Unknown Baby

Unknown Baby
Kejar Tayang


Bola mata cantik di balik kacamata, memandang ke atas. Tepat ke wajah Faiq. Senyumnya menyungging.


"Adiknya Yuno kan belum ada. Mana bisa dikasih baju," jawabnya. Ia masih mencocokkan baju untuk Yuno.


Rupanya jawaban Myesha tak memuaskan hati Faiq, bibirnya mayun.


"Makanya itu ayo buat adek Yuno, ya? Ya?" Faiq meninggikan alisnya beberapa kali. Kode keras.


Myesha mengambil Yuno dari gendongan Faiq setelah meletakkan baju bayi di meja. Mengusap rambut jabrik itu, tapi tetap saja rambutnya berdiri layaknya antena.


"Yuno masih kecil, nggak mau ah."


Satu hal yang Faiq sukai, tingkat kepintaran Myesha akhir-akhir ini bertambah. Tidak perlu muter-muter menjelaskan soal ajakan anu-anu.


"Ayolah kita kejar tayang, sebelum keimutan Yuno terkikis usia lebih baik kita stok bayi lagi hasil dari anu anu kita sendiri."


Myesha menyipitkan kedua matanya, kejar tayang? Memang dikira sinetron putri yang tertukar? Duh, jika ingat dulu ibu kos nya menonton film itu selama 3 jam setiap hari. Sungguh kejar tayang sampai membuatnya sebal karena teriakan ibu kos yang histeris setiap pemeran utamanya hampir ketahuan.


"Emang dikira sintron yang kejar tayang, jaga bayi itu susah. Nggak mau ah."


"Aku akan sedia jaga anak-anak kita."


"Halah ngomong doang, biasanya juga Mas nyuri main game kan sambil jaga Yuno."


Faiq terdiam sejenak, bola matanya mengalihkan pandangan ke samping. Menjauhi pandangan Myesha. Ternyata kelakukannya selama ini ketahuan. Padahal, saat dia bermain game Myesha sedang menggambar komik. Lalu dari mana wanita itu tahu? Faiq curiga bahwa ada CCTV di kamar.


"Kalau gitu setidaknya jatah olah raga malem ditambah jangan cuma malam jum'at."


"Malam jum'at sunah, Mas. Banyak pahala."


"Hari senin dan kamis juga banyak pahala."


Perdebatan kecil mengenai jatah malam jumat, padahal itu hanya jatah wajib. Biasanya Faiq meminta jatah dadakan setiap ada kesempatan.


"Udah jam segini aku mau ke tempat Pak Muslih, kiss dulu sini sama Mamas."


Seperti sekarang, dia mendekat ke wajah Myesha dan hendak menciumnya. 


Plakk


Suara tamparan dari tangan kecil Yuno yang tepat mengenai bibir Faiq, membuat pria itu mundur dan menahan rasa sakit. Myesha yang melihat itu tak bisa menahan tertawa.


"Jhata ta daja ...." Yuno mengoceh seperti memarahi Faiq yang hendak mencium ibunya.


"Sakit," keluh Faiq sembari memegang hidungnya yang merah. "Sekejam itu kamu sama bapakmu, Nak."


"Hahahaha ... Mas ada-ada saja sih, udah tau Yuno sensi kalau aku deketan sama Mas, masih aja mau nyium di depan dia." 


"Yaudah nyium Yuno aja," ucap Faiq sembari mencium pipi gembul bayi itu dengan cepat. "Aku berangkat rewang dulu."


"Iya."


Beberapa bulan ini kehidupan mereka tenang. Semua berjalan normal tanpa ada masalah yang berarti. Komik baru Myesha mendapat sambutan hangat dari penggemar nasional yang dulu membencinya.


Kisah tentang bayi super yang datang di kerajaan dan mencuri perhatian kaisar. Jalan cerita klasik yang disukai semua orang, tentu sumber inspirasi adalah Yuno. Bayi jabrik kesayangannya. 


Ponsel Myesha berbunyi, jika itu ibu tiri atau ayah yang telah membuangnya maka tidak akan dia angkat seperti beberapa hari ini. Tapi kali ini nama yang muncul berbeda, yakni Fifi adik tirinya. 


"Ayah sakit, butuh biaya. Sebagai anak pertama Bunda nyuruh Kakak bantu pengobatannya."


Myesha meletakkan ponsel itu di meja, kemudian membenarkan posisi Yuno yang berada di gendongannya untuk duduk di tempat makan bayi. Sekarang sudah siang, Yuno harus makan. Sementara Faiq sudah pergi ke rumah Pak Muslih untuk membantu acara hajatan. 


Wanita itu mengembuskan napas berat ketika menuang bubur sereal bayi ke mangkok, belum ingin membalas pesan adik tirinya itu. Bukankah dia sudah dibuang? Kenapa mencarinya ketika butuh bantuan dan seperti tidak terjadi apapun di antara mereka? Apa mereka pikir dia akan dengan hati membantu?


Lagi pula, uang hasil hajatan ketika dia menikah dengan Faiq serta mahar dan semua seserahan, Myesha tak mendapatnya sedikitpun. Semua dipakai untuk keluarga ayahnya. Budenya pernah menanyakan uang Myesha tersebut. Katanya untuk membeli motor baru untuk Egi, adik laki-lakinya. Myesha pun pasrah tidak menuntut. 


Setelah mengaduk bubur itu Myesha menaruhnya di meja, tepat di depan Yuno yang tangannya terus bergerak. sembari menyuapi Yuno, Myesha terus berpikir. Beberapa hari yang lalu ayahnya memberi kabar bahwa sedang sakit ginjal, butuh operasi. Mereka sedang kesulitan biaya dan meminta Myesha menanggung sebesar 20 juta. 


"Uang segitu tuh banyak," ucapnya sembari mendesah. Tangannya terus menyuapi yuno, bayi kecil itu makan dengan lahap.


Jika soal uang, bukan tidak ingin membantu tapi bukankah dia sudah dibuang? Kenapa masih minta tolong padanya? Hal itu yang membuat dia muak. 


Tapi Myesha tidak bisa keras kepala, bagaimana pun itu ayahnya. Akhinya dia mengambil ponsel yang berada di meja dapur. Membalas pesan Fifi.


"Ayah dirawat di mana?" 


Pesannya langsung dibalas, "di Bandar Lampung. Ayah dari kemarin nyariin Kakak."


Myesha membuang muka, mencarinya hanya karena butuh uang. Menyebalkan, kesal Myesha. 


"Aku akan bicarakan dulu sama suamiku," balas Myesha sebelum kembali meletakkan ponsel. 


Sebenarnya Myesha malu membicarakan masalah keluarganya dengan Faiq, pria itu terlahir di keluarga penuh kasih sayang dan sangat bertolak belakang dengannya. Myesha malu terlihat tidak berdaya. 


"Kami menunggu Kakak."


Dada Myesha terasa sesak. Dipanggil keluarga hanya di saat butuh, lalu ke mana warisan yang ibu tirinya bicarakan ketika membuangnya beberapa bulan lalu?


.


.


.


bersambung.


Makasih ya, dukungan kalian luar biasa mau nungguin season 2. lop lop banget buat semua pembaca Yuno.