Unknown Baby

Unknown Baby
Izin


Foto yang berada di samping jam alarm diambil Yuno. Dia duduk di lantai. Tepat di belakang pintu. Di dalam foto itu terdapat Ayah, Bunda, Kahfi, Pinea dan dirinya. Tersenyum cerah dengan baju couple batik berwarna biru. Terlihat seperti keluarga bahagia.


Saat ini Yuno dalam kebimbangan yang luar biasa, ketika sampai di rumah dia mendengar percakapan orang tuanya dengan Sella. Mereka rela mengorbankan nyawa demi dia.


Pilihan yang dibebankan kepadanya sangat sulit. Anak berusia 12 tahun itu harus menentukan pilihan sekarang juga.


"Aku ... aku ingin tetap bersama Ayah dan Bunda. Tapi, bagaimana kalau keluargaku disakiti orang itu?"


Yuno menunduk, air matanya menetes di foto. Menutupi senyum di wajahnya.


Ketika makan siang, Yuno hanya diam. Kahfi belum pulang sekolah sementara Pinea masih asik dengan mainannya di ruang tengah bersama Myesha.


Di meja makan itu hanya ada Faiq dan Yuno. Sedang makan dengan lauk sayur kacang. Juga lalapan daun kemangi.


"Ayah, kalau seumpama aku ikut Ayah kandungku ke Jakarta gimana?" tanya Yuno.


Saat itu juga sendok yang dipegang Faiq jatuh ke piring hingga menimbulkan bunyi. Terkejut dengan ucapan jagoannya. Matanya memandang penuh tanda tanya.


"Kenapa? Katanya kamu tetap ingin bareng kami?"


"Emb ... setelah aku pikir lagi. Kayaknya aku mau ngasih kesempatan ke Ayah kandungku. Aku juga pingin kenal keluarga kandungku, nggak papa kan, Yah?"


Faiq diam. Dia terlalu terkejut dengan perkataan Yuno.


"Apa kamu khawatir soal klinik yang kebakaran? Kamu nggak perlu khawatir soal itu."


Yuno menggeleng. "Nggak kok. Aku cuma pingin lebih kenal sama keluarga kandungku aja. Tapi bukan berarti bakal ngelupain keluarga ini."


"Kamu tahu, 'kan? Kalau seumpama sudah di Jakarta pulang ke Lampung bakal susah? Belum tentu diijinin. Kamu mau ninggalin Pinea dan Kahfi?"


Semua ini juga sulit untuk Yuno, tapi sekali lagi dia tidak ingin terjadi hal buruk terhadap keluarganya kalau dia bersikeras tetap tinggal.


Air matanya menetes tanpa bisa dibendung. Di sesenggukan, dadanya sesak. Beban ini terlalu sulit ditanggung.


"Jangan nangis, udah gede kok nangis." Faiq menepuk punggung Yuno. Mengusap pelan. "Nanti coba bicara sama Bunda. Enaknya gimana."


Mulut Yuno terasa terkunci. Dia tidak bisa berterus terang. Jika dia bercerita tentang ancaman ayah angkatnya, pasti Faiq dan Myesha tidak akan melepaskan dirinya. Di satu sisi dia tetap ingin tinggal, tapi di sisi lain dia ketakutan.


Malam itu keluarga berkumpul, setelah makan malam Yuno mengutarakan keinginannya untuk pergi. Pelukan dari Pinea membuat langkahnya goyah. Air mata dari Bunda membuat hatinya sakit. Belum lagi tatapan kecewa dari Kahfi.


"Lagi pula, banyak kok anak kelas 1 SMP yang sekolah jauh dari keluarga dan pulang waktu udah gede." Yuno menghapus air matanya sendiri. Mencoba menguatkan keluarganya.


"Kamu ingin berkorban demi keluarga ini? Supaya orang itu tidak menggangu lagi? Untuk apa? Keluarga ini rasanya mati kalau tidak ada kamu." Air mata Myesha menetes dengan deras.


"Aku takut kalian kenapa-napa," ucap Yuno sesenggukan. Air matanya membasahi rok Myesha.


"Kamu tidak perlu khawatir, Ayah yang bertugas melindungi keluarga ini." Faiq mengusap kepala Yuno.


Bocah itu menggeleng. "Ayah kehilangan pekerjaan karena aku, klinik dibakar juga karena aku. Orang itu mengancam akan mengambil Pinea. Satu persatu keluarga kita akan dibunuh jika aku tidak ikut."


Saat itu juga Faiq diam. Lawan mereka terlalu kuat, dia tahu bahwa itu bukan ancaman semata. Orang arogan seperti Presdir WterSun akan melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.


"Izinin aku buat ikut dia. Aku akan menjadi kuat dan pulang." Yuno melepas pelukannya, dia menghapus air mata.


Hening, Pinea mendekat dan memeluk Yuno dari samping. Sementara Kahfi, anak cengeng itu sesenggukan di kursi. Tidak bisa memberi solusi apapun.


"Ayah takut kamu tidak kuat di sana."


"Jangan, Yuno. Bunda tidak ingin kehilangan kamu."


"Aku sudah besar, aku anak pertama, tugasnya melindungi keluarga. Tolong izinin aku pergi."


Anak yang dulu berpipi merah ketika pertama kali datang sudah tumbuh besar. Bahkan memiliki keinginan untuk melindungi keluarga. Myesha memalingkan wajah, dia tidak ingin kehilangan Yuno. Bayi jabrik kesayangannya.


Sorot mata penuh keyakinan itu menggetarkan hati Faiq, pasalnya kalau pun mereka pindah tidak ada jaminan Renold berhenti mengganggu. Selama keinginannya belum terpenuhi maka orang itu akan tetap membuat mereka susah.


"Ayah, Bunda, beri aku izin untuk pergi." Yuno memohon.


Masih hening, antara Myesha dan Faiq sama-sama berat untuk menjawab. Sekali mulut mereka bersuara maka anak pertama yang mereka besarkan itu akan pergi, Kamarnya akan kosong, kursi di meja makan tidak akan berpenghuni dan kepan bisa bertemu lagi tidak akan pasti.


Mereka akan dibalut rindu, dibumbui kenangan setiap melihat barangnya, porsi masakan akan dikurangi, dan rasa kehilangan akan terus bersemayam tanpa tahu kapan akan terobati.


.


.


.


.


bersambung


jangan lupa pencet like