Unknown Baby

Unknown Baby
Bakwan 2 Biji


Uap teh mengepul, selain Riki tak ada yang menyentuh hidangan. Yuno menguap beberapa kali, dia juga sudah tidak tertarik dengan mobilannya.


Myesha menimangnya sembari duduk, perlahan mata balita itu terpejam. Merasa aman dan nyaman berada di dalam dekapan wanita yang dia anggap ibu.


"Kami akan melindungi Yuno apapun yang terjadi, jadi biarkan Yuno bersama kami," ucap Myesha memohon. Dia tidak bisa kehilangan Yuno lagi.


Aslan mendesah berat, matanya melihat ke Yuno yang sekarang tertidur sembari memegang erat baju Myesha. Dia pikir Yuno akan lebih baik bersama keluarga kandungnya. Paman dan bibi yang asli, bukan orang asing yang tak ada hubungan darah sama sekali.


Tapi melihat kasih sayang Myesha dan keteguhan Faiq hatinya menjadi goyah. Mereka berdua benar-benar menganggap Yuno bagian dari keluarga. Memperlukan Yuno seperti anak kandung.


"Mungkin aku bisa membiarkan anak yang kalian namai Yuno ini tinggal bersama kalian, tapi ayahnya tidak mungkin membiarkan itu."


"Apa ayahnya sekarang tahu di mana Yuno? Sebenarnya apa yang terjadi sampai mereka berpisah?" tanya Faiq, meminta kejelasan.


Dari sana Aslan bercerita asal usul Yuno, dimulai dari kakaknya Archie yang seorang pegawai biasa jatuh cinta dengan Renold. Kisah cinta yang seperti dongeng.


Tapi sayang Renold harus menikah dengan Elja untuk memperkuat kedudukannya di WterSun. Renold dan Archie putus.


Tiga tahun setelah putus pertemuan kembali setelah Archie tak sengaja menjadi rekan bisnis. Hubungan intens mereka menimbulkan benih cinta yang kembali. Archie bersedia menjadi istri siri Ren demi cinta.


Hubungan gelap mereka diketahui Elja, wanita itu murka dan menghancurkan setiap hal yang berhubungan dengan Archie. Membunuh kedua orang tuanya dan mengincar Aslan juga.


"Benar kan lebih aman kalau Yuno bersama Bang Faiq, itu juga yang jadi tujuan almarhum Archie." Riki menyela cerita Aslan.


"Ibu kandung Yuno pasti sudah berpikir jauh kenapa memberikan Yuno pada kami bukan dirawat Mila. Ini juga demi keselamatan Yuno." Myesha mencoba meyakinkan lagi.


"Sekarang di mana Mila?" tanya Faiq.


"Dia di Malaysia," jawab Aslan.


"Lebih baik kamu kecoh ayah kandung Yuno, kalau kamu tertangkap katakan bahwa anaknya sudah meninggal. Dengan begitu Yuno akan aman." Faiq memberikan ide.


"Apa kau pikir dia orang bodoh?"


"Setidaknya kita sudah mencoba. Masyarakat tahu Yuno anak kandung kami, namanya ada di KK dan akte kelahiran juga sudah dibuat. Asal kamu tidak berhubungan dengan Yuno, semua akan berjalan normal dan satu lagi. Hancurkan CCTV yang satu-satunya menjadi bukti." Faiq mengoprasikan otak cerdasnya.


"Sebisa mungkin aku akan mencegah Renold tahu tentang Yuno. Tapi kalian harus berjanji satu hal."


"Apa itu?"


"Tentu, kami bahkan rela mengorbankan nyawa untuk Yuno," kata Myesha serius.


Kali ini Aslan mendekat, dia melipat kedua kakinya. Memandang Yuno yang terlelap dengan tidurnya. Mirip dengan sang kakak yang sudah tiada. Perlahan dia mengecup kening Yuno. Mengusap rambut lebat yang sudah tidak jabrik lagi.


"Jaga dia, Yuno adalah harta keluarga kami satu-satunya."


"Tentu, kami akan membesarkan Yuno dengan baik." Faiq melihat kasih sayang yang begitu besar dari sorot matanya.


Hatinya tak tega namun dia lega karena bisa mempertahankan Yuno di sisinya. Bahkan asal usul Yuno kini juga sudah jelas.


Faiq berjanji akan menjaga Yuno dan membesarkannya dengan sepenuh hati, jika suatu hari nanti Yuno sudah besar dia akan memberitahu kebenaran tentang asal usulnya.


Bagaimana pun Yuno berhak tahu orang tua kandungnya, sekalian minta warisan. Itu hak Yuno jika dia menginginkannya. Namun Faiq akan membesarkan Yuno menjadi anak yang tidak tamak akan kekuasaan dan kekayaan seperti ayah kandungnya yang rela mengorbankan cinta demi tahta.


"Aku akan kembali ke Malaysia menyusul Mila." Aslan berdiri, dia mengambil tasnya.


"Tapi ini sudah malam," ucap Myesha khawatir. Mendengar itu Aslan tersenyum.


"Ternyata idolaku sangat baik hati. Tidak perlu khawatir, subuh nanti aku akan menaiki kapal yang langsung menuju malaysia."


"Kami tidak khawatir," gumam Faiq.


Sekali lagi Aslan mendesah berat sembari memakai topinya. Ia mengambil teh jatahnya di meja dan meminumnya sekali teguk. Tak lupa bakwannya dia mengambil dua buah. Untuk ganjal perut.


"Aku akan mengirim email ke Riki sesampainya di Malaysia." Aslan tersenyum ke mereka semua. Kali ini sangat bersahabat.


Mereka berpisah malam itu dengan kesepakatan yang sudah ditentukan. Yuno tetap bersama Faiq dan Myesha.


.


.


.


bersambung


jangan lupa like, komen, vote dan share