
Berjalan cukup jauh dengan kaki telanjang membuat telapak kaki Faiq terluka, dokter gigi itu mengobati lukanya di ruang kerja setelah solat magrib.
"Mas, makan bakso yuk." Kata Myesha ketika membuka pintu.
Mendengar itu membuat Faiq menutup botol obat merah dan memasukkannya laci.
"Duluan aja, aku masih ada kerjaan."
"Oke."
Myesha kembali turun ke bawah, memanaskan kuah bakso yang dia beli tadi siang. Sementara Faiq membuka ponselnya, mencari nomor Dito detektif yang dikenalkan Sella. Mereka berbicara cukup lama membahas masalah Riki. Hingga pada kesimpulan bahwa Dito akan menyelidiki Riki lebih lanjut.
Pukul delapan Faiq selesai dan turun ke lantai bawah menuju dapur. Dilihat dari samping Myesha sangat cantik, menyibakkan rambutnya ke samping dan melepas kacamatanya, gadis itu meniup kuah bakso dan memakannya.
Ia ingat perkataan Sella, harus sering-sering mencium Myesha supaya gadis itu terbiasa dengannya. Jantung Faiq berdebar. Membayangkan makan bakso satu mangkok dengan gadis itu lalu mienya dan bibir mereka menempel seperti di film india. Pasti romantis sekali.
Perlahan Faiq duduk di samping Myesha, gadis itu menoleh.
"Itu baksomu, Mas." Tunjuk Myesha ke bakso yang masih berada di bungkusan.
Masih menikmati bakso dengan nikmat, Myesha merasa terganggu karena Faiq terus memerhatikannya. Ia mengunyah bakso itu sembari melirik.
"Makan sepiring berdua kayaknya romantis," ucap Faiq sembari menggeser kursi Myesha supaya menghadapnya.
"Jangan, Mas. Nanti aku nggak kenyang, aku dah beli dua kok." Myesha menunjuk bakso untuk Faiq.
Faiq tak memedulikannya, di mata pria itu sekarang ingin melahap Myesha bulat-bulat.
Mata gadis itu melotot ketika Faiq memiringkan wajah dan semakin mendekat. Sembari terus mengunyah bakso yang berada di mulut Myesha memejamkan mata.
Ciuman itu datang, tepat dibibirnya. Memaksa masuk lebih dalam. Tangan Faiq memegang pinggang Myesha supaya menempel padanya. Tak lama, hanya beberapa menit Faiq melepas ciuman itu.
"Pedes! Air! Mana air!" Faiq kelabakan mencari air.
Ia meminum air di ceret. Rasa pedas sampai ke lidah dan tenggorokannya. Membuat matanya berkaca-kaca.
"Mas sih asal nyium, aku kan lagi makan bakso mercon."
Myesha kembali mengunyah, tak memedulikan Faiq yang mengeluarkan air mata akibat rasa pedas itu. Sejak kecil Faiq tak menyukai pedas, Myesha tahu betul akan hal itu karena memasak untuk Faiq setiap hari. Ia juga membelikan Faiq bakso biasa bukan bakso mercon sepertinya.
"Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Faiq. Ia mengibaskan tangannya ke udara mencoba mengurangi rasa pedas yang berada di lidah.
"Siapa suruh nyium tiba-tiba."
Tak memedulikan Faiq sama sekali, Myesha asik menghabiskan baksonya.
"Habis makan bakso bantu aku ambil mobil di depan alfa perempatan. Samping pasar pagi."
"Trus yang jaga Yuno siapa?"
"Yaudah deh, aku anter pake motor."
Myesha menghubungi Tina dan meminta gadis yang akhir-akhir ini akrab dengannya itu untuk ke rumah. Menjaga Yuno sementara.
Tak lama kemudian Tina datang dengan membawa laptop dan bersama Susi, sembari mengerjakan tugas katanya.
Setelah menghabiskan bakso Faiq membuka garasi, mengeluarkan motor matic Myesha yang terparkir di sana sejak lama.
"Jaga Yuno, jangan cuma nonton film. Apalagi nonton video iya-iya." Faiq memberi peringatan kepada dua gadis di depannya.
"Siap, Pak Dokter. Yuno aman."
Myesha duduk di boncengan, memegang pinggang Faiq. Baru pertama kali mereka berboncengan seperti ini. Jantung Myesha terasa berdebar. Apa punggung Faiq memang selebar ini? Myesha baru sadar.
Motor melaju meninggalkan rumah bercat coklat, melewati jalan aspal sempit sebelum berbelok ke kanan. Lurus menuju perempatan.
Angin menerbangkan helaian rambut Myesha, ia masih memegang suaminya dengan jantung berdebar. Sementara Faiq melihat ke bawah, tepat ke tangan Myesha yang memegang perutnya. Ia tak bisa menyembunyikan senyum yang mengembang.
Kendaraan berlalu lalang menuju Metro Pusat, ada pasar malam untuk merayakan hari jadi Kota Metro beberapa minggu ini.
"Sha, ke Metro fair yuk. Mumpung Yuno ada yang jaga." Ajak Faiq. Matanya masih fokus menghindari lubang jalan.
"Nanti kelamaan nggak? Ntah ngapa aku nggak terlalu percaya sama dua anak itu."
Suara Myesha agak keras karena angin yang kencang menyamarkan suaranya.
"Bentar aja, ini hari terakhir ada kembang api. Kamu suka gulali nggak?"
"Suka, yaudah bentar aja yuk. Aku juga udah lama nggak makan gulali."
"Iya, Sha. Sekalian kita pacaran."
Faiq tersenyum, hatinya merasa sangat senang saat ini. Mereka melewati pasar pagi dan mobil yang mereka tuju. Dengan memakai motor matic berwarna pink mereka menuju ke Metro pusat tempat di mana Metro Fair diadakan.
.
.
.
.
bersambung
Jangan lupa vote