Unknown Baby

Unknown Baby
Ponsel


Kamar pengantin dihias dengan sprei baru berwarna merah beberapa hari yang lalu. Ada vas bunga cantik di sudut ruangan. Kaca lemari menampakkan Faiq yang sedang mondar mandir di depan ranjang. Ia gelisah. Sementara Myesha melihat Faiq dengan bola mata mengikuti arahnya.


"Diam sih, Mas. Aku pusing liatnya."


Myesha sudah menganti baju dengan baju tidur bermotif doraemon. Bayi mungil di sampingnya tidur dengan pulas setelah kedua orang itu ribut mengganti popok.


"Kita harus kabur, kalau nggak kita pergi keluar negeri." Kalimat yang baru saja diucapkan Faiq membuat kening Myesha berkerut.


Permasalahan mereka adalah bayi, apa hubungannya dengan kabur? Besok keluarga dari pihak Myesha akan ke rumah Faiq yang berada di Lampung Timur. Acara besar-besaran akan dilaksanakan di sana.


"Kenapa kabur? Bukankah kita udah bicarain ini? Permasalah kita adalah si bayi."


Myesha menunjuk bayi bernama Yuno yang tengah tertidur pulas. Pipinya mulai gembul setelah seminggu lebih hidup bersama Myesha dan keluarganya.


"Kamu tidak tahu sih keluargaku sekacau apa," ucap Faiq sembari menggigit kuku jarinya. Panik.


Pintu diketuk dari luar, "Faiq, bisa ikut sebentar?"


Suara ayah Myesha meminta Faiq keluar. Pemuda berbadan tinggi itu menarik napas. Berusaha tenang.


"Iya, tunggu sebentar."


Faiq mengambil ponselnya di atas nakas. Kemudian dimasukkan ke dalam kantung celana hitamnya. Ia berjalan membuka pintu. Wajah pria separuh baya dengan kumis tipis memandangnya.


"Ayo main gaple, sekalian mengenalkanmu ke tetangga." Ajak Ayah.


"Tapi aku tidak pernah main gaple." Faiq berkerut kening.


Dia tahu apa itu gaple, karena setiap ada hajatan pasti pada malam hari tetangga laki-laki akan berkumpul untuk bermain kartu ataupun gaple. Sejenis permainan judi tanpa uang. Mereka beralasan bahwa itu untuk menjaga tempat yang punya hajat.


"Nggak papa, yang penting kamu bisa kenal sama tetangga."


Ayah menepuk pundak Faiq yang jauh lebih tinggi darinya, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja walaupun menantunya itu tidak bisa bermain.


Faiq memandang Myesha, mencoba mencari pertolongan supaya dihindarkan dari masalah ini. Dia sungguh tidak suka.


Sementara itu Myesha malah membuang muka, pura-pura tidak tahu permintaan Faiq. Gadis itu ingin tidur, beberapa hari ini dia kesulitan tidur karena menjaga si bayi.


"Ayo," ajak Ayah lagi. Mengajak Faiq untuk keluar.


Tanpa bisa menolak, Faiq menurut. Padahal dia sedang panik tetapi malah harus berurusan dengan tetangga.


Selepas Faiq pergi, Myesha membaringkan diri di samping si bayi. Menyentuh pipi mungil itu, Myesha tak membenci bayi itu hanya saja kehadirannya adalah hal yang salah. Gadis itu sadar bahwa muncul di antara mereka dan membuat keributan seperti ini bukan salah si bayi.


Perlahan mata Myesha terpejam. Mengingat bahwa masalah ini akan selesai jika mereka menemukan orang tua kandung si bayi. Membawa mereka ke kantor polisi, bahkan Myesha berniat memukul dan menjambak rambut mereka.


Tiba-tiba telponnya berbunyi, Myesha buru-buru mengangkatnya sebelum suara ponsel membangunkan si bayi. Ia ke pojokan kamar untuk menjauh. Mengecek siapa orang yang menelpon malam-malam begini.


.


.


.


Bersambung.