
Pukul lima sore, mobil Faiq berhenti di depan mini market yang berada di perempatan antara pasar pagi dan terminal 16 C. Ada penjual cappuccino di samping Alfa. Faiq berhenti dan memutuskan untuk beli dua cappuccino, tadi pagi Myesha bilang ingin minum yang segar dan manis.
Dua cappuccino rasa coklat pun dipesan, langit sore dengan awan berwarna jingga terlihat. Sekilas Faiq melihat sekitar. Sore ini cukup ramai orang seperti biasa.
"Ini," ucap penjual.
Faiq menerimanya sembari memberikan uang sepuluh ribu. Matanya tak sengaja melihat Riki berdiri tak jauh dari penjual duku. Ia berjalan menghampiri Riki. Ingin menyapanya.
Pemuda itu sedang menelpon seseorang, terlihat serius. Faiq belum menyapa dan terus mendekat. Takut mengganggu percakapan pemuda itu.
"Tenang, CCTV udah aku ambil semua. Bang Faiq nggak bakal tau." Kata Riki masih memegang gagang telponnya.
Sontak Faiq terkejut, dugaannya benar bahwa Riki yang memanipulasi CCTV di sekitar rumahnya.
"Yaudah aku tutup dulu, ini mau pulang." Riki menutup telponnya dan berbalik ke samping hendak mengambil duku yang dia pesan.
Matanya terkejut ketika melihat Faiq di belakangnya. Mereka bertatapan dalam hening, ada kemarahan di sudut mata pria itu terhadap Riki.
"Jadi kamu yang mengambil semua CCTV. Cepat serahkan semua CCTV itu padaku."
"Apa maksud Abang?" Riki pura-pura tak tahu. Ia gugup.
Faiq tak bisa ditipu, jelas-jelas dia mendengar semuanya. Pria itu mendekat, ingin sekali meninju Riki tetapi masih ditahan. Sejauh ini dia mampu mengontrol emosi. Di sini terlalu banyak orang, tak akan puas berkelahi karena pasti akan langsung dipisahkan.
"Saya sudah dengar semuanya, kamu tidak bisa berbohong lagi." Sorot mata Faiq tajam, seakan bisa menerkam pemuda di depannya.
Tubuh Riki bergetar karena takut dan gugup, tanpa sadar ia mundur selangkah. Berpikir caranya menghindari situasi tak menguntungkannya ini.
"Ini dukunya," pria separuh baya di samping mereka memberikan bungkusan plastik berisi duku. Tetapi situasi tidak memungkinan bagi Riki mengambil plastik itu. Badannya seakan beku.
Motornya terparkir jauh, tak mungkin tepat waktu jika Riki berlari dan menaiki motornya, pasti Faiq bisa mengejar. Merasa terdesak akhirnya Riki berbalik dan berlari kencang.
"Hey! Jangan kabur!" Pekik Faiq melihat Riki berlari.
Pria berkemeja putih itu berlari mengejar Riki yang kabur, masih membawa dua cappuccino. Mereka menjadi pusat perhatian orang di sekitar.
Riki berlari semakin kencang hingga melewati pasar pagi menuju daerah Bantul. Keringat bercucuran dari pelipis pemuda itu, sesekali menengok ke belakang melihat Faiq yang mengejarnya. Langkah kakinya panjang menapaki jalan aspal hingga menimbulkan suara.
"Ah, sial!" Riki semakin berlari sekencang mungkin di jalan aspal lenggang itu. Hanya ada beberapa motor yang lewat membawa rumput. Aneh melihat dua pria dewasa saling kejar.
Matahari mulai turun tapi hawa panas belum hilang, Faiq semakin ngos-ngosan mengejar pemuda berjaket levis itu.
"Berhenti!" Teriaknya tetapi sama sekali tak dihiraukan Riki. Langkahnya mulai melambat karena napas yang tak beraturan.
Saat ini Riki benar-benar tertangkap basah, dia tidak bisa mengelak dari Faiq dan kabur darinya adalah jalan terbaik. Cukup jauh dia berlari tetapi Faiq masih saja mengejarnya.
"Aaakkk ... Riki berhenti!" Teriak Faiq lagi, dia hampir mencapai batas tenaganya.
"Jangan ikuti aku!" Riki hampir terjungkal tetapi buru-buru ia berdiri seimbang dan masuk ke area sawah dengan melompati parit. Berharap Faiq tak mampu mengejarnya.
Tetapi Faiq tak menyerah, dia mengikuti Riki yang berlari di area persawahan. Menghindari jatuh di lumpur. Sangat susah bagi Faiq yang memakai sepatu pantofel.
"Berhenti Riki! Ayo kita bicara!" Teriak Faiq, masih mencoba seimbang berjalan di antara sawah.
Mereka berjarak satu petak sawah, Riki pun sama kesusahanya dengan Faiq. Tetapi badannya yang jauh lebih kecil dari Faiq memudahkan pemuda itu untuk berjalan lebih cepat.
"Biarkan aku pergi," ucap Riki semakin berjalan cepat dan hampir mencapai jalan kecil di ujung yang bisa dilalui motor.
Sementara itu sepatu Faiq terjebak di lumpur mengakibatkan pria itu oleng ke kanan, berusaha sekuat tenaga menjaga keseimbangan. Ia berjalan lebih hati-hati supaya tidak jatuh ke lumpur.
Sepatu Riki sama kotornya, ia melepas sepatu itu dan melemparkannya kepada Faiq. Hampir mengenai wajah jika tidak menghindar.
Faiq berhasil menghindari sepatu penuh lumpur dari Riki tetapi nahas ia terjauh ke sawah yang penuh lumpur.
Kini, seluruh badannya bagian belakang menempel pada lumpur bahkan rambutnya. Melihat itu Riki tak menolong dan malah semakin berjalan cepat meninggalkan Faiq. Berhasil mengecoh Faiq supaya berhenti mengejar.
Ingatan Faiq kembali ke Myesha, ketika dia melihat gadis itu luluran seperti mumi. Keadaannya sekarang hampir sama seperti itu, bedanya tangan kirinya sakit karena menahan jatuh. Sepertinya tak sengaja tergores kulit keong.
"Sial." Mata Faiq memandang ke atas. Tepat ke awan dan bungkusan plastik yang berhasil selamat. Ia menyerah, tak melanjutkan mengejar Riki.
Kemeja putih dan celana hitam berubah menjadi coklat, bahkan rambut dan wajah tampannya terkena lumpur.
Faiq duduk, mencoba mencari keberadaan Riki tetapi pemuda itu sudah tak terlihat. Ia mengusap jam tangannya yang tertutupi lumpur. Pukul setengah enam. Sebentar lagi gelap. Ia memutuskan untuk pulang.
Berjalan kembali ke arah pasar pagi dengan badan penuh lumpur, Faiq menjadi pusat perhatian. Tangan kanan memegang plastik cappuccino sementara tangan kiri memegang sepatu pantofel. Ia tak ada tenaga lagi untuk menghentikan cemohan, ataupun menjelaskan ke orang tentang keadaanya sekarang.
"Setan!" Bahkan balita yang melihatnya kabur dan menangis. Sangat melukai harga dirinya yang biasa dipuji tampan.
Sampai di depan mobil, ia ragu untuk masuk. Melihat diri sendiri dari kaca, tak layak disebut manusia. Ia mengumpati Riki dalam hati. Jika saja pemuda itu mau diajak bicara dan tidak melempar sepatu maka dia tidak akan berubah menjadi manusia lumpur seperti ini.
Faiq memutuskan untuk berjalan kaki, Ganjar Agung tak begitu jauh. Hanya perlu melewati lapangan dan pom bensin. Lima belas menit berjalan kaki akan sampai.
Yang tidak bisa Faiq tahan saat ini adalah rasa malu, banyak orang yang melihatnya aneh. Tentu saja, seorang pria dewasa yang seluruh tubuhnya ada lumpur. Ia berjalan menelusuri pinggiran aspal, jalan menuju rumahnya adalah aspal lebar yang ramai berlalu lalang kendaraan.
"Assalamualaikum," ucap Faiq. Dia tidak membuka pintu sendiri karena kedua tangannya memegang benda.
"Waalaikumsalam," jawab Myesha dari dalam. Gadis itu membukakan pintu.
"Astagfirullah! Siapa kamu?" Gadis itu terkejut dengan keadaan pria penuh lumpur di depannya.
"Ini aku, Faiq suamimu."
"Kamu habis gulung-gulung di sawah, Mas?"
"Ceritanya panjang, ini cappuccino buat kamu." Ia memberikan cappuccino yang hanya tinggal setengah di gelas plastik dan setengahnya lagi jatuh di plastiknya.
Myesha menerima plastik berisi cappuccino itu. Saat Faiq mau masuk ia mencegah.
"Jangan masuk, ntar kotor. Sini ikut aku."
Myesha meletakkan plastik cappuccino yang terkena noda lumpur itu di meja, kemudian keluar rumah. Tangannya melambai supaya Faiq mengikutinya.
Gadis itu menyalakan kran, mengguyur Faiq yang penuh lumpur di samping rumah. Dari atas kepala sampai ujung kaki. Faiq membuka kemejanya sembari menikmati guyuran air dari selang yang biasa dia pakai untuk cuci mobil. Memasukkan kemeja itu ke ember tak jauh dari jemuran.
Kini, tanpa memakai baju Faiq masih diguyur air, menghilangkan noda lumpur dari celana dan rambutnya.
Myesha diam dengan memegang selang, tak bertanya apapun. Membuat Faiq melirik ke arahnya.
"Kenapa pipimu merah? Kamu demam?" Faiq mendekat, menempelkan tangannya yang basah ke kening Myesha.
Gadis itu gugup dan memalingkan wajah, "nggak. Kalau udah bersih cepat mandi tapi masuknya lewat pintu belakang."
Ia memberikan selang air itu kepada Faiq sebelum berbalik meninggalkannya, membuat Faiq bingung. Pria tanpa baju itu mematikan kran air dan masuk ke dalam rumah untuk mandi.
.
.
.
Bersambung.
Dalam sejarah part baby, ini yang paling panjang, aku ni nurutin kalian loh walaupun cuper cibuk. Vote yang banyak, jangan sampek aku ngrasa usahaku gk dihargai. 😌
Soal judul perbab knp nama benda. itu buat nandai lokasi jdi kalo aku mau revisi mudah.