
Pernikahan tanpa landasan cinta 5 bulan lalu terasa begitu berat bagi Myesha, apalagi statusnya berubah drastis. Dia yang biasanya bangun siang dan rebahan setiap saat kini sering begadang. Susah istirahat karena menjaga Yuno.
Wanita berusia 23 tahun itu juga harus membersihkan rumah, hal yang dulu sangat malas dilakukan. Baginya lebih baik tidur bersama kecoa dari pada bersih-bersih. Itu adalah prinsip hidupnya yang sudah bertahun tahun dijalani.
Namun, sekarang ia tinggal bersama Faiq dan si bayi jabrik. Pria itu membenci hal jorok, sering ngomel kalau menemukan sesuatu yang kotor. Apalagi mereka sudah membagi tugas, Myesha yang bersih-bersih sementara Faiq kerja.
"Kalau kamu anak cewek, pasti kamu bakal tahu penderitaanku," ucap Myesha. Tangannya terulur mencubit pipi gembul bayi jabriknya.
Bayi mungil berusia lima bulan dengan rambut jabrik ala antena menatapnya, di tangan bayi itu ada kincringan yang berbunyi jika digerakkan. Tidak mengerti kalimat Myesha. Matanya berkedip beberapa kali.
Lingkaran mata Myesha sudah mirip dengan panda, mungkin kalau berjejer, orang akan sulit membedakan mana panda dan mana Myesha.
"Tja ta ta." Tangan bayi mungil itu terus bergerak, ingin mengajak main Myesha.
Serangan keimutan yang tidak bisa Myesha tahan, gemas sekali hingga ia menguyel-nguyel pipi gembul tersebut.
"Kok ada sih mahluk seimut ini, uch."
Myesha menciumi Yuno bertubi-tubi, membuat mata bayi itu terpejam merasakan geli. Tangannya terus bergerak. Ingin lepas dari ciuman Myesha yang membuatnya tidak nyaman.
Tiba-tiba ponsel Myesha berbunyi, ia meraih nakas dan melihat siapa yang menelepon.
"Hallo, Kak Erika?"
Itu adalah editornya, Myesha sudah mengeluarkannya karya baru bulan ini. Pasalnya karya sebelumnya, Yusha sang pangeran sudah selesai. Meskipun banyak sekali perdebatan.
"Mye, kau sudah cek email belum?" tanya Erika kembali.
"Emang ada apa, Kak?"
"KAU MASUK NOMINASI WEBCUUN AWARDS." Teriak Erika hampir membuat gendang telinga Myesha jebol.
Kening Myesha berkerut, bagaimana bisa dia masuk nominasi sementara karyanya banyak hujatan?
"Kakak jangan bercanda deh." Myesha mendekatkan ponsel ke telinga kembali.
"Serius, Yusha sang pangeran kan terkenal karena banyak hujatan. Jaman sekarang tuh kayak gitu, semakin banyak hujatan maka semakin banyak orang yang penasaran, buat karya barumu ini semoga saja dihujat lagi."
Mendengar itu Myesha menyipitkan matanya, antara senang dan sedih. Bagaimana bisa komiknya populer karena hujatan? Bahkan Erika berharap karya barunya dihujat lagi.
Para pembaca suka bagian endingnya, bahkan mereka menulis petisi supaya diadakan season selanjutnya. Myesha tidak mau, mengingat hujatan menyakitkan dari para pembaca dahulu. Hatinya yang lemah lembut bagai permen kapas tidak kuat.
"Aku cek email dulu."
"Kau harus datang ke Jakarta untuk acaranya."
"Aku masih nggak percaya, ntar kakak bohong lagi."
"Ck, dasar ini anak. Cepat cek email sana."
Panggilan dimatikan, Myesha berjalan membuka laptop. Mengecek apakah benar dia masuk nominasi Webcuun Awards. Mana mungkin author remahan sepertinya masuk nominasi.
Kalau sampai Erika-editornya berbohong, maka ia akan sangat marah. Bercanda tentang Webcuun Awards adalah keterlaluan. Ajang yang sangat dinantikan ribuan author. Mendapatkan nominasi di sana dan diundang menyaksikan penghargaan bergengsi itu impian semua author Webcuun.
"Aaaaa aaaaaa aaaaaaaa aaaaaaaa aaaaaaa aaaaaaa aaaaaa aaaaa."
Myesha berteriak seperti orang kesurupan, dia mengulang bacaan yang ada di emailnya. Tertulis jelas bahwa dia masuk nominasi Webcuun Awards. Ini seperti mimpi!
Mendengar teriakan Myesha membuat bayi jabrik terkejut, ia langsung menangis kencang karena takut. Mungkin berpikir ibu angkatnya itu mendadak gila. Kalau sampai ibu angkatnya gila, siapa yang akan memberinya susu nanti?
"Yunooo... kamu pembaca rejekiku!"
Myesha berteriak dan berlari ke sana kemari mengelilingi kamar, tidak memedulikan Yuno yang tengah menangis kencang.
Tiba-tiba pintu dibuka, membuat Myesha mematung melihatnya pria yang terengah-engah masuk ke dalam ruangan. Kemeja putihnya basah karena keringat. Peluhnya menetes.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Faiq khawatir.
"Aakuu mendapat nominasi Webcuun Awards!" Myesha memberi tahu dengan kegembiraan.
"Oh." Respon Faiq. Melirik ke Yuno yang tengah menangis kencang.
Kegembiraan di wajah Myesha mendadak hilang, tangannya yang tadi terangkat hingga memperlihatkan bulu ketek tipis kini tertutup kembali.
"Kok kamu nggak ikut seneng sih, Mas? Jahat banget." Protesnya.
Faiq diam sesaat, kemudian tersenyum lebar. Tidak boleh membuat Myesha marah, ingat ularnya baru berjaya sebulan ini. Tidak boleh puasa lagi.
Dia berlari berhambur memeluk Myesha, "selamat sayang. Kamu hebat banget bisa sampai dapet nominasi, usaha nggak pernah mengkhianati hasil. Pasti banyak banget pembaca yang suka sama karyamu, karyamu emang yang terbaik."
"Aku dapet nominasi karena sering dihujat, Mas."
Hening, Faiq salah kata. Ia membantu di tempat.
.
.
.
.
bersambung
lempar bunga yang banyak ya gengs. Ntar up lagi.