Unknown Baby

Unknown Baby
Baju Tidur


"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Myesha, melihat kartu keluarga itu lagi.


"Malam ini juga kita harus melakukannya."


"Yakin malam ini?"


Faiq mengangguk. Kemudian tatapan mata mereka beralih kepada orang tua Faiq yang sedang menimang Yuno. Mereka terlihat bahagia dengan kehadiran bayi mungil itu.


Sesaat mata mereka berpandangan sebelum Myesha berdiri mengikuti suaminya. Mereka sama-sama tersenyum sebelum berjalan dengan kartu keluarga yang masih berada di tangan.


Dengan tatapan yakin mereka berdua berjalan menuju ruang tamu. Tempat Yuno berada. Faiq berdehem ringan membuat para orang tua itu mengalihkan pandangan kepada Faiq dan Myesha.


Tiga minggu berlalu sejak hadirnya Yuno di hidup mereka, merubah kehidupan Faiq dan Myesha secepat kilat. Tak ada satu hari pun tanpa suara tangis Yuno. Aktivitas mereka menjadi sangat sibuk mengurus bayi itu.


"Pak, Bu. Malam ini Yuno tidur dengan kalian ya," kata Faiq.


"La kenapa? Nanti kalau Yuno mau nyusu gimana?" tanya Ibu kandung Faiq.


"Kan ada susu formula, malam ini ada hal penting yang harus aku lakuin sama Myesha." ucap Faiq berusaha mencoba meyakinkan orang tuanya.


"Oalah kamu mau gantian nyusu ke Myesha. Kalau kebutuhan laki-laki gini Bapak paham. Pasti kamu udah nggak kuat nahan selama Myesha melahirkan, 'kan?" Celetuk Ayah Faiq.


Faiq menelan ludahnya, menahan malu karena tidak bisa menjelaskan situasi yang sebenarnya. "I ... iya."


Seketika mata Myesha melotot, tatapannya tajam ke arah Faiq yang berada di sampingnya. Sementara itu Faiq tak berani membalas tatapan Myesha.


"Iya iya kok kita nggak peka. Yaudah malam ini Yuno tidur dengan ibu. Kalian mainlah yang puas." Ibu Faiq mengangambil Yuno yang berada di gendongan suaminya.


"Makasih, Bu. Ayo ke kamar Sha."


Faiq menarik Myesha ke kamar, telinga pemuda itu merah menahan malu. Kini suasana canggung terjadi.


"Aku ganti baju tidur dulu, Mas."


"Iya, aku juga."


Myesha membuka lemari, ada lingeria hadiah dari ibu mertua. Wajahnya malu melihat lingeria berwarna pink itu setelah mengingat perkataan dari ayah mertua, kemudian dia menyingkirkannya dan mengambil baju tidur biasa.


"Aku ganti di kamar mandi. Mas Faiq bisa ganti di sini." Myesha menunjuk kamar mandi.


"Iya," jawab Faiq.


Buru-buru Myesha melesat ke kamar mandi. Jantungnya berdebar. Sebelumnya tak ada debaran apapun bahkan ketika Faiq mengucap janji suci di hadapan Tuhan dan semua orang, tetapi sekarang rasanya berbeda. Atau mungkin karena sekarang Myesha menganggap Faiq sebagai pria bukan sebatas pemilik rumah.


Setelah mengganti baju Myesha menggosok gigi, lalu mencuci muka. Wajahnya basah karena air dan tak sengaja menetes di kacamata.


Ia mengambil kacamata itu, dibersihkan sembari berjalan keluar dari kamar mandi. Tak sengaja matanya bertatapan dengan Faiq yang tengah memandangnya.


"Kenapa, Mas?" tanya Myesha. Ia langsung menunduk lagi membersihkan kacamata menggunakan baju.


Faiq mengalihkan pandangannya dari sang istri. Ia sudah memakai baju tidur. Kemudian berjalan duduk di ranjang. Jantungnya berdegup kencang.


Myesha berjalan menuju meja rias, "bentar, kacamataku bures."


Ia duduk di sana dan mengambil pembersih kacamata. Kemudian melihat ke cermin. Ikat rambutnya hampir terjatuh, tangan kanannya mengambil ikat rambut tersebut.


Rambut hitam sepunggung terurai sempurna. Myesha meletakkan kacamata itu dan menyisir rambutnya.


"Bagaimana komikmu, Sha. Pasti terganggu gara-gara masalah ini?" tanya Faiq masih menunggu Myesha yang menyisir rambut.


Mendengar pertanyaan Faiq, gadis itu berbalik. Menatap Faiq dengan wajah sedih.


"Kacau, Mas. Benar-benar kacau. Aku hampir dipecat."


Bukannya mendengarkan keluh kesah Myesha, Faiq malah gagal fokus karena ini pertama kalinya melihat gadis itu tanpa memakai kacamata dan mengurai rambut indahnya. Tak kucel dan buluk seperti yang Faiq pikirkan sebelumnya. Ternyata Myesha lebih cantik dari yang dia duga selama ini.


Buru-buru Faiq memalingkan wajah, tak ingin memandang gadis itu sebelum jantungnya tak terkendali.


"Nanti kalau orang tua bayi itu sudah ketemu kamu bisa menggambar dengan bebas lagi." Faiq pura-pura mengecek ponsel.


Myesha mengembuskan napas berat, ia kembali membelakangi Faiq untuk menyisir rambutnya di depan kaca.


"Kalau Mas sendiri gimana?" tanya Myesha. Masih fokus pada rambutnya.


"Aku hanya ijin seminggu, besok kita harus pulang ke Metro."


Myesha manggut-manggut tanda setuju. Kemudian dia mengucir rambutnya kembali dan mengenakan kacamata. Menyusul Faiq yang sudah bersandar di kasur sembari memainkan ponsel.


"Harus sekarang ya, Mas?" tanya Myesha sembari duduk.


Faiq meletakkan ponselnya di atas nakas tepat di sebelahnya. Kemudian menghadap Myesha dengan tatapan yakin.


"Kita tidak ada waktu lagi, mumpung Yuno tidur dengan orang tuaku."


Pemuda itu mengatakannya dengan yakin, kini mereka berhadapan. Memandang satu sama lain.


"Iya, Mas. Kita tidak bisa menunda lagi. Apalagi kartu keluarga juga sudah keluar." Myesha meyakinkan dirinya sendiri.


Tak bisa menunda pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan dari awal. Karena terlalu sibuk saat di rumah Myesha dan sangat sulit mencuri waktu. Apalagi orang tua Myesha tak seramah itu sampai mau membantu menjaga Yuno.


.


.


.


Bersambung.


Kalo suka cerita ini jangan lupa like, komen, vote dan share. Makasih.