Unknown Baby

Unknown Baby
S,D,T,E = Satu, Dua, Tiga, Empat


Saat ini Faiq merasa hidupnya lengkap. Ada anak, istri dan karir. Nikmat mana yang kau dustakan? Dia tak habis pikir dengan dirinya yang dulu. Bagaimana mengabaikan hal iya-iya yang menyenangkan dan berpikir akan melajang seumur hidup? Benar-benar konyol.


Bersemangat setelah pulang kerja, ada yang menanti di rumah dengan senyum cerah. Ternyata sangat menyenangkan.


"Terima kasih sudah datang di hidup kami," ucap Faiq sembari mengecup pipi gembul Yuno. Sebelah mata bayi itu terpejam merasakan bibir Faiq yang mengecupnya.


"Aa eumm ... haa." Bayi jabrik itu tersenyum. Tangannya meraih wajah Faiq.


Jari kecil nan lembut menyentuh permukaan wajah pria itu, wangi bedak menyeruap ketika ciuman untuk si kecil datang lagi. Kebahagiaan kecil datang hanya dengan melihat senyum mungilnya. Kenapa bisa bayi ini bisa dibuang? Sungguh Faiq tak habis pikir.


Pilihan tepat membawa bayi ini masuk ke dalam rumahnya, takdir seperti menuntun mereka menjadi keluarga. Faiq bersyukur Yuno hadir dan menjadi penyatu dia dengan Myesha.


"Ini Mas kopinya." Myesha menaruh kopi di meja dekat dengan Faiq.


Masih memangku Yuno, sebelah tangan pria itu meraih kopi. Menyeruputnya ringan hingga terasa panas nan pahit masuk ke tenggorokan.


"Waktu kerja aku nggak tenang ninggalin kamu di rumah sendiri, jadi aku minta Ibu buat ke sini. Katanya udah otw ke sini."


Sebenarnya ada alasan lain. Ibunya bisa memberi tahu Myesha bahwa masakannya mengerikan dan harus berubah. Dia lemah hati untuk mengkritik masakan wanita itu. Walaupun nanti menyakitkan tetapi Faiq yakin Myesha bisa berubah lewat bantuan ibunya.


"Ibu nomor berapa?"


"Ibu kandungku, nomor 4."


Myesha mengangguk, ia tak masalah. Sudah satu minggu lebih Andre menjadi buronan, ada laporan dari seseorang melihat Andre di daerah Bantul. Berarti dia ada di dekat sini. Hatinya pun tak tenang, takut sewaktu-waktu Andre tiba-tiba muncul dan mengganggunya.


"Mas aku penasaran, tapi kalau Mas nggak mau cerita aku nggak maksa."


"Penasaran soal apa?"


"Soal jumlah ibumu. Dan kenapa mereka akur banget, hal yang menurutku nggak biasa."


"Oh itu, aku ceritain asal usulnya."


Sore itu Faiq bercerita, sang Bapak, Darman. Memiliki sejarah keluarga yang panjang, sebagai anak dari keluarga terpandang di kala itu Darman ditekan memiliki anak laki-laki atau tidak akan mendapat warisan seperpun. Harta orang tuanya akan diberikan kepada sepupu.


Saat itu Santi, istri Darman juga resah. Hidup di orde baru dengan segala kediktatoran pemerintah sangatlah sulit. Kedua putrinya bisa direbut paksa orang-orang jahat jika tidak memiliki kekuasaan. Maka dari itu dia merelakan Darman menikah lagi.


Santi memiliki 3 sahabat. Dari kecil mereka bertempat bersama dan bertetangga. Santi, Dian, Tini, Eni. Dia mencerita masalahnya tentang ingin memiliki anak laki-laki. Karena persahabatan yang erat salah satu temannya maju untung menjadi istri ke dua. Dian akhirnya menikah dengan Darman, tapi sayang yang dilahirkan bukan anak laki-laki.


Ke empat sahabat itu pun berdiskusi lagi, akhirnya Tini maju untuk menikah dengan Darman. Tapi lagi-lagi yang dilahirkan anak perempuan. Hingga tersisa Eni, mereka menggantungkan harapan kepada wanita itu. Berharap sepenuh hati anak yang akan lahir adalah laki-laki.


Melihat keseriusan para istrinya, Darman juga tak tinggal diam. Dia ke sana ke mari menemui dukun sampai kyai. Berpuasa tiga bulan sampai bersemedi. Apapun dia lakukan supaya memiliki anak laki-laki.


Di saat kritis tersebut, Faiq lahir dari rahim Eni. Istri nomor 4. Semua menyayangi Faiq. Warisan tanah beratus hektar menjadi milik keluarganya.


"Jadi karena mereka bersahabat dari awal makanya kompak banget?"


"Iya, mereka kompak. Suami pun berbagi, harta berbagi, anak juga milik bersama tanpa membeda bedakan."


"Aku juga pingin punya temen akrab banget kayak para ibumu."


"Iya, satu orang, tapi nggak seakrap para ibumu."


"Lebih baik punya satu teman tapi bisa dipercaya dari pada punya seribu teman penuh dusta."


Mendengar itu Myesha tersenyum. Benar, satu teman pun sudah cukup. Bisa mengerti dirinya dan bisa diajak berbagi rasa.


"Mas sendiri punya teman?" tanya Myesha.


"Banyak. Tapi ada yang dekat ada yang nggak."


Obrolan mereka terhenti ketika mobil bapak Faiq mengklakson supaya gerbang dibuka. Buru-buru Faiq memberikan Yuno ke pangkuan Myesha dan berlari untuk membuka gerbang.


Pak Darman hanya beberapa jam berada di rumah Faiq. Bercerita tentang Pak Burhan yang kini di penjara. Percaya tak percaya Pak Burhan sebenarnya dulu ketua geng di sekolah. Bisa dibilang anak nakal. Tapi Pak Darman pikir Pak Burhan sudah berubah dan sukses seperti sekarang. Ternyata kekayaannya didapat dengan cara yang kotor. Berbeda dengannya yang bisa kaya karena menghasilkan anak laki-laki.


"Makasih ya, Bu. Udah mau ke sini." Kata Myesha.


Sembari menimang Yuno Bu Eni tersenyum. "Buat mantu dan cucu ibu apa sih yang nggak."


Benar yang dibilang Faiq, Myesha mendapat teguran halus tentang masakannya. Perlahan Myesha berubah dan belajar masak dengan Bu Eni. Myesha bercerita bahwa dia tidak memiliki ibu dan bagaimana kondisi keluarganya. Bu Eni pun sangat iba dan semakin sayang dengan Myesha. Ia pun berperan sebagai ibu dan serius mengajari Myesha.


"Bu, kalau aku nganterin makan siang ke Mas Faiq boleh nggak?" tanya Myesha.


"Iya, coba aja. Pasti dia suka dikasih kejutan. Apalagi sekarang masakanmu enak."


Myesha tersenyum. Ia segera menata ayam bakar dan sayur ke dalam rantang. Bersiap mengantarkan ke rumah sakit.


"Titip Yuno bentar ya, Bu?"


"Kamu hati-hati di jalan."


Myesha mengangguk dan meraih kunci motor. Mengendarainya menuju rumah sakit yang berada di tengah kota. Ini pertama kalinya dia datang ke rumah sakit ini setelah menikah dengan Faiq. Tak menyangka akan menikahi dokter yang bekerja di sini.


Kata Suster Faiq sedang berada di ruangannya bersama Dokter Sella. Myesha segera berjalan sesuai arahan suster. Pintu tak dikunci dan Myesha bisa melihat dengan jelas Faiq sedang tertawa dan terlihat akrab dengan wanita itu. Ntah kenapa ada desiran aneh yang muncul di hatinya.


"Dokter itu cantik banget, nggak buluk kayak aku." Gumamnya. Merasa minder.


Senyum Faiq untuk Sella ntah kenapa melukainya. Seperti ada yang berdarah tapi tak kasat mata.


.


.


.


bersambung


Makasih udah mampir. Kalo ada poin jangan lupa buat vote Yuno, biar authornya ngrasa dihargai. o(╥﹏╥)o