
Bola basket dilempar, masuk ke ring dengan sempurna. Yuno mengelap keringat yang bercucuran. Dia berlari ke teman-teman segrup. berbagi minuman di pinggir lapangan.
Dua hari lagi pertandingan yang sangat dinantikan, Yuriel melambai padanya di antara para siswi perempuan.
Rambut dikucir dua, wajahnya tersenyum cerah. Yuno berlari menghampirinya. Sahabatnya dari masih batita hingga sekarang. Cinta pertama dan semoga menjaga pacar pertamanya juga.
"Ada apa?" tanya Yuno.
"Nyontek PR matematika dong. Habis istirahat harus dikumpul. Aku belum selesai."
"Anjim, kirain mau ngasih makanan kek buat nyemangatin."
Yuriel memukul lengan Yuno. "Halah, kayak nggak kenal aku aja. Nggak mungkin aku traktir kamu."
Benar, apa yang bisa Yuno harapkan dari temannya yang hobi makan gratisan. Bahkan PR pun dari jaman TK selalu mencotek dia. Pernah juga dia memberi contekan ketika ujian. Pasalnya Yuriel begitu bodoh sampai selalu peringkat paling bawah. Heran, seberapa parah otaknya itu.
Selain ke Yuriel, tak pernah Yuno memberi contekan. Sampai satu kelas hafal dan menjuluki mereka pacaran. Perlahan, Yuno sadar bahwa dia ada rasa sayang terhadap sahabat karibnya itu. Keinginan untuk menunjukkannya pun semakin kuat.
"Ambil sendiri di tas. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Jangan deket-deket Sandy."
"Kenapa Sandy? Dia utang 20 ribu sama aku. Kalau aku ngehindari dia nanti dia nggak bayar utang."
Apa itu cara baru untuk mendekati cewek? Duh, Yuno tidak tahu sama sekali. Besok dia harus utang ke Yuriel 50 ribu supaya dia terikat juga.
Bel masuk berbunyi dengan nyaring, anak-anak yang berada di sekitar lapangan segera masuk ke kelas masing-masing.
"Cepet suruh bayar, oh ya aku nggak masuk kelas. Nanti kamu sekalian kumpulin PR ku ya."
"Iya. Latihan sana. Tanding besok jangan sampai kalah." Yuriel melambai sampai rambutnya bergoyang.
Anak kelas 1 SMP yang memakai rok warna biru itu berbalik dan berlari ke kelas. Sementara Yuno kembali teman-teman dan berlatih lagi.
Kali ini Yuno semakin semangat. Keinginan untuk mengungkapkan perasaan ke Yuriel semakin besar. Dia haru menang dan menembak Yuriel di lapangan seperti di FTV. Betapa senangnya hati jika Yuriel mau pacaran dengannya.
"Yuno, ada yang manggil kamu tuh," ucap salah satu temannya.
Yuno menoleh, di pinggir lapangan ada ayah kandungnya. Melambai sembari tersenyum. Di belakangnya ada beberapa pengawal. Ada kepala sekolah di samping Ren. Melambai supaya Yuno mendekat.
Kenapa orang itu terus menganggunya? Padahal dia bilang akan memberi waktu untuk berpikir. Sekarang masih jam sekolah dan dia malah berada di sini. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Yuno melempar bolanya ke tua tim. Dia berlari ke pinggir lapangan lagi.
Terik matahari membuatnya penuh keringat, beberapa kali mengelap dengan punggung tangan.
"Saya baru tahu kalau Yuno ini anak anda." Kepala sekolah menepuk pundak Yuno.
"Tolong segera urus surat pindahnya. Hari ini saya akan membawa dia ke Jakarta."
Yuno berbalik, dia pergi meninggalkan pinggir lapangan.
Tadi pagi Faiq sudah menyarankan jangan pergi ke sekolah, tapi Yuno bersikeras karena sebentar lagi pertandingan. Benar, di sini orang yang mengaku ayahnya itu mengganggu. Dia harus segera pulang, tempat teraman adalah di sisi keluarganya.
Buru-buru Yuno masuk kelas, guru sedang menjelaskan di depan. Yuno ijin pulang dengan alasan tidak enak badan dan mau istirahat sebelum pertandingan. Dia mengambil tasnya dan berjalan melewati Yuriel yang kebingungan.
"Kamu sakit apa?" tanya Yuriel sedikit berbisik, Yuno masih memasukkan buku dari lacinya.
"Nanti sore aku main ke rumahmu, aku ceritain."
Yuno berjalan keluar kelas, masih memakai baju basketnya. Dia mengendarai sepeda, keluar dari area sekolah.
Jalan raya begitu ramai di panas yang begitu terik, Yuno mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimal. Berharap segera sampai rumah.
Dia ingin pulang, bertemu keluarga yang membuatnya merasa aman. Tapi dijalan mobil BMW hitam menghadangnya, membuat dia terpaksa berhenti. Ren keluar dari sana. Berjalan menghampiri Yuno dengan angkuh.
"Sudah waktunya kau tidak menyusahkan keluarga angkatmu." Ren memegang setir sepeda. Menahan Yuno supaya tidak pergi.
"Mereka keluargaku, kata Ayah tidak ada kata merepotkan."
"Apa kau tau apa yang sudah dilalui mereka untuk kamu yang cuma anak angkat?"
"Ayah sama Bunda sayang sama aku. Om nggak usah ngehasut, nggak bakal mempan."
Yuno menantang, walau sebenarnya takut.
"Yakin? Kalau aku bakar rumah itu beserta orang-orang yang kau anggap keluarga, apakah kau tidak menyesal."
"Om nggak bakal ngelakuin itu."
"Kenapa tidak? Membakar klinik orang yang kamu anggap ayah saja bisa. Memecatnya dari rumah sakit juga gampang. Bagaimana kalau besok tiba-tiba adik perempuan yang menggemaskan itu hilang? Semua bisa kulakukan."
"Jangan sakiti Pinea!"
"Mereka akan aman asal kau ikut denganku." Wajah Ren mendekat, mengintimidasi.
Tubuh Yuno bergetar, dia takut. Tidak ingin terjadi hal buruk kepada keluarganya. Senyum keluarganya adalah hal utama. Tak boleh ada tangis yang membuat mereka sengsara. Saat ini Yuno berada di kebimbangan luar biasa.
.
.
.
bersambung
jangan lupa pencet tombol like dan vote