
Awalnya Faiq ingin mengikuti Riki, tetapi dia urungkan setelah melihat jam. Ini sudah terlalu sore. Akhirnya dia berputar untuk pulang ke rumah. Tak ada kabar dari Myesha membuat Faiq sedikit khawatir. Apakah gadis itu bisa mengurus Yuno sendiri?
Mentari turun keperaduan, meninggalkan langit biru dengan awan senja berwarna jingga. Faiq memacu mobilnya menuju rumah dengan kecepatan tinggi, sekarang tak hanya Cucut yang menunggu kepulangannya. Tetapi ada dua nyawa yang lain.
Faiq berkerut kening ketika ada mobil orang tua Myesha berada di halaman rumah, sebelumnya tak ada pemberitahuan sama sekali mereka akan datang.
Dari luar terlihat Ayah berada di dalam mobil sedang memainkan ponsel. Awalnya Faiq ingin menyapa akan tetapi ia urungkan dan segera masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Faiq ketika memasuki rumah.
Di ruang tamu itu tampak sebuah koper dan beberapa kardus, ada ibu tiri Myesha di sofa. Sementara Myesha berdiri sembari menimang Yuno.
"Waalaikumsalam, lihat Nak, Ayah udah pulang." Myesha segera menghampiri Faiq dengan senyum tertahan.
Cium keningku. Pinta Myesha lirih.
Sejenak Faiq mencoba mencerna keadaan hingga akhirnya dia menurut untuk mencium kening Myesha. Sangat canggung karena ini pertama kalinya dia mencium seorang gadis.
"Anak Ayah tambah besar ya hari ini," ucap Faiq gantian mencium pipi Yuno yang mulai gembul.
Matanya melirik ke ibu tiri Myesha yang membuang muka dengan angkuh. Walaupun baru datang tetapi Faiq tahu bahwa suasana saat ini sangat tidak nyaman.
"Mas pasti capek, cepat mandi sana nanti aku siapin makan malam."
Myesha terlihat sangat natural bersikap layaknya seorang istri dan ibu.
"Kok kamu nggak ngabarin kalau orang tuamu datang?" tanya Faiq.
"Mereka ke sini hanya mengantar barang, tidak usah dipikirkan."
"Tapi kan tetap saja ...." Omongan Faiq terhenti setelah mendapat tatapan tajam dari Myesha.
Arah mata itu menunjukkan bahwa saat ini Faiq harus diam dan tak boleh ikut campur.
"Cepat mandi Mas," ucap Myesha lembut.
"Baiklah aku mandi," jawab Faiq akhirnya menurut. Tatapan matanya masih mengarah ke ibu Tiri Myesha.
Wanita separuh baya itu tak menyapa atau pun melihat Faiq sedikitpun. Seperti ada perasaan benci di sana.
"Bunda lihat sendiri, 'kan kalau aku sangat bahagia sekarang. Memiliki anak dan suami yang mencintaiku. Jadi kalian membuangku atau tidak sama sekali tidak berpengaruh."
Tatapan mata Myesha tajam ke ibu tirinya. Kali ini Tuti membalas tatapan Myesha sembari berdiri dari posisi duduk.
"Baguslah, mulai sekarang kamu tidak usah pulang ke rumah lagi. Semua barangmu dan barang ibumu sudah aku berikan. Jangan berharap dapat warisan dari ayahmu karena itu tidak akan pernah terjadi."
Mendengar itu Myesha tersenyum mengejek. "Warisan Ayah itu seberapa sih sampai Bunda ngelakuin ini? Ambil aja Bun, aku tidak suka recehan."
Tepat sasaran dan melukai harga diri Tuti. Yusup memang tidak sekaya orang tua Faiq, akan tetapi memiliki sejumlah kebun kopi. Jika dibagi untuk ketiga anaknya hasilnya akan sedikit. Maka dari itu Tuti berusaha membuang Myesha hingga tidak mendapat sepeserpun.
Awalnya Myesha mengira bahwa Tuti hanya ingin memonopoli cinta dari ayahnya, tetapi sekarang jelas bahwa yang ibu tirinya inginkan hanya harta. Tak apa, sejak ayahnya lebih memilih Tuti dan membuangnya jauh jauh Myesha tidak berharap apapun lagi dari ayahnya termasuk warisan.
"Kalau begitu malah lebih mudah, Bunda anggap kamu setuju untuk tak meminta warisan."
Hanya dibalas senyuman merendahkan oleh Myesha, Tuti pun berlalu meninggalkan rumah Myesha hingga terdengar suara mobil keluar meninggalkan pelataran rumah.
Gadis itu menggigit bibir bawah, mendekap Yuno kuat-kuat. Ia menahan amarah dan gejolak di hati.
Matanya melihat semua barangnya yang pernah dia tinggalkan di rumah. Kini dia benar-benar diusir, tak memiliki tujuan dan rumah untuk pulang. Bahkan namanya sudah tidak ada di dalam kartu keluarga mereka.
"Aku pinjamin bahu, nangis aja biar lega," ucap Faiq yang sudah ada tepat di samping Myesha.
Faiq menepuk bahunya yang lebar, matanya mamandang kedua bola mata Myesha yang berkaca-kaca. Kemudian menariknya supaya mendekat. Yuno terdiam dan asik dengan imajinasinya diampit oleh dua orang.
Perlahan tapi pasti air mata Myesha mengalir tanpa aba-aba. Tepat membasahi dada Faiq yang ia buat sandaran. Tangan kanan Faiq terulur mengusap helain rambut Myesha.
"Nggak papa kamu nangis, tapi setelah ini jangan pernah lagi nangis buat ibu tiri yang nggak ada ahlak itu."
.
.
.
bersambung.
Jangan lupa votenya ya. Biar tangan kritingku gk sia-sia.