat Faiq mencium Myesha kembali, terus menuntut.
Tangannya berjalan-jalan ria. Menyusuri lembah dan mendaki bukit. Berputar di area itu. Faiq menyurusi indahnya bukit dengan bibirnya, melepas bungkus yang menghalangi keindahan alam liar.
Tangannya semakin ke bawah, menyusuri pegunungan gundul. Mencoba mendatangkan hujan di gunung itu, supaya gua yang akan ditempati si ular menjadi basah dan lebih nyaman.
Myesha hanya meracau tak jelas, yang pasti dia suka. Dia ingin. Dan dia menikmati. Faiq mencium Myesha lagi, kemudian menatap bola matanya meminta persetujuan. Si ular berdemo meminta lepas dari kandang, menginginkan rumah yang lain. Rumah yang nyaman untuk menyeburkan bisanya.
Myesha mengangguk. Mengijinkan apapun yang Faiq ingin lakukan. Hasratnya sudah diujung tanduk. Sesuatu yang mereka tunggu sejak lama. Hari ini, mereka akan menjadi pasangan suami istri normal.
"Tahan ya, Sha. Agak sedikit sakit." Kata Faiq.
"Iya." Myesha sudah menyiapkan mental untuk itu.
Tetapi ketika kepala ular hendak masuk dalam gua. Baru sedikit, seolah mengintip. Si pemilik gua mendorong Faiq. Walau tenaganya tak menggoyahkan dada bidang pria itu sama sekali.
"Sakit." Katanya.
"Baru pucuk, Sha. Tahan."
Dengan menahan napas Myesha membiarkan si kepala ular masuk lagi. Lebih dalam. Rasa sakit Myesha tahan sekuat tenaga dengan memeluk Faiq, menacapkan kukunya menggores punggung pria itu. Tetapi ketika si ular masuk lebih dalam ia menemui pintu, tak bisa masuk. Sementara si pemilik gua semakin merasa sakit.
Matanya berkaca-kaca. Faiq mengusap air mata yang menetes itu. Cakaran di punggung Faiq terasa nyeri dan berdarah, dari tadi pria itu menahannya. Myesha saja mau menahan sakit untuknya, dia juga harus berbagi rasa sakit.
Si pemilik gua membiarkan sang ular masuk ke dalam area rumah barunya. Rumah tetap si ular. Tetapi hambatan si ular semakin sulit, ada pintu di dalam gua yang menghalanginya masuk.
"Maaf," ucap Faiq sembari mencium bibir Myesha. Menahan gadis itu supaya tak mendorongnya.
Sekarang atau besok sama saja. Si ular harus mendobrak pintu. Dengan ancang-ancang dan hentakan keras si ular berhasil mendobrak pintu. Menyisakan rasa sakit luar biasa kepada si pemilik gua. Tanpa sadar Myesha menggigit bibir Faiq untuk mengurangi sakit.
Gadis itu menangis, menahan sakit ketika si ular dengan santainya berada di gua. Diam di sana seolah tak mengerti rasa sakit yang Myesha tanggung.
Ciuman lembut dari Faiq sedikit mengalihkan perhatian Myesha, seolah wanita itu menikmatinya. Padahal air matanya terus menetes. Faiq berhenti mencium. Ia menghapus air mata istrinya lagi. Bibirnya berdarah akibat gigitan Myesha.
"Sakit banget ya?" tanya Faiq.
Ular itu masih diam di gua, tak berani beranjak sedikitpun. Takut si pemilik gua kesakitan kalau dia bergerak.
Myesha mengangguk, air matanya menetes.
"Kita berhenti di sini aja ya?" tanya Faiq lagi, tak tega.
"Tapi Mas belum--"
"Nggak papa. Besok lagi masih bisa."
Hari ini si ular cukup dengan melihat dan berdiam diri di gua. Belum saatnya dia mengobrak abrik isi gua dengan tingkahnya. Kasihan si pemilik gua. Si ular keluar setelah pamitan. Diberikan oleh-oleh lumuran darah oleh si pemilik gua. Tanda perkenalan katanya, sekarang boleh datang kembali kapanpun si ular mau.
Faiq menutup tubuh Myesha menggunakan selimut. Kemudian mengusap bibirnya yang berdarah. Myesha juga merasa sakit dan berdarah sama sepertinya. Sella tak memberi tahu bahwa di malam pertama kuku sang istri harus dipotong lebih dulu, sekarang punggung Faiq terasa perih.
.
.
.
.
Bersambung
Gue masih perawan buat ginian 😓 Astagfirullahalazim otak polos gue ilang 😭
Rayakan penjebolan Faiq dengan vote yg banyak ya gengs. Lop lop buat kalian.