Unknown Baby

Unknown Baby
Kangkung


Beberapa hari berlalu, sore ini Myesha sibuk memasak untuk para polisi yang menjaga rumahnya. Lebih tepatnya mengintai rumah Andre, jika suatu waktu Andre kembali mengambil barang para polisi sudah bersiap menangkap, meski begitu pencarian di seluruh pelosok Lampung tetap dijalankan.


Dengan hati gembira Myesha memasukkan ikan teri dicampur dengan kangkung yang sudah layu. Ikan teri itu hanya dicuci dan tak digoreng lebih dulu. Ia menambahkan kecap cukup banyak lalu memasukkan garam. Akhir akhir ini dia senang membuat menu baru. Hatinya gembira karena tadi pagi datang bulannya selesai.


Teri itu masih segar dan berwarna putih, sementara kangkung yang selama setengah jam di wajan layu sempurna sampai berwarna hitam.


Myesha mematikan kompor, ia menuangkan sayur itu ke dalam mangkok kaca. Mangkok yang berbeda dari biasanya. Beberapa waktu lalu dia belanja online peralatan dapur baru. Menghabiskan uang dua kali lipat dari biasanya sebelum menikah. Hobi baru. Virus emak-emak yang hobi belanja.


"Masak apa nih?" tanya Faiq. Rambutnya masih basah habis mandi.


"Masak spesial dong. Kan aku ngundang para Pak Polisi itu makan malam di rumah. Kasihan mereka berjaga terus dan nggak pulang. Pasti makannya juga nggak teratur."


Faiq terkejut, tidak mungkin ada orang lain yang bisa memakan masakan istrinya selain dia. Bisa mati. Kasihan. Dulu saja ia susah payah menyelamatkan orang tuanya dari masakan Myesha. Tapi Faiq tak bisa jujur, nanti Myesha bisa menangis lagi seperti waktu itu. Apalagi dia sudah berusaha dan niatnya baik karena mengkhawatirkan orang lain.


"Wah, kamu baik banget. Aku bantu, ya?" Faiq mengajukan diri sembari mendekat. Berusaha menyelamatkan nyawa para polisi itu.


"Eh, nggak usah." Myesha menghalangi Faiq menggunakan sutil. Membuat pria itu tak jadi mendekat.


"Udah hampir selesai kok, tinggal ngerebus ayam. Mending Mas isi galon aja." Myesha menunjuk air galon yang hanya tinggal sedikit.


Jantung Faiq berdebar, ayam rebus? Mereka bukan orang China yang suka makan tanpa bumbu. Tapi mereka orang melayu yang suka rempah-rempah!


"Kalau kamu bingung resep bisa buka internet, ketik aja 'resepmakananaman.com' di sana banyak resep makanan yang buat orang nggak mati." Saran Faiq.


"Tenang, aku ada menu baru. Aku nyoba-nyoba buat resep sendiri." Myesha tersenyum lebar. Bangga dengan resep buatannya.


Saat ini Faiq menelan selivanya, ia ingin menangis, memang lidahnya sudah kebal tapi bagaimana dengan para polisi itu? Apakah lidah mereka bisa bertahan dan tidak keracunan? Faiq berharap semoga tidak ada yang mati.


"Cepat, Mas. Isi galon."


Faiq menurut, berjalan mengambil galon dan kunci motor kemudian keluar rumah. Sebelum melewati pintu dia menoleh ke belakang. Takut meninggalkan Myesha sendiri, bukan karena Andre melainkan takut Myesha menghabisi nyawa seseorang dengan masakannya. Sayur maut.


Dengan berat hati Faiq tetap pergi. Di jalan dia berpapasan dengan Riki. Bukannya menyapa Riki malah pura-pura amnesia lagi. Mengegas motornya kencang melewati rumah Faiq. Meninggalkan kepulan asap knalpot.


"Dasar!" Faiq mengegas motornya pelan. Menuju depot pengisian air.


Tak butuh waktu lama dia kembali. Azan isya akan terdengar satu jam lagi, suasana malam di jalan besar selalu ramai. Apalagi cuaca hari ini cerah dan katanya di Metro pusat ada band tanah air yang manggung.


Sesampainya di rumah dua polisi bernama Anton dan Sidik sudah duduk di meja makan. Memenuhi undangan makan malam dari Myesha.


"Itu Mas Faiq sudah pulang." Kata Myesha antusias. Menyambut Faiq yang datang dengan membawa galon. Pria itu segera memasangnya di dispenser.


"Selamat malam." Sapa dua polisi itu ramah.


"Malam, Pak." Faiq balas tersenyum. Setelah memasang air galon dia berjalan untuk duduk berhadapan dengan dua polisi itu.


Myesha mulai menata piring dan menghidangnya beberapa menu. Dari mulai tumis kangkung hitam, sambal tomat hitam, lele goreng garing, sampai menu spesial yakni sup ayam ala Myesha. Jangan ditanya bumbunya.


"Aku khawatir para Pak Polisi makannya nggak teratur karena sibuk jagaian kita. Jadi aku buat menu spesial hari ini." Myesha tersenyum ramah.


Dua polisi itu melihat ke makanan, lalu menatap Faiq dan beralih menatap Myesha. Menelan selivanya. Melihat saja sudah ngeri, bagaimana memakannya?


"Terima kasih."


Sidik duluan, mengambil nasi dan mencoba melalap kangkung hitam itu. Menahan muntah.


"Enak nggak, Pak?" Tanya Myesha.


Sidik mengangguk tanpa bisa berkata, ia langsung menelan tanpa mengunyah. Sementara Faiq menunduk. Merasa kacau.


"Ayo Pak Anton juga makan."


Myesha memberikan potongan paha dari sup ayam itu ke piring Pak Anton.


"Terima kasih." Sebelum makan Anton menelan selivanya. Dilihat dari bentuknya saja sup itu sudah hilang selera, berwarna putih seperti air bekas pasta gigi. Tapi demi menghargai pemilik rumah yang ramah dia beranikan diri untuk makan.


Benar saja, mereka berdua menahan diri untuk tidak muntah. Tahan. Polisi tahan banting. Mereka saling mengcengkram paha setiap kali memasukkan makanan ke mulut. Sungguh ironis.


Tiba-tiba Yuno menangis kencang, membuat Myesha bergegas ke kamar untuk menenangkan bayi itu.


"Kamar mandinya di sana, Pak." Faiq menunjukkan letak kamar mandi. Tahu bahwa dua polisi itu hendak muntah.


Mereka berebut masuk ke kamar mandi dan memuntahkan isi perut. Hingga bergidik ngeri setiap mengingat sup demi sup masuk ke mulut mereka.


Faiq mengikuti mereka ke kamar mandi. Mencoba menyelamatkan mereka dari masakan Myesha.


"Maaf, Pak. Masakan istri saya memang seperti itu. Sebagai ganti rugi nanti saya akan belikan nasi kotak."


Sidik berkumur kemudian mengelap mulutnya. Lalu menatap Faiq.


"Bagaimana bisa anda bertahan dengan masakan seperti itu?" tanyanya penasaran.


"Karena cinta, Pak." Jawab Faiq tersenyum.


"Kami harus pergi sekarang sebelum dipaksa makan lagi, tolong temui kami di mobil depan. Ada sesuatu yang harus kami tanyakan tentang salah satu mayat yang sepertinya berhubungan dengan rumah ini." Anton selesai muntah.


"Baiklah."


Mereka bergegas keluar dari rumah itu. Sungguh dua polisi itu kagum terhadap Faiq karena masih hidup sampai sekarang.


.


.


.


.


Bersambung


Makasih udah mampir dan makasih buat dukungannya. lop lop buat kalian. Alhamdulilah aku dah sembuh, insyaallah up bisa tiap hari sampek selesai season 1.