Unknown Baby

Unknown Baby
Ninja


Hari ini hujan, air menggenang di halaman rumah sejak semalam. Rumput semakin hijau menghiasi sebagian halaman. Tidak perlu disiram, bunga matahari yang Myesha sebar sudah setinggi mata kaki. Tepat berada di samping pagar, dekat dengan tumpukan pasir yang berada di pojok kanan rumah. Biasanya Yuno suka sekali bermain di sana.


Namun akibat hujan, klinik yang sedang dibangun menjadi terhambat. Kata Faiq lebih baik ditunda dulu sampai reda. Walaupun pondasinya kuat tapi semen bisa menjadi tidak kokoh jika diguyur hujan terus menerus.


Sore itu semua berjalan normal, Yuno menjalankan perannya menjadi Abang. Menjaga adiknya di sela menonton TV. Rupanya bocah itu bisa diandalkan. Menepuk Dede Api-nya ketika hendak menangis.


"Abang Yuno mau makan apa malam ini?" tanya Myesha. Dia duduk di bawah sementara Yuno di sofa dan fokus menonton TV.


"Kan goleng."


"Ikan goreng?"


Yuno mengangguk, matanya kembali beralih ke TV. Ada serial kesukaannya. Dia selalu ingat menonton TV setiap sore. Terkadang saat di luar pun ketika jam 5 sore dia harus pulang. Tidak ingin terlewat satu episode pun.


Lagu opening telah berputar, mata bocah itu fokus ke TV. Menikmati lagu kesukaannya. Mata Kahfi bergerak gerak, melihat ke arah Yuno yang sedang fokus.


Mendaki gunung lewati lembah


Sungai mengalir indah ke samudera


Bersama teman bertualang


Tempat yang baru belum pernah terjamah


Suasana yang ramai di tengah kota


Slalu waspadalah kalau berjalan


Siap menolong orang di mana saja


Gozaru gozaru itulah asalnya


Pembela kebenaran dan keadilan


Hei ninja Gozaru


Ninja baik hati yang mulai beraksi


Menjaga anak-anak bermain di taman


Bunga-bunga indah terbang ke awan


Membawa hati kita jadi gembira


Gozaru gozaru itulah asalnya


Pembela kebenaran dan keadilan


Hei ninja Gozaru


Seperti tak peduli apapun ketika kartun ninja kesukaannya diputar. Yuno tengah asik menikmati setiap adegan di film.


Myesha berdiri, dia mengusap rambut Yuno sebentar lalu ke dapur. Sebentar lagi Faiq pulang, semoga tidak ada masalah apapun hari ini.


"Ikan goreng, ya." Gumam Myesha ketika membuka kulkas. Mencari di freezer apakah ikan beberapa hari yang lalu masih ada.


"Alhamdulillah masih ada satu," ucap Myesha ketika mengeluarkan ikan lele dari kulkas. Beku dan membuat tangannya nyeri.


Segera Myesha meletakkannya di baskom lalu direndam air. Sesekali melirik ruang tengah yang hanya dihalangi aquarium, rumahnya Cucut. Melihat kedua jagoannya baik-baik saja.


Dulu, dia tidak bisa masak. Tidak tahu juga cara merawat diri. Jorok bahkan berbagi tempat dengan kecoa dan tikus. Tetapi semua berubah sejak kehadiran Yuno. Bocah itu sungguh merubah segalanya.


Dimulai dari statusnya sebagai gadis lajang menjadi seorang istri dan ibu, gadis jorok yang terpaksa mengurus suami super rajin, biasanya hanya makan mie sendirian kini harus bisa membuat makanan bergizi untuk keluarga. Soal ranjang pun berubah, ia kini menjadi ahli berbagai macam gaya karena rajin belajar dan praktek.


"Assalamualaikum," ucap Faiq.


"Alam." Yuno ikut menyaut sebisanya. Lalu kembali fokus menonton TV.


Faiq menghampiri dua anaknya di ruang tengah. Sejak ada Kahfi, Yuno tidak lagi berlari menghampirinya ketika pulang kerja. Kini lebih asik bermain dengan Kahfi meskipun umur bayi itu baru dua bulan.


"Abang Yuno main apa sama Dek Kahfi hari ini?" tanya Faiq.


"Mobilan," jawab Yuno singkat, pertanda tidak ingin diganggu. Matanya masih lekat menatap TV.


Faiq mencium Yuno dan Kahfi bergantian sebelum masuk ke dalam kamar. Ia mandi, badannya terasa lengket sekalipun udara dingin.


Makanan disiapkan oleh Myesha dengan baik, Yuno makan dengan lahab sayur dan ikan lele goreng. Tak lupa nasi yang lunak dihidangkan juga. Bocah itu punya meja sendiri. Terjangkau dan dia bisa makan sendiri tanpa disuapi.


Pernah Nindy heran kenapa Yuno sangat berbeda dengan Yuriel, padahal umur mereka sama. Hal itu didasarkan cara mendidiknya. Faiq lebih paham dan tahu cara mendidik anak di usia emasnya, menjadikan Yuno pribadi yang lebih baik.


Di dalam rumah tangga yang sudah lengkap bagi Faiq ada yang kurang. Dua bulan sudah Kahfi lahir, para ibunya juga sudah pulang. Myesha setiap hari sibuk merawat anak-anak. Pekerjaannya menjadi komikus juga terpaksa hiatus.


"Sha," panggil Faiq setelah menyelimuti Yuno.


"Hmm apa?" tanya Myesha setelah menidurkan Kahfi di box bayi.


Faiq semakin mendekat, ada keraguan di dalam ucapan yang akan terlontar. Tapi perlahan pria itu menyentuh bahu Myesha hingga menoleh ke arahnya.


"Nifasmu dah selesai, 'kan?" tanyanya. Hati-hati.


Myesha menggangguk. "Udah lah Mas. Kan Kahfi udah lahir 2 bulan. Emang kenapa?"


Seperti biasa, Myesha tidak peka dengan kode Faiq. "Kalau udah selesai ya berarti bisalah kita itu ..."


Myesha mengerutkan kening, tidak mengerti arah pembicaraan Faiq. Sementara Faiq karena sudah lama tidak iya-iya dia menjadi canggung mengatakannya.


"Apaan sih, Mas? Ngomong yang jelas dong."


Saat ini Faiq ingin berteman dengan dora dan berkata 'katakan peka katakan peka' seperti komen netizen. Tapi apa daya, dia harus blak-blakan supaya keinginannya terpenuhi.


"Jatahku lah, Sha. Tiap hari perhatianmu cuma ke Kahfi dan Yuno. Sementara aku juga butuh diperhatiin."


Mendengar itu Myesha terkekeh pelan. "Emangnya butuh diperhatiin kayak gimana?"


Segera Faiq mendekat dan mencium bibir ibu dua anak itu hingga terpaku. "Kayak gini, udah lama kita nggak anu-anu, mumpung anak-anak udah tidur. Kita anu-anu yuk?"


"Lihat Yuno udah nguasain tempat tidur, tuh." Myesha menunjuk Yuno yang sekarang menjadi rajanya.


"Di lantai atas aja."


"Nggak mau ah, nanti kalau anak-anak bangun kita nggak tahu."


"Yaudah di sofa ruang tengah aja."


Myesha berpikir, jaraknya memang dekat dari kamar. Terjangkau jika anak-anak bangun.


Belum selesai berpikir Faiq sudah membopong Myesha keluar kamar layaknya ninja yang perkasa. Membuat wanita itu terkejut tapi tidak bisa berteriak. Faiq mana tahan dengan kepolosan Myesha.


.


.


.


bersambung.


Kalau suka cerita ini jangan lupa like, komen dan vote. Makasih.