
"Emang kamu pernah liat seluruhnya?" tanya Sella. Ia masih menatap Faiq sembari merasa iba.
"Belum sih, ini juga masih dalam rangka. Kasih saran dong biar dia lupa sama cowok yang dia suka dan jadi suka sama aku."
Baru kali ini Sella melihat Faiq tak bisa mengatasi masalah hidupnya. Sesulit apa Myesha sampai bisa membuat Faiq yang cerdas bisa sampai seperti ini. Sell semakin penasaran dengan sosok Myesha yang selalu diceritakan Faiq. Ia bertemu Myesha saat resepsi pernikahan di Lampung Timur dan belum pernah berjumpa lagi.
"Hemm ... gini, cewek itu gampang luluh kalau melihat usaha cowok. Coba kamu deketin kasih perhatian, senyum yang manis, kamu udah pernah cium dia kan? Sering-sering cium dia. Lama-lama pasti luluh."
"Yakin nih?" tanya Faiq memicingkan mata, dia seperti tak yakin dengan saran dari Sella.
"100% yakin."
Faiq mengembuskan napas berat, kemudian melihat jam tangan. Sudah pukul satu. Dia harus kembali ke ruangannya.
"Oke deh makasih saranmu." Kini tak ada pilihan lain bagi Faiq selain percaya. Tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu memang berhasil.
Hanya dibalas jempol oleh Sella. Kemudian pria itu kembali ke ruangannya sembari memikirkan solusi dari Sella.
Sementara itu di tempat lain Myesha menunggu jatah suntik DPT untuk Yuno. Melihat bayi lain kesakitan karena disuntik membuat dia merasa iba. Matanya beralih ke Yuno yang kini sedang tenang di dalam gendongannya. Masih tetap dengan empeng kesayangan bayi itu.
"Yang kuat ya, Nak." Myesha mencium bayi mungil itu.
Benar saja, saat Yuno disuntik bayi itu menangis kencang. Membuat Myesha yang takut suntik tak sanggup melihatnya. Ia tak kuat menyaksikan jarum panjang dan tajam itu menusuk tangan kecil yang sensitif itu.
"Selama dikandungan, bayimu dapat imunisasi atau nggak?" tanya seorang Ibu yang menggendong bayi berumur 7 bulanan. Rambutnya ikal bergelombang.
"Eh, apa?"
Myesha mendongak ke atas, melihat ke arah ibu yang menunggu giliran setelahnya.
"Waktu masih di kandungan bayimu imunisasi atau nggak?" ulang ibu yang lain.
Mereka ingin tahu karena melihat tingkah Myesha yang takut dengan jarum suntik.
Jawaban Myesha mengundang pandangan dari orang-orang, gadis itu benar-benar tidak tahu orang tua kandung Yuno imunisasi atau nggak. Tetapi sepertinya jawaban itu tidak membuat mereka puas.
"Anu maksud saya waktu Yuno masih di kandungan dia sangat sehat dan saya juga rajin olah raga jadi nggak perlu imunisasi."
"Oohh gitu ...." Ibu berambut ikal memberi tanggapan.
"Olah raga waktu hamil emang bagus, asal bukan olah raga malam yang berlebihan."
"Olah raga malam? Nggak kok. Biasanya aku olah raga kalau senggang."
"Jangan terlalu sering, apalagi waktu hamil. Suruh suamimu buat tahan diri. Tapi kalau udah melahirkan ya nggak masalah kalau sering." Ibu berambut ikal menanggapi lagi sembari duduk gantian dengan Myesha.
Myesha membenarkan gendongannya, tak terlalu paham maksud ibu itu. Tetapi sarannya boleh juga, dia memang jarang berolah raga karena terlalu sibuk mengurus Yuno. Eh, tapi mengurus Yuno juga sama saja olah raga karena lelah. Batinnya.
"Bu Warsih, nanti aku mau konsultasi boleh?" tanya Myesha sembari menenangkan Yuno yang menangis.
Bu bidan itu masih menyuntik bayi lagi, matanya beralih ke Myesha yang bertanya.
"Boleh," jawabnya.
.
.
bersambung
Tau kok tau kalo cerita ini gk sebagus cerita author favorit kalian. baby gk minta banyak, sedikit vote buat bisa dpt rank. toh dpt rank juga hasilnya buat beli kuota, endingnya buat kalian juga.
Klo ada koin jangan lupa kasih ke aku, buat beli krupuk lauk makan. aku up di sela" istirahat habis nyari nasi di dunia nyata buat bertahan hidup gengs.