
Buru-buru Faiq mengambil sarungnya, melepas celana dan melempar asal. Beruntung tak mengenai Yuno yang kini tengah tertidur lelap.
"Ayo, aku udah siap." Faiq menarik tangan Myesha menuju kasur, tetapi wanita itu tak mau beranjak. Masih berdiri di depan kamar mandi.
"Gendong dong," manjanya dengan nada menggoda.
Faiq semakin tergugah selera, ia menunduk dan memberikan punggungnya untuk wanita itu. "Ayo aku gandong."
Merasa salah kaprah Myesha memukul punggung Faiq yang tepat berada di depannya.
"Gendong depan dong Mas, masak gendong belakang. Emangnya aku karung beras!"
"Oh ya ya, duh nggak fokus."
Faiq berbalik, ia menggendong Myesha dalam sekali angkat. Sangat ringan seperti kapas. Bahkan Faiq ragu apakah selama ini dia memberi makan Myesha dengan benar atau tidak. Ia menurunkan wanita di kasur. Ketika Faiq hendak menindihnya, Myesha malah duduk.
"Tunggu, kita minum ini dulu kayak yang diajarin Susi."
Myesha berdiri. Ia berjalan mengambil nampan berwarna hijau yang biasa disuguhkan untuk tamu. Ada dua gelas dengan isi berwarna merah di sana.
"Kamu beli wine? Dosa, Sha. Jangan minum alkohol."
"Nggak, Mas. Ini marjan. Kata Susi sih harusnya wine. Tapi mahal, lebih murah marjan. Lagian sama-sama warnanya merah."
Iyain ajalah biar cepat, batin Faiq. Myesha menyodorkan segelas marjan padanya, ia minum dengan cepat seperti iklan marjan di televisi setiap bulan puasa. Selama 4 bulan dia menikah, bisa ularnya puasa dari hal iya-iya. Saatnya sekarang berbuka puasa dengan yang nikmat. Sucikan diri bersihkan hati.
"Udah habis, ayo mulai sekarang." Faiq mengelap bibirnya dengan tangan. Tak sabar.
Myesha mengambil gelas itu dan menaruhnya di atas nakas.
"Ada lagi yang dibilang Susi tapi aku lupa, tunggu aku inget-Inget dulu."
Astagfirullah Faiq tidak sabar, dia berdiri dan menarik Myesha supaya jatuh di kasur.
"Jangan buat aku jadi orang yang nggak sabaran, Sha." Faiq menindih wanita itu.
"Aku kan cuma mau ngasih pelayanan ke suami. Emang salah ya?"
Faiq menggeleng, bukan salah. Tapi hanya kurang tepat. Saatnya sekarang dia menggombal ria.
"Kamu di sisiku saja sudah cukup," ucap Faiq. Ciuman itu mendarat sempurna. Bibir manis bekas marjan menyatu. Saatnya mengabsen gigi dan pertemuan lidah.
Myesha melingkarkan tangannya di leher Faiq. Menikmati sensasi setiap kecupan yang mendarat di wajahnya. Menyenangkan.
Seakan ingin menjelajahi semua arena. Faiq mulai turun, menikmati leher jenjang wanita itu dengan beberapa kecupan manis.
"Lepas aja ya, ganggu."
Myesha mengangguk ketika Faiq ingin melepas lingerianya. Menampilkan seluruh tubuh wanita itu dengan sempurna.
Penjelajahan pun dimulai, bukan dari bawah gunung tetapi langsung mendarat di puncak. Memberi tanda di sana bahwa puncak gunung itu milik Faiq, tak boleh ada yang menikmati selain dirinya.
Rupanya ilmu dari Susi, Myesha terapkan lagi. Jiwa polos Myesha menghilang tak tersisa. Dia semakin ahli. Si ular senang bertemu dengan puncak gunung. Bahkan si ular merasa ingin memberikan bisanya di sana.
Tetapi Faiq menyuruh Myesha berhenti, dia ingin bisa itu untuk gua. Sudah pernah datang ke gua tapi tak memberikan apapun di sana. Merasa tidak sopan. Faiq ingin memberikan hadiah bisa ular untuk gua yang bernuansa hangat itu.
"Udah basah nih, masuk ya?" tanya Faiq meminta pendapat.
"Iya."
Ada yang basah tapi bukan karena hujan. Si ular mulai memasuki gua, licin dan seakan menarik masuk ketika kepala ular mengintip. Hingga rasa nyaman itu hadir ketika si ular sudah berdiam diri di dalam gua secara sepenuh. Tapi rupanya si ular tak tahu diri. Ia merasa bahwa gua itu adalah rumahnya, haknya, terserah dia mau berbuat apa.
Si ular pun mulai nakal, keluar masuk gua dengan sesuka hati. Menabrak dinding gua pun tak dihiraukan. Bodo amat yang penting senang. Rupanya pemilik gua tak keberatan. Ia malah merasa senang ketika si ular bermain di sana. Bahkan menyuruh si ular untuk menambah kecepatan.
Dengan senang hati ular semakin mengobrak abrik gua, menabrak dinding dan sampai mentok di bagian terdalam gua. Ketika di sana si ular merasa mual tapi bukan karena masuk angin. Ia memuntahkan semua bisanya, memenuhi isi gua hingga menetes keluar tanpa aba-aba.
Keringat bercucuran di pelipis Faiq, napasnya terengah-engah. Lega. Menikmati sensasi surga. Akhirnya cicilan surga dunia lunas juga.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas wanita itu, masih sama-sama mengatur napas.
"Makasih sayang." Faiq mengecup kening Myesha dan menjatuhkan tubuhnya ke samping. Butuh istirahat.
"Capek ya Mas? Mau lanjut atau tidur?"
"Kamu maunya lanjut atau tidur?" Faiq balik bertanya.
Seperti tenaganya masih banyak, Myesha menyamping sembari menyangga kepalanya. "Lanjutlah. Aku lo udah belajar banyak, masak prakteknya cuma sekali."
"Coba apa aja yang diajarin Susi?"
Ah, Faiq lupa belum membelikan bakso. Padahal ia sudah menikmati kelihaian Myesha setelah mendapat guru ahli.
"Susi pernah nyebutin beberapa angka tapi aku nggak hapal. Tapi aku inget kok gerakannya."
Faiq duduk, "ayo praktekin."
Malam itu mereka berpraktek ria. Walaupun tidak ada guru yang akan memberi nilai tapi mereka melakukannya sebaik mungkin. Sampai jam dua belas malam acara praktek itu dihentikan oleh Yuno. Bayi jabrik itu meminta jatah perhatian dari emaknya.
.
.
.
.
Bersambung
vote ya gengs biar aku ngrasa dihargai