Unknown Baby

Unknown Baby
Depan Rumah


Myesha kumur setelah memuntahkan isi perutnya. Kepala gadis itu pusing saat ini, lemas. Mungkin, inilah batas tenaga yang dimiliki gadis itu. Suara Yuno menangis membuatnya buru-buru keluar dari kamar mandi dan mendapati keributan di luar.


"Faiq cepet periksa kandungan Myesha, apa baik-baik aja?" suruh ibu Faiq nomor 2. Sementara ibu Faiq nomor 3 masuk ke kamar setelah mendengar Yuno menangis. Dia membawanya keluar kamar sembari memberi susu.


"Kandungan apa?" tanya Myesha tak mengerti.


Ibu Faiq nomor 1 melepaskan jewerannya, kemudian mendorong Faiq supaya mendekat ke Myesha.


"Myesha itu nggak hamil, Bu. Ya Allah udah dibilang kok ngeyel."


Pukulan di punggung Faiq terdengar keras dari ibu kandungnya, membuat pria itu mengaduh sakit.


"Dibilang periksa ya nurut. Malah bantah."


Faiq ingin membentak tapi takut dosa, harus sabar. Nanti jadi Malin Kundang kalau melawan orang tua. Apalagi ibu 4 orang. Kutukannya bisa 4 kali lipat.


Bapak lewat di depan mereka sembari membawa gorengan yang Faiq beli tadi di pasar.


"Pak, tolong ini." Faiq meminta pertolongan dari bapaknya supaya dibela.


Bukannya menolong sang bapak malah mengacungkan jempol dengan bangga kemudian berlalu dengan riang sembari memakan gorengan. Melihat itu Faiq istigfar dalam hati atas kelakuan bapaknya. Ingin memaki tapi kok bapak sendiri.


"Cepetan periksa!" Suruh ibu Faiq nomor 1.


"Aku dokter gigi, Bu. Bukan dokter kandungan." Protes Faiq.


"Yang penting tetap dokter!" kali ini ibu nomor 2 yang ngeyelnya masya allah.


Faiq memutar bola matanya jengah. Kemudian menarik Myesha menuju kamar dan membaringkannya. Myesha berbisik karena tidak paham.


"Para ibumu kenapa sih, Mas?" bisik Myesha.


"Mereka pikir kamu hamil karena muntah-muntah." Jawab Faiq sembari mengambil pengukur suhu badan dari laci dan menaruhnya di ketiak Myesha.


"Mana mungkin hamil kita kan belum ...."


"Iya itu, nggak mungkin kamu hamil. Kamu itu cuma kelelahan dan demam." Balas Faiq dengan berbisik juga.


Para ibu memerhatikan mereka dengan seksama.


"Periksa juga perutnya, udah hamil berapa minggu?" suruh ibu kandung Faiq.


Pria itu pusing menghadapi para ibu yang terus menyuruhnya. Dia mengambil stetoskop di lantai atas. Mencoba memeriksa keadaan Myesha. Seperti dugaannya. Myesha hanya kelelahan dan lapar, suara perut berbunyi terdengar jelas lewat stetoskop. Hal itu yang menyebabkan Myesha muntah dan pusing.


Akan tetapi demi menghindari omelan dari para ibu, Faiq memegang perut Myesha. Pura-pura memeriska, seketika ia membayangkan jika benar ada bayinya di sana pasti proses pembuatannya sangat menyenangkan.


"Kenapa senyum-senyum kayak gitu?" tanya ibu kandung Faiq.


Faiq melepaskan stetoskopnya. Kemudian mendudukkan Myesha untuk sarapan.


"Myesha nggak papa. Dia hanya lapar dan kelelahan. Habis sarapan kamu tidur, insyaallah bangun tidur sehat lagi. Nanti aku kasih vitamin."


Myesha mengangguk setuju dan hendak turun dari tempat tidur.


"Ah, masak nggak hamil?" protes ibu Faiq nomor 1.


"Bener, Bu."


Saat ini, detik ini. Rasanya Faiq ingin menggigit tembok. Dia tadi sudah bilang bahwa dia bukan dokter kandungan tetapi mereka memaksa. Giliran hasilnya sudah dijelaskan tetap saja tidak percaya! Faiq memegang belakang lehernya yang nyeri. Dia bisa darah tinggi jika para ibunya lebih lama tinggal di sini.


"Cepat beli test pack sana." Suruh ibu kandung Faiq.


Myesha mendekat ke telinga Faiq, berbisik. "Aku nggak jadi iri sama kamu, Mas."


"Mereka harus cepat pulang atau kita bisa mati karena stres." Balas Faiq.


Mereka saling pandang mencoba mengatasi situasi rumit saat ini, lucu. Kemudian tersenyum sembari menahan tawa. Tidak mungkin mereka bilang yang sebenarnya bahwa selama menikah belum pernah melakukan hubungan suami istri, jadi Myesha tidak mungkin hamil.


Mana ada yang percaya, setahu mereka Yuno anak mereka.


"Cepat beli test pack, Faiq!" perintah mutlak dari ibu nomor 1.


Faiq mendesah berat kemudian berdiri. Mengambil uang di laci dan kunci mobil. "Iya, Bu. Iya. Ini aku pergi. Jangan lupa kasih makan Myesha"


Faiq berjalan keluar kamar, melihat Yuno sedang digendong ibu nomor 3. Ia berhenti sejenak. Baju Yuno berwarna hijau dan topinya menambah keimutan bayi itu. Matanya terbuka. Imut. Tak tahan Faiq mencium pipi gembul itu dan menekan pipinya yang cabby.


Ketika keluar rumah dia melihat bapaknya sedang mengobrol dengan Pak Burhan. Padahal, selama ini dia tidak pernah melihat Pak Burhan berbaur dengan orang lain. Tetapi kenapa bisa terlihat akrab dengan bapaknya?


Faiq berjalan mendekat, melihat ke arah Pak Burhan yang seperti memberi kode ke bapak Faiq untuk tak melanjutkan ucapannya.


"Lagi ngobrol apa, Pak?" tanya Faiq.


"Oh ini lo, ternyata tetanggamu teman SMA bapak."


"Saya juga baru tau kalau Dokter Faiq anakmu."


Bapak Faiq menepuk pundak Pak Burhan. "Ya wajar saja kita kan sudah puluhan tahun nggak ketemu."


Untuk pertama kalinya Faiq melihat Pak Burhan si orang yang terlanjur kaya tersenyum.


"Oh ya nanti malam mungkin kalian bisa makan malam bersama di rumah saya." Tawar Pak Burhan.


"Duh, gimana ya, urusan di toko sudah numpuk. Nanti siang mau balik ke rumah. Tapi Faiq mungkin bisa."


Bapak menyenggol Faiq.


"Myesha lagi sakit, Pak. Kayaknya sulit." Faiq menolak secara halus.


"Yaudah lain kali kalau istrimu sudah sembuh, makan malam di rumah saya."


"Insyaallah, Pak. Makasih."


.


.


.


bersambung


Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip.


(╥﹏╥)