Unknown Baby

Unknown Baby
Orang Tua


Faiq duduk, kemudian dia mencoba mengenalkan ularnya kepada Myesha. Awalnya Myesha takut dan menutup matanya. Bukan bodoh, tapi gadis itu merasa mual dan jijik. Dia baru pertama kali melihat hal seperti itu. Ular yang besar dan panjang.


"Hal seperti ini wajar karena laki-laki yang sudah puber selalu menghasilkan hormon testosteron, biasanya yang belum menikah bisa keluar lewat mimpi basah. Tetapi yang sudah menikah bisa mengeluarkan lewat berhubungan badan."


Myesha mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tak berani menatap Faiq. "Jangan dijelasin ah, aku malu."


Bukannya berhenti Faiq malah menelangkup wajah Myesha dengan dua tangannya. Memutar wajah itu supaya mau membalas tatapannya.


"Pelajaran seperti penting, sekarang aku suamimu, aku punya kewajiban untuk mengajarkan hal hal baik padamu. Apalagi polosmu nggak ketulungan. Jadi kamu bisa, 'kan dengerin aku untuk diajarkan kembali ke anak kita nanti?"


Melihat keseriusan dari sorot mata Faiq membuat Myesha mengangguk perlahan. Faiq melepaskan tangannya dari kedua pipi Myesha. Ia duduk tegak lagi.


"Seperti yang aku katakan tadi bahwa ini hal yang wajar. Tapi remaja puber jaman sekarang sudah terkontaminasi pornografi, mereka melakukan 'pemaksaan' supaya ini." Faiq menunjuk ularnya. "Keluar untuk mencapai kepuasan padahal seharusnya dikeluarkan lewat mimpi basah atau berhubungan badan, bahasa anak gaulnya 'main sendiri' hal seperti itu jika dilakukan terus menerus akan berbahaya."


"Lah kenapa bahaya, katanya wajar?" tanya Myesha.


"Pertama, pornografi bisa merusak sel saraf dan efeknya lebih parah dari kanker otak. Seperti narkoba, orang sekali lihat pornografi akan merasa kecanduan untuk terus melihat. Kamu lihat sendiri, 'kan kalau koleksi video iya iya Susi sangat banyak. Itu adalah bukti nyata kecanduan.


"Yang kedua, jika seseorang sering 'main sendiri' hal ini berlaku untuk pria ataupun wanita ya, itu akan berdampak pada beberapa hal dari mulai disfungsi seksual hingga infeksi.


"Dan asal kamu kamu Sha, keseringan 'main sendiri' akan merangsang fungsi saraf parasimpatik yang memproduksi hormon **** asetilkolin, dopamin, dan serotonin.


"Kalau seumpaman hormon ini jadi tinggi bisa menyebabkan kelenjar adrenal menghasilkan performa yang berlebihan dalam mengonversi dopamin-norepinefrin-epinefrin, sehingga terjadi perubahan besar zat-zat kimia di dalam tubuh.


"Efeknya jatuh pada kesehatan dan produktifitas diri. Bahaya banget, terutama buat remaja."


Myesha mendengarkan penjalasan dari Faiq, "untung aku nggak pernah main sendiri. Lagi pula dari dulu aku cuma anak rebahan yang hobi gambar."


"Tapi sekarang kan kamu sudah menjadi seorang ibu, pengetahuan seperti ini itu penting."


"Bukannya di sekolah bakal diajarin."


"Ini nih pemikiran yang salah. Orang tua menganggap bahwa anak yang sudah masuk usia sekolah menyerahkan semua kewajiban pendidikan anak pada guru. Padahal, guru utama bagi anak adalah orang tua.


"Kamu tahu alasanku males nikah?" tanya Faiq.


"Males berisik? Enak hidup sendiri? Males ngidupin orang lain? Nggak mau kayak bapakmu yang banyak istri?"


Faiq menggeleng, menepis semua jawaban dari Myesha.


"Menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk semua hal, mencari nafkah, melindungi keluarga." Faiq menunjuk dirinya sendiri sebagai kepala keluarga.


"Lalu ibu yang berperan besar menjadi madrasah pertama seorang anak." Faiq menunjuk Myesha. "Jangan anggap di sekolah itu diajarkan segalanya dan kamu bisa tak acuh. Anak itu selalu memiliki rasa ingin tahu, tugas orang tua adalah memberitahu lewat cara dan jalan yang baik biar anak nggak cari tahu sendiri dan salah arah."


Faiq melirik jam dinding sebelum melanjutkan ucapannya, kemudian menarik selimut supaya menutup sang ular dan bisanya. Lalu berpindah lagi ke Myesha.


"Nanti, kalau Yuno sudah SD kita harus kasih pengertian ke dia. Walaupun hal ini dianggap tabu tapi sebenarnya sangat penting. coba bayangkan, di saat kita lalai memberitahu hal ini karena malu dan malah nutup-nutupin karena dipikir anak masih kecil. Mereka bakal cari tahu sendiri, akhirnya tercemar pornografi. Trus ngamilin anak orang atau hamil di luar nikah. lalu ada lagi, karena efek pornografi yang merusak sel saraf tingkah anak itu jadi loyo, lemes, mageran, akhirnya dia gagal dalam hidupnya. Siapa yang salah karena nggak ngasih tau?"


"Orang tua." Jawab Myesha.


"Tepat."


Mendengar itu Myesha mendesah berat, menjadi orang tua ternyata tidak mudah. Dia pikir, cukup memberi makan sampai anak itu besar dan bisa mencari makan sendiri lalu berbakti padanya. Ternyata lebih rumit dari itu bahkan sangat rumit, seperti menjadi GPS bagi manusia. Orang tua berperan menunjukkan arah apakah seorang anak bisa tersesat atau tidak.


"Udah jam segini, Sha. Harus mandi suci, belum solat dzuhur."


"Aku dari pagi juga belum mandi, hari ini aku harus nyerahin ke editor episode terakhir dari Yusha Sang Pangeran."


"Kalau gitu kita mandi bareng yuk, Sha?"


.


.


.


.


Bersambung


Menurut kamu apa jawaban Myesha?


Tulis di kolom komentar ya.


Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip


(╥﹏╥)