Unknown Baby

Unknown Baby
Kamar Atas


Ketika Myesha mengantarkan teh ke ruang tamu, bapak sudah tertidur di sofa. Faiq menyuruh untuk meletakkannya saja di meja dan melihat kondisi Yuno.


Myesha menurut dan masuk ke dalam kamar, melihat para ibu mertua mereka menimang Yuno yang ternyata bangun karena suara berisik.


"Kok jalanmu begitu? Kamu sakit, Mye?" tanya ibu Faiq nomor 2.


"Tadi sore aku hampir kebegal di Tri Kora, Bu. Untung Mas Faiq nolongin."


"Tapi kamu nggak papa, 'kan? Gimana ceritanya kok bisa dibegal?" tanya ibu kandung Faiq sembari mendekat, mengecek badan mantunya itu.


"Nggak papa kok, Bu. Udah diobati sama Mas Faiq. Tadi ada urusan di Bandar Lampung dan helm ku ilang makanya lewat Tri Kora."


"Mana aja yang luka?" tanya ibu Faiq nomor 1 yang saat ini sedang menggendong Yuno.


"Banyak yang luka, hampir seluruh tubuhku rasanya sakit." Myesha duduk di ranjang.


Diikuti ibu kandung Faiq, "coba ibu lihat."


Ibu Faiq membuka kemeja Myesha dan menemukan banyak bercak merah di sana. Myesha buru-buru menutup kemeja itu kembali.


"Dasar begal kurang ajar, sampai dadamu luka kayak gitu."


"Anu itu ...."


Myesha menghentikan ucapannya, tak mungkin dia memberitahu bahwa itu ulah Faiq. Malu.


"Akhirnya begal itu gimana? Udah ditangkep polisi atau belum?" tanya ibu Faiq nomor 3.


"Udah kok, Bu. Nggak perlu khawatir."


"Kalau gitu berarti pas kita ke sini. Malam ini biar Yuno sama kita. Kamu bisa tidur di kamar lain sama Faiq. Istirahat biar cepet sembuh dan jangan olah raga malem." Ibu kandung Faiq memberi saran.


Olah raga malam? Faiq berkata bahwa tadi mereka sudah olah raga malam ketika makan. Walaupun Myesha tak paham olah raga bagian mananya. Mungkin, ketika menghajar begal. Faiq mengeluarkan banyak keringat dan dia juga olah raga hati karena menangis dan ketakutan.


"Aku udah olah raga malem kok, Bu."


"Masih sempet ya olah raga malem padahal habis kena begal, dasar Faiq nggak tahu sikon. Yaudah kamu pasti capek. Tidur sana, biar Yuno kita urus."


"Ibu-ibu kan juga habis perjalanan jauh pasti capek. Nggak papa. Biar aku yang jaga Yuno, di lantai atas ada kamar, sama di samping ruang tamu juga ada kamar, silakan kalian istirahat." Saran Myesha hendak mengambil Yuno.


"Kami ini kangen sama Yuno, udah kamu istirahat aja sana." Ibu kandung Faiq bersikeras.


"Iya kamu tidur saja sana." Kali ini ibu nomor 1 bersuara.


Tak ada pilihan bagi Myesha, mereka bersikeras. Lagi pula, memang badannya sakit dan ingin beristirahat.


"Yaudah kalau gitu, makasih ya, Bu. Oh ya, aku udah buat teh di meja depan."


"Iya, nanti kami minum."


Myesha meninggalkan kamar dan berjalan ke arah Faiq yang masih duduk di sofa sembari memainkan ponsel.


"Yaudah kamu tidur aja di lantai atas, yuk aku temenin."


Mereka ke kamar atas, badan lelah itu didampingi Faiq. Myesha melihat langit kamarnya. Ia menempelkan bintang-bintang di atap. Sudah lama dia tidak tidur di kamar atas. Kamarnya dulu sebelum menikah dengan Faiq.


Sementara itu Faiq mengulurkan tangan, Myesha menoleh ke samping. Mencoba mencari tahu kenapa pria itu mengulurkan tangan padanya.


"Nyicil lagi, kita belum pernah pegangan tangan sambil tidur, 'kan?"


Mendengar itu Myesha tersenyum kemudian mengambil uluran tangan Faiq, membalas genggaman itu erat-erat.


"Bundaku pernah bilang kalau suatu hari Bunda sehat beliau akan mengajakku ke pantai. Tapi keadaan bunda semakin buruk dan meninggal."


Myesha mengingat kembali kenangan terakhirnya dengan ibu kandungnya. Kenangan yang semakin memudar.


"Ibu kandungmu seperti apa?" tanya Faiq mengikuti arah pandangan Myesha.


"Bundaku cantik, rambutnya panjang dan senyumnya manis. Hanya itu yang aku ingat, tapi perasaan hangat waktu Bunda mengusap rambutku sebelum tidur masih terasa sampai sekarang."


"Apa seperti ini?" Faiq duduk kemudian mengusap rambut Myesha dengan tangan kanannya.


"Mirip, para ibumu baik semua ya, aku iri."


Faiq terus mengusap rambut Myesha, "sekarang kan mereka juga ibumu. Jadi kamu tidak perlu iri." Kecupan melayang di dahi gadis itu.


"Tetap saja Mas sudah tumbuh dengan baik dalam perawatan mereka, berbeda denganku."


"Aku juga akan merawatmu mulai sekarang, kamu ingin ke pantai? Nanti kalau sudah gajian kita ke pantai ya?"


"Oh ya uang dari begal lumayan Mas, bisa buat main ke pantai."


"Hari kamis tanggal merah, kita ke pantai pakai uang dari begal." Saran Faiq.


Myesha memejamkan mata sembari mengangguk, mencoba meraih dunia mimpi. Berharap bertemu dengan ibunya walaupun hanya sekali. Dia rindu.


Tetapi harapan itu tidak menjadi kenyataan, hingga azan subuh Myesha hanya tidur tidak bermimpi sama sekali. Sementara Faiq sudah keluar rumah. Ia mendengar suara kucing oren yang meraung raung sejak semalam.


Ia menemukan kucing itu penuh luka, seperti habis dipukuli seseorang. Ia ingat melempar si oren dengan hati-hati jadi tidak mungkin luka. Kemudian matanya ke depan, tampat kucing oren masuk, ia melihat gerbang rumah Pak Burhan terbuka.


.


.


.


bersambung


Nggak setiap hari aku ketawa, tapi aku berusaha buat orang ketawa tiap hari. Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip.