Unknown Baby

Unknown Baby
Foto


Rumah minimalis berwarna biru. Tak ada pagar dan langsung bersebelahan dengan tetangga. Myesha mengabaikan bayi itu. Tak menerimanya sama sekali, bahkan ketika Tuti hendak memberikan bayi itu kepada Myesha dia langsung melengos dan pergi begitu saja.


Sikap dingin Myesha terhadap bayi itu membuat orang tuanya khawatir. Mereka semakin yakin bahwa Myesha hendak membuang bayi itu seperti perkataan pak lurah.


Sesampainya di kamar, Myesha menghempaskan tubuhnya ke kasur. Meraih ponsel yang berada di saku. Ia menelpon Faiq.


"Hallo, Mas?"


"Iya, Sha. Kamu sudah sampai rumah?"


"Barusan sampai. Ini gimana? Nggak mungkin, 'kan kita nikah beneran?"


"Aku akan memikirkan cara untuk mencegahnya."


Sampai saat itu Myesha masih percaya dengan perkataan Faiq dan menyerahkan urusan ini padanya.


Pintu diketuk beberapa kali, "Mye, bunda mau masuk."


Myesha duduk, merapikan kucirannya yang hendak jatuh. "Masuk aja, Bun. Nggak dikunci."


Wanita itu masuk ke kamar Myesha membawa bayi dalam gendongannya. Kemudian meletakkan bayi itu di ranjang Myesha. Bayi kecil mungil itu tertidur pulas.


"Jika ada sesuatu kamu bisa minta bantuan Bunda, kamu memang tidak bisa membanggakan keluarga. Tetapi Bunda mohon jangan membuat malu lebih dari ini."


Itu bukan bayinya, berapa kali lagi Myesha harus menjelaskan? Pada akhirnya Myesha tak mengulang penjelasannya lagi karena terlalu lelah jika harus berdebat.


Tuti pergi dari kamar Myesha. Membiarkan gadis itu bersama bayi mungil yang kini tertidur pulas. Myesha membaringkan diri di sampingnya. Mengamati bayi itu dengan pandangan iba juga kesal.


"Sebenarnya kamu bayi siapa? Tega banget orang tuamu buang anak seimut kamu."


Myesha melepas kacamatanya, meletakkan di nakas samping tempat tidur. Kemudian berbaring lagi di sebelah bayi.


Ia menyentuh pipi bayi yang masih merah kemudian tersenyum. Ada rasa iba di sana.


"Aku merasa kita senasib. Sama-sama dibuang keluarga."


Perlahan Myesha belajar cara mengurus bayi, dari memandikan sampai menidurkan. Hal yang selalu dia tolak adalah menyusui. Tidak mungkin asinya keluar. Keluarga Myesha masih menganggap bahwa gadis itu belum menerima bayinya maka dari itu tidak mau menyusui.


Hingga hari pernikahan itu tiba tanpa bisa dicegah. Faiq gagal mencegah pernikahan antara dirinya dan Myesha.


Lewat lamaran yang datang, nama anak 'mereka' diputuskan dengan musyawarah antar dua keluarga.


"Yuno," jawab Myesha ketika dimintai pendapat perihal nama bayi itu.


"Putra." Kali ini Faiq yang mengutarakan pendapat.


Pemuda itu juga asal menjawab, ia memilih putra karena bayi itu laki-laki. Hanya sesimpel itu pikirannya. Tak ingin menguras pikiran hanya untuk nama bayi yang bukan darah dagingnya.


"Kalau begitu ditambahi Alamsyah, diambil dari nama Faiq. Jadi nama bayi ini Yuno Putra Alamsyah," ucap Darman, ayah Faiq dengan senyum merekah.


Myesha dan Faiq menghembuskan napas berat. Mereka terjebak dalam sesuatu yang sulit untuk diseleseikan.


Hingga hari pernikahan itu tiba, mereka berdua tidak menemukan cara mengatasi masalah ini. Dengan rasa terpaksa harus menjalani pernikahan yang tak pernah terlintas di pikiran.


"Saya terima nikahnya Myesha Anindita binti Yusup dengan maskawin seperangkat alat solat dan uang senilai lima juta rupiah dibayar tunai."


Kalimat sakral itu terucap dari bibir Faiq, menjadikan Myesha pendamping hidupnya walau dengan jalan terpaksa. Tak lupa dengan pernikahan ini dia juga resmi menyandang status sebagai suami sekaligus ayah.


Faiq hampir gila jika mengingat hal itu. Sekuat tenaga dia menghalangi pernikahan ini, menjelaskan dengan segala cara. Tapi apa daya, bapaknya sangat keras kepala. Dia juga merasa bersalah kepada Myesha yang dia janjikan untuk menyelesaikan masalah.


"Aku ingin mati sekarang, Mas." Sekali lagi Myesha menghapus air di sudut matanya. Tak menyangka pernikahan impiannya berakhir seperti ini.


Mereka duduk bersama setelah ijab kabul, terpaksa tersenyum ketika orang-orang menyalimi. Tak lupa sindirin dari tetangga melayang sempurna. Berkali kali mereka mengembuskan napas berat.


Hanya pernikahan sederhana dengan mengundang tetangga, acara besar-besaran akan dilaksanakan di rumah Faiq.


Sekali lagi keluarga Myesha tak ingin mengeluarkan uang untuk anak pertamanya itu. Malah meminta mahar dan seserahan yang mahal dari ke pihak keluarga Faiq.


"Bunuh aku duluan kalau kamu ingin mati," jawab Faiq. Merasakan hal yang sama dengan Myesha.


Fotografer datang di antara mereka, menyuruh berjejer para keluarga besar untuk foto bersama. Dari pihak Faiq memang terlihat sangat antusias dengan pernikahan ini. Keluarga yang datang dengan rombongan bus besar. Seserahan yang tak main-main dan bahkan melebihi dari permintaan. Sambutan yang cukup menutup mulut tetangga yang selalu ingin tahu seberapa kaya besan Pak Yusup, ayah Myesha.


"Gendong bayi kamu, Mye." Ibu tiri Myesha memberikan bayi mungil yang sudah memakai baju serasi dengan 'ayah' dan 'ibu' nya.


Foto keluarga itu terlihat ceria dari pihak keluarga tetapi senyum terpaksa dari kedua mempelai.


.


.


.


Bersambung.


Kalo suka cerita ini jangan lupa like, komen dan vote. Biar Ka Umay tambah semangat nulisnya.