
Kasih sayang dari ayah yang diinginkan Myesha selama ini kembali perlahan. Walaupun waktu tidak bisa diputar tapi masih bisa diperbaiki.
Setelah sembuh ayah marah besar terhadap Tuti. Ia mengetahui semua tipu daya Tuti untuk menjauhkan Myesha darinya demi harta. Menceraikan Tuti menjadi keingannya, perlakuan buruk yang diterima Myesha selama 12 tahun membuat ayah ingin menebus dosa. Namun Myesha melarang, tidak ada gunanya menceraikan Tuti sekarang. Terlebih ibu tirinya itu sudah mengemis maaf dan berjanji akan berubah.
Benar, selama ini uang dari ayah dikorupsi Tuti. Membuat Myesha kesulitan selama remaja. Myesha hanya ingin haknya dikembalikan.
Uang seserahan, uang mahar, uang jajan selama ngekos di Bandar Lampung. Myesha meminta Tuti mengembalikan semuanya. Dengan berat hati Tuti menjual perhiasan yang selalu dibanggakan. Mengembalikan hak Myesha.
Motor untuk anak bungsu yang dibeli dengan uang pernikahan Myesha juga dikembalikan. Walau begitu pun ayah tetap merasa bersalah. Sebulan sekali sekarang ayah mengunjunginya di Metro. Menyanyangi Yuno untuk menebus kesalahannya kepada Myesha yang selama ini tidak mendapat kasih sayang.
Waktu berlalu dengan cepat, ulang tahun pertama Yuno menjadi penyatu keluarga mereka. Sikap Tuti juga berubah, mungkin ingin mengambil simpati ayah lagi. Apapun itu Myesha senang karena kedua adik tirinya juga meminta maaf.
Hal yang tidak bisa Myesha tahan adalah adik laki-lakinya berjalan kaki ke sekolah padahal SMP nya jauh. Dia tahu rasanya kekurangan. Untuk memperbaiki hubungan supaya lebih erat sebagai kakak, Myesha membelikan motor. Walaupun tak semewah sebelumnya.
"Makasik ya, Kak." Egi memeluknya untuk pertama kali.
"Keungan Kakak belum stabil setelah membiayai operasi Ayah. Jadi Kakak cuma bisa ngasih motor ini. Nggak papa, 'kan?" tanya Myesha.
Egi mengangguk, begitupun dia sudah senang. Setelah motornya dijual beberapa bulan lalu dia selalu diejek di sekolah. Sekarang sudah tidak lagi.
Motor berwarna hitam itu tampak gagah, Egi mengelusnya dengan tangannya. Myesha memberi kunci motor beserta gantungan lucu yang baru dia beli.
Hari ini ulang tahun Yuno, walaupun sebenernya Faiq dan Myesha tidak tahu tanggal kelahiran Yuno yang sebenarnya dan hanya mengira-ngira. Akan tetapi, mereka ingin merayakan pesta untuk anak itu.
Faiq menghampiri Myesha dan Egi yang sedang berada di garasi. Keringat bercucuran dari pelipisnya.
"Sha, kamu dipanggil Bapak." Faiq menepuk pundak Myesha sehingga wanita itu menoleh.
"Ada apa?"
Faiq enggan mengatakannya, dia sendiri terlihat bingung. Kemudian berbisik kepada Myesha. Wanita itu panik dan bingung.
Acara sudah dilangsungkan satu jam lalu, sekarang hanya kumpul keluarga. Semua keluarga besar Faiq datang, begitupun dengan keluarga Myesha untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka satu tahun lalu.
"Cari cara Mas supaya aku nggak ketemu Bapak." Myesha menarik lengan baju Faiq dengan panik. Egi yang melihat itu hanya bisa heran.
Faiq mengeluarkan uang 50 ribu. Ia mengulurkan kepada Egi. Anak lelaki itu terlihat bingung.
"Bilang sama Bapakku kalau Mas Faiq sama Kak Myesha ada urusan mendadak. Urusan penting. Kami pulang sore." Suruh Faiq.
Egi terlihat enggan menerimanya. Memandang Faiq dan Myesha bergantian. Myesha mengangguk menyuruh Egi menyutujuinya.
Dengan berat hati Egi mengambil uang itu dan mengangguk. "Iya, Mas Faiq."
Setelah itu Faiq mengeluarkan motor matic Myesha. Melambaikan tangan supaya Myesha duduk di boncengan. Tanpa basa basi Myesha duduk di boncengan hingga motor itu keluar dari gerbang rumah.
Mereka meninggalkan pesta yang baru usai. Termasuk Yuno yang sedang bermain dengan dua kakeknya. Berboncengan menuju pusat kota Metro.
Myesha berpegang erat, berbicara di samping Faiq sembari memegang helmnya.
"Bapak pasti mau bicarain soal ASI lagi?" tanya Myesha.
"Iya. Makanya lebih baik kabur." Mata Faiq melihat ke depan.
Cuaca hari ini cerah, awan hanya sebagian menutupi langit biru. Sungguh cocok untuk berpesta. Yuno juga tampak bahagia karena banyak orang di rumah, menemaninya bermain. Tanpa Faiq dan Myesha beberapa jam anak itu tidak akan menangis.
.
.
.
bersambung
jangan lupa like