Unknown Baby

Unknown Baby
Bukan


Bagi Myesha, keluarga adalah segalanya. Melihat anak-anak mereka bermain, bercerita dan akur. Pinea yang berusia 3 tahun sangat senang bermain dengan kedua kakaknya. Selalu membanggakan dua kakak laki-laki yang selalu melindungi.


Tidak ada perbedaan antara Yuno dengan kedua anak kandungnya, dia dan Faiq memperlakukan sama. Sebagai tiga bersaudara, Yuno menjadi kakak tertua. Dia pikir, anak itu bisa selalu bersama keluarga kecil ini sampai mereka tua.


Rintik hujan dengan suara tangis Yuno yang pertama kali Myesha dengar masih teringat sampai sekarang, pertama kalinya menggendong bayi kecil dengan pipi merah, pertama kalinya dia bahagia ketika Yuno membuka mata dan melihatnya.


Saat Yuno berhasil merangkak dan tumbuh gigi, Myesha sangat senang hingga menciumi bayi jabrik kesayangannya berkali kali. Ketika Yuno berhasil berjalan, Myesha sangat gembira dan bangga. Perasaan tulus yang mengalir tanpa henti selama 12 tahun.


Myesha menggeleng, air matanya jatuh ke meja makan. Berhadapan dengan Faiq. "Aku nggak bisa."


"Ini sudah waktunya Yuno tahu jati dirinya. Apalagi mereka sudah mendapatkan DNA Yuno, cepat atau lambat mereka akan datang ke sini."


"Kita bisa pindah rumah dan sembunyikan Yuno."


"Sha, itu bukan pilihan terbaik. Kita berdosa jika bohong terus menerus."


Mengatakan bahwa Yuno bukan anak kandungnya terasa nyeri di dada. Anak itu terlihat gembira bercanda dengan dua adiknya di ruang tengah. Bagaimana bisa Myesha membuat keceriaan itu pudar?


Myesha menggeleng, dia belum sanggup. 12 tahun membesarkan Yuno, anak itu menganggapnya ibu yang telah melahirkannya. Kepercayaan bahwa Yuno darah daging mereka. Apa jadinya jika Yuno tahu bahwa mereka tak terikat hubungan darah sama sekali?


Perlahan Faiq meraih tangan Myesha, mengusapnya lembut. Tatapannya mengatakan bahwa ini saat yang tepat. Dari pada Yuno tahu dari orang lain lebih baik dari mereka sendiri.


Faktanya orang tua kandung Yuno orang kaya raya. Jika Yuno menginginkan bersama mereka itu sudah menjadi haknya. Tak bisa apapun karena Yuno sudah cukup paham untuk memutuskan. Faiq percaya dengan didikkannya terhadap Yuno selama ini, anak itu pasti memberi keputusan yang bijak.


Faiq beranjak, meninggalkan Myesha menuju ruang tengah tempat anak-anaknya bermain. Berusaha bersikap biasa saja dan menghabiskan waktu dengan ketiga anaknya dengan gembira.


Ketika tadi setelah magrib Yuno memberitahu kejadian yang baru dialami. Sebenarnya tubuh Faiq bergetar, dia tahu bahwa suatu hari nanti akan mengalami hal ini. Diberi waktu sampai 12 tahun saja rasanya sudah seperti keajaiban.


"Bang Yuno, nanti temui Ayah sama Bunda di ruang tamu ya. Bang Kahfi cepat tidur, besok sekolah." Faiq memberi tahu setelah melihat jam. Pukul 9 malam.


"Mau ngomong apa, Yah?" tanya Yuno. Dia paham ada sesuatu yang akan disampaikan.


"Nanti nunggu Dek Pinea tidur." Faiq mengangkat putri kecilnya itu. Membawa ke kamarnya.


Pinea belum bisa tidur sendiri, padahal kamar tamu di samping ruang tengah sudah dihias cantik. Namun batita itu masih penakut.


"Bang, PR ku belum dikoreksi." Kahfi berdiri.


"Ayo koreksi dulu." Yuno mengajak Kahfi ke lantai atas.


Setelah Pinea tidur, Myesha dan Faiq menunggu Yuno di ruang tamu. Hening, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak lama kemudian suara Yuno turun dari lantai dua terdengar.


"Yah, kalau liburan mending ke Lembah Hijau, kata temenku di sana ada ikan besar. Aku pingin liat." Yuno mengatakannya sembari duduk.


Mendengar itu Myesha mengalihkan wajah, tak ingin Yuno melihat air sudut matanya.


"Kamu pingin ke sana?" tanya Faiq. Mencoba tersenyum. Hatinya pun terasa sakit.


Yuno mengangguk, dia semangat dan antusias. "Nanti ya Yah, setelah pertandingan basket, awal bulan besok."


"Apapun yang kamu inginin, ayo." Kali ini Myesha bisa memandang anak kesayangannya itu.


"Yuno, Ayah dan Bunda sangat menyayangimu." Faiq memulai inti dari pembicaraan. "Kamu anak kebanggaan kami. Setiap yang kamu lakukan Ayah dan Bunda selalu menyertai dalam doa."


Yuno terdiam, ada yang aneh dengan kedua orang tuanya saat ini. Anak itu tahu bahwa Ayah dan Bunda sangat menyanyanginya. Tapi tidak pernah bicara seserius ini.


"Apa yang sebenarnya ingin Ayah katakan?" tanya Yuno langsung ke intinya.


"Kamu bukan anak kandung kami. Ceritanya panjang. Tapi kami menyanyangi dan berharap kamu terus bersama Ayah dan Bunda sampai hari tua."


"Hahaha Ayah bohong, 'kan?" Yuno tak percaya. Menganggap bahwa ini adalah lelucon.


Namun, kenyataan berkata lain. Myesha memberikan barang Yuno ketika anak itu masih bayi yang dia simpan selama 12 tahun. Menceritakan asal usulnya, paman kandungnya, ibunya yang sudah meninggal dan juga ayah kandung yang sedang mencarinya. Tak ada yang mereka tutupi satupun.


Malam itu terasa kelam untuk Yuno, dia mengunci pintu kamarnya. Memegang kalung berinisial, surat dari ibu kandung dan selimut bayi.


Bocah 12 tahun itu menenggelamkan wajah di antara lutut, air matanya menetes. Masih tidak ingin memercayai semua yang dikatakan Faiq dan Myesha. Berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk.


.


.


.


..


bersambung.


aku usahain up tiap hari. Jangan lupa votenya gengs.