
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Yuno?"
"Iya, Bun. Ini aku. Ayah, Bunda, sama adek-adek sehat, 'kan?"
"Alhamdulillah kami sehat. Kamu gimana di sana? Makan teratur nggak?"
"Alhamdulillah, Bun. Di sini makanannya enak-enak terus. Bunda nggak usah khawatir."
"Kamu jangan lupa solat, ya?" Kali ini suara ayah.
"Iya, Yah. Yuno di sini selalu solat."
"Bang Uno pan ulang. Ina kangen." Suara adik kecilnya.
Yuno menghapus air matanya yang menetes begitu saja.
"Doain Bang Yuno bisa cepet pulang ya. Dek."
"Kami kangen, Bang Yuno." Kahfi ikut menyahut.
Suara-suara yang dia rindukan selama dua bulan ini. Sekali lagi Yuno berusaha terlihat bahagia di depan mereka.
Tidak peduli sekurus apa dirinya saat ini, tubuhnya penuh luka lebam hasil pukulan dari Elja, belum lagi mentalnya yang sakit akibat hardikan dari Renold yang mengharapkannya sempurna. Tak ada lagi kehangatan keluarga yang dia rindukan.
"Minggu depan aku ke Amerika, sekolah di sana. Keluarga di rumah doain aku betah ya."
"Iya, pokoknya Yuno harus baik-baik di sana. Anak ayah kan kuat, pinter, baik. Pasti bisa sukses."
Sekali lagi air mata Yuno menetes. Segera dia hapus. Kesempatan untuk mendengarkan suara mereka begitu langka. Dia tidak boleh terlihat bersedih.
"Aamiin. Yuno tutup dulu ya, Yah. Nanti kalo udah di sana aku usahin ngirim surat."
"Iya, pokoknya kamu harus sehat selalu. Di sana dingin, jangan lupa jaga kesehatan." Suara bundanya yang penuh khawatir.
"Bunda nggak usah khawatir, aku kan dah gede. Bisa jaga diri. aku tutup dulu ya, wassalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Ponsel diberikan kepada Elja. Wanita dengan bibir merah itu mengelap ponselnya sebelum dimasukkan ke tas.
"Makasih, Ma," kata Yuno sembari menunduk.
"Ais dasar anak sialan. Cepat makan!" Elja melempar roti kering kepada Yuno. "Awas kalau bikin ulah lagi."
Untuk bisa menelpon keluarganya di Lampung, dia tidak mau makan selama dua hari sampai diizinkan menelpon. Dia tahu bahwa keluarganya sedang khawatir, dengan menelpon dan mengatakan dia baik-baik saja maka orang-orang yang dia sayangi akan lebih lega.
Yuno mengambil roti di lantai, dia memakannya seperti yang dijanjikan. Makanan enak? Itu hanya berlaku jika ada Renold. Tapi sayangnya Renold tidak selalu ada di rumah.
Sekali lagi Yuno menghapus air matanya, dia melihat ke pelayan. Mereka menunduk. Tak bisa membantu sedikit pun terhadap penindasan yang dialaminya.
"Baik." Yuno berjalan ke kamarnya di lantai dua. Rumah luas dan mewah ini sama sekali tidak membuat nyaman.
Di sini dia hanya alat, katanya ada anak lain yang dulu disebut-sebut akan menjadi pewaris. Tapi, ibu tirinya itu memperlakukannya dengan baik. Sangat berbanding terbalik terhadapnya. Dia sendiri tidak tahu kenapa Elja begitu membenci dirinya.
Padahal Renold tahu bahwa dia sering dipukuli Elja. Tapi pria dingin itu tidak mengatakan apapun, seperti membiarkan hal itu terjadi. Malah kini mau mengirim Yuno keluar negeri.
Mobil melaju ke kantor pusat WterSun Group. Sepanjang perjalanan Yuno melihat ke luar jendela. Betapa menyenangkannya dibonceng Bunda, dibelikan sosis goreng oleh Ayah ketika pergi ke suatu tempat, dia juga sangat merindukan sepedanya. Bahkan hembusan angin ketika dia mengendari sepeda pun dia rindu.
Aroma tubuh Bundanya ketika dia pegangan, memandang punggung wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dia ingin merasakan dibonceng Bundanya lagi.
Sekarang, dia hanyalah boneka yang selalu dibawa ke sana ke sini untuk diperkenalkan ke investor. Nama belakangnya juga diganti menjadi Bagaskara mengikuti nama keluarga Renold.
Dia menggenggam name tag yang biasa dipasang di baju putih sekolahnya bertuliskan 'Yuno Putra Alamsyah'. Setiap kali diperkenalkan ke orang seperti sekarang, Yuno akan membawanya, supaya dia bisa menahan diri dan tidak lupa identitas sebagai anak dari ayah bundanya di Lampung.
"Dia mirip sekali dengan Presdir Renold." Suara orang separuh baya itu menggema.
"Pinternya juga sama loh." Elja menambahi. Terus memegang bahu Yuno dengan erat sampai membuat sakit.
"Hallo, Om. Saya Yuno Bagaskara." Yuno berusaha tersenyum sebaik mungkin.
"Yuno sayang main di luar ya, Mama mau ngobrol sama Om Toni bentar."
"Iya, Ma."
Elja mencium kening Yuno sebelum membiarkannya pergi. Wanita itu melambai sampai Yuno keluar dari ruangan.
Akting sebaik mungkin bahwa dia bahagia, disayang Elja dan Renold, serta dibesarkan menjadi pewaris sempurna. Yuno menjalani kehidupan yang melelahkan selama dua bulan ini. Hatinya yang terluka seakan tidak berarti.
Anak itu duduk di samping gedung, merasakan sinar matahari di mana tempat yang jarang dilewati orang ini. Dia menyandarkan punggung. Kepalanya menunduk, tetasan air mata jatuh begitu saja.
"Aku pingin pulang." Gumamnya disela tangisan. Merindukan keluarga yang selama ini membuatnya merasa nyaman.
"Emang rumah kamu di mana? Ayo aku anterin."
Mendengar suara itu Yuno menoleh, mendapati anak perempuan dengan rambut lurus sepinggang. Memakai tongkat dan tak memiliki sorot mata. Anak perempuan seusia adik laki-lakinya itu buta.
.
.
.
.
.
bersambung.
cuma mau ngasih tau kalo hari Selasa tamat.