
Suara dua bayi yang menangis menyudahi pelukan Faiq, pria itu tidak bisa bersikeras sayang-sayangan di antara suara tangisan. Pada akhirnya Myesha meninggalkannya dalam kedinginan. Menyuruhnya memasukkan sendiri air panas yang sudah mendidih ke kamar mandi.
Nasip pengantin baru yang sudah memiliki anak, tidak bisa full bersayang sayang ria. Setiap hari hidup di antara suara si kecil yang butuh perhatian. Tapi mau bagaimana lagi, karena si jabrik Yuno mereka yang awalnya hanya kenalan bisa masuk pelaminan.
Faiq mandi sendirian dengan air panas, hampir tergoda main solo di kamar mandi. Dia berusaha sekuat tenaga menahan diri. Sudah punya istri, punya jatah sendiri. Dosa main solo, mending dimainin istri.
Sore itu hujan reda, Myesha bersama Nindy kondangan ke tempat Pak Muslih sementara Faiq ngopi di rumah. Menikmati waktu bersama Cucut Casper Castilo, kura-kura kesayangannya yang baru dimandikan tadi malam.
TV menyala, menampilkan berita tentang pencapaian WterSun Group yang menyabet penghargaan internasional. Faiq membenarkan sarungnya yang melorot akibat berdiri mengambil remot, membesarkan volume TV ketika Presdir Renold Bagaskara diwawancarai.
"Padahal cuma setahun lebih tua, tapi pencapaiannya jauh di atasku yang cuma kerja di rumah sakit." Puji Faiq.
Kopi diminum lagi kemudian mengembuskan napas berat, sampai sekarang dia belum cerita ke Myesha soal keingannya membuka klinik sendiri.
Membuka klinik sendiri membutuhkan banyak biaya, sementara tabunganya tidak cukup. Enggan meminta uang Myesha. Dia ingin uang Myesha untuk keperluan wanita itu sendiri. Sementara kebutuhan rumah dia yang tanggung.
Matanya fokus ke televisi, melihat sesi wawancara dengan di channel inspirasi negeri. Menurutnya, Renold memang cocok dijadiin sumber motivasi bagi kaum muda.
"Apa harapan anda di tahun ini?" tanya reporter.
Renold tersenyum malu kemudian menjawab, "memiliki momongan yang bisa menjadi penerus WterSun Group."
Tangan Renold memegang wanita cantik di sampingnya sembari melempar senyum. Semua orang iri melihat keharmonisan rumah tangga presiden direktur WterSun tersebut.
"Doakan kami cepat diberi momongan," sahut wanita di samping Renold.
Kehidupan yang jauh berbeda, kadang Faiq kagum dengan orang-orang sukses di luar sana. Pasti mereka mengalami perjuangan yang berat. Dibanding julid dengan kesuksesan orang lain, Faiq lebih iri dengan orang yang mau berjuang sekalipun itu sulit.
Perjalannya menjadi dokter terhitung mudah karena tidak pusing memikirkan biaya, Bapaknya mampu membiayainya sampai menjadi dokter gigi. Diberi banyak fasilitas hingga bisa punya rumah sendiri di usia muda. Orang tuanya hanya memberi tanah, Faiq sendiri yang membangun rumah ini memakai uang tabungan.
Jika ada kesempatan Faiq ingin berbincang dengan orang-orang seperti Renold, mendapat pengalaman baru. Namun Faiq tahu manusia tidak ada yang sempurna. Ada yang kurang dari kehidupan Renold, yakni anak. Faiq bersyukur keluarganya lengkap.
Angin malam setelah hujan terasa berbeda, Faiq menutup jendela setelah tayangan di televisi selesai. Myesha pulang dengan membawa jajanan banyak. Seperti biasa, dia menyapu bersih makanan di meja tamu.
"Ini buat Yuno," ucapnya sebelum Faiq bertanya.
Bayi jabrik di gendongan itu langsung mendongak ke atas, melihat orang yang telah memanggil namanya. Rambut bayi itu dipakaikan topi. Ada mobil-mobilan kecil yang dia pegang, baru beli di depan tempat hajatan.
"Padahal aku nggak negur, oh ya kita besok ngunjungin ayahmu. Nanti aku ijin cuti setengah hari."
.
.
.
bersambung.