
Myesha berjalan menuju kamar dengan cepat, Yuno tertidur di box bayi dengan empengnya. Terlihat tenang dan nyaman. Dua jam yang lalu dia sudah ganti popok dan menghabiskan setengah botol susu.
Pipinya yang semakin gembul membuat Myesha senang menciuminya, bau bedak bayi yang khas kini menjadi parfum sehari-hari. Gadis itu juga mulai terbiasa tidak tidur malam karena tiba-tiba Yuno menangis. Jika nanti sudah menemukan orang tua kandung bayi itu, Myesha tak yakin bisa merelakannya pergi. Tapi seperti yang pernah Faiq katakan bahwa mengetahui asal usul Yuno adalah hal yang penting.
Gadis itu membuka laci, mencari flasdisk hitam yang diberikan Susi beberapa hari yang lalu. Ada benda yang dia kenali. Benda tipis segi empat yang pernah diberikan ibu mertua ketika masih berada di rumah Faiq. Ia mengambil benda itu.
"Loh kenapa ini ada di sini?" gumamnya.
Ia akan menanyakan benda itu kepada Faiq, pasalnya ketika masih di rumah Faiq pria itu menyuruh Myesha untuk membuang benda segi empat yang berisi balon tersebut. Kenapa sekarang malah Faiq memilikinya? Apa mungkin benda itu adalah sesuatu yang penting untuk Faiq? Batin Myesha penuh tanya.
Buru-buru Myesha mencari flasdisk lebih dalam, ternyata benda itu berada di samping gunting. Myesha segera mengambilnya.
"Ketemu." Senyum cerah hadir di sana.
Dengan perasaan senang Myesha kembali berjalan menuju lantai dua tempat Faiq berada. Pria itu masih duduk di depan meja kerjanya yang dibatasi papan investigasi dengan meja kerja Myesha. Sembari memakan buah mangga yang dia kupas Faiq mengecek laptopnya.
"Ini Mas flasdisknya," ucap Myesha sembari memberikan flasdisk itu ke Faiq.
"Susi ngasih tahu nggak apa yang dia kasih?" tanya Faiq sembari mencolokkan flasdisk ke laptop.
"Nggak, cuma katanya suruh praktekin. Oh ya aku nemu ini di laci, ini gunanya buat apa sih, Mas?" tanya Myesha sembari mengulurkan benda tipis segi empat yang Faiq beli beberapa hari yang lalu untuk persiapan.
Wajah Faiq terkejut melihat benda itu ada di tangan sang istri, bersyukur istrinya sangat polos sampai tak tahu kegunaan benda yang pernah dia sebut sebagai balon. Buru-buru Faiq merampas benda itu dari tangan Myesha.
"Benda ini sangat berguna tapi belum saatnya kamu tahu," jawab Faiq tak bisa berbohong.
"Bukan, kamu ntar kaget kalau aku kasih tahu sekarang. Udah mending kita nonton video ini aja nanti keburu ngantuk."
Faiq melirik ke arah jam, pukul sebelas lebih dua puluh menit. Ia juga sudah mengantuk, besok harus bekerja.
"Iya tunggu, aku ke kamar mandi dulu kebelet pipis," balas Myesha.
Gadis itu menuju kamar mandi yang berada di pojok ruangan. Sementara Faiq mengelus dada, ia lega. Jantungnya hampir copot karena Myesha memegang benda segi empat itu, bersyukur Myesha sangat polos. Jika Myesha tahu kegunaannya pasti dia akan berpikir bahwa Faiq adalah orang mesum.
Faiq tak ingin meninggalkan kesan terburu-buru memiliki gadis itu, bagaimana pun Faiq menghargai perasaan Myesha, dia akan menunggu dan berusaha sabar sampai Myesha menginginkannya juga.
Setelah Myesha masuk ke kamar mandi fokus Faiq kembali ke laptop dan flasdisk yang sudah terpasang. Ia membuka file berjudul 'video iya-iya'. Kening Faiq berkerut membaca judul yang aneh itu, terlebih hanya ada satu folder.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa like!