
Mobil berbelok ke apotek yang tak jauh dari lapangan 16 C. Hanya apotek kecil dengan satu etalase, cukup canggung ketika Faiq memesan tiga testpack. Mungkin, ibunya tidak akan puas hanya dengan satu testpack. Maka dari itu dia membeli tiga. Sekalian dari pada bolak balik menghabiskan bensin.
Waktu menunjukkan hampir pukul delapan, gerombolan anak-anak berseragam biru dan putih abu-abu mendominasi jalan. Angkot berwarna orange penuh mengangkut para pelajar. Jalanan sangat ramai di hari senin seperti ini. Tiba-tiba meminta ijin cuti, sebenarnya Faiq tidak enak hati. Tapi di rumahnya sedang sangat kacau. Tak mungkin dia meninggalkan rumah.
Perutnya berbunyi, lapar. Dia belum sarapan dan hanya makan bakwan sepotong. Apa kabar nasi uduknya? Semoga masih ada ketika dia sampai di rumah.
Dari arah berlawanan ada motor yang berhenti, kemudian dua gadis masuk ke dalam apotek. Faiq menoleh ke belakang dan mendapati Tina dan Susi berjalan ke arahnya.
"Loh, Pak Dokter. Beli apa?" tanya Tina ramah.
Dibanding Susi, Faiq lebih menyukai Tina yang terlihat normal dibanding para tetangganya yang lain. Maksudnya, hampir mendekati normal jika tidak matre ketika dimintai tolong dan sering menghabiskan nasi di rumahnya.
"Wahh ... ada Pak Dokter ganteng." kata Susi mendekat ke Faiq dan berusaha menempel padanya.
Secepat kilat tangan Faiq memegang kepala Susi supaya menjauh. Alhasil Susi tak bisa mendekat, Faiq masih mencoba mewajari sifat centil Susi yang membuat risih.
"Beli obat, kalian sendiri beli apa?" tanya Faiq kembali. Dia tidak bisa jujur.
"Aku mau beli saleb 88," jawab Tina sembari menggaruk pantatnya. Kemungkinan besar ************ gadis itu gatal.
"Aku beli pil KB."
Jawaban Susi membuat Faiq dan Tina memandang dengan tatapan merendahkan. "Ck ck ck." Mereka menggelengkan kepala dan sudah bisa menebak bagaimana kelakuan Susi.
"Lebih baik minum pil KB dari pada buang bayi." Qoutes dari Susi, mencoba membela diri. Walaupun tindakannya sama saja salah. Tetapi Faiq dan Tina tak berkomentar lagi.
"Ini Pak testpacknya." Seorang kasir memberikan plastik ke Faiq.
Sejurus kemudian gantian dua gadis itu yang menatap Faiq dengan tatapan merendahkan. Mengingat Faiq memiliki anak kecil yang baru berusia 3 bulan tetapi sudah harus menggunakan testpack lagi.
"Ck ck ck." Tina dan Susi menggeleng bersamaan. Merendahkan tanpa kata.
"Ini nggak seperti yang kalian bayangkan," kata Faiq setelah merasa dihina oleh dua gadis remaja di depannya.
Faiq memberikan uang seratus ribu dan menunggu kembalian. Sementara Tina sudah menerima pesanannya dan membayar dengan uang yang pas.
"Makanya, Pak. Pakai pengaman. Kalau seumpama Kak Myesha nggak kuat dan Pak Dokter masih nafsu, bisa datengin saya. Punya saya besar loh, Pak." Goda Susi sembari membusungkan belahan dadanya yang besar.
"Nggak perlu, punya istri saya juga besar. Lebih mantap karena cuma saya yang panjat," ucap Faiq dengan bangga karena sudah pernah memanjat gunung istrinya.
"Kalian ini, masih ada aku si orang polos yang nggak pernah gituan." Protes Tina.
Kali ini gantian Susi dan Faiq yang menatap Tina dengan tatapan merendahkan dan tidak percaya.
"Ck ck ck." Mereka berdua tidak percaya dengan kalimat "Polos" dari Tina.
"Aku serius," ucap Tina. Tetapi malah dibalas gelengan kepada ringan dari Faiq dan Susi.
Mobil hitam berhenti tepat di depan apotek, Faiq kenal itu adalah mobil anak Pak Burhan yang dia lihat pagi tadi. Sempat cek cok dengan pria yang menurunkan kaca mobilnya dan melambai pada Susi.
"Bukannya itu anaknya Pak Burhan?" tanya Faiq.
"Iya, dia pacar Susi."
"Sejak kapan?" tanya Faiq lagi penasaran.
"Nggak tahu juga sih, Pak. Kayaknya belum lama."
Faiq manggut-manggut. Kemudian menerima kembalian dari kasir. Memasukkanya ke dalam kantung kemeja dan berjalan keluar apotek mengikuti Tina.
Gadis itu mengendarai motornya, "aku duluan, Pak."
Faiq hanya melambai kemudian masuk ke dalam mobil bapaknya. Kali ini dia juga memakai mobil kijang milik bapaknya untuk ngirit bensin mobilnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Myesha yang sudah sarapan mencoba testpack sementara Faiq makan nasi uduk. Tak penasaran dengan hasilnya. Bisa ularnya belum keluar sedikitpun di gua Myesha, mana mungkin gadis itu hamil. Meski diomeli para ibu karena katanya dia suami tidak perhatian, tetapi Faiq lebih mementingkan makan dari pada mengurusi para emak rempongnya.
Benar saja, hasilnya negatif. Faiq menyuruh Myesha istirahat di kamar atas. Para ibu rempong itu akhinya mau mendengarkan Faiq. Mereka malah berinisiatif membawa Yuno jalan-jalan ke Chandra dan pasar Cendrawasih untuk dibelikan baju baru.
"Iya nggak papa, Bu. Tapi pulangnya jangan kesiangan. Kasihan Yuno harus tidur siang." Kata Faiq memberi peringatan.
"Kalau itu mah ibu juga tahu."
Akhirnya rumah sepi setelah para ibu membawa Yuno belanja. Faiq pikir lumayan juga. Dia bisa istirahat. Setelah mandi pria itu naik ke lantai atas. Berbaring di samping Myesha yang tertidur pulas.
Ingin mengambil cicilannya tapi takut gadis itu terbangun. Akhirnya Faiq hanya bisa memejamkan mata di samping Myesha sampai tertidur dan bermimpi indah.
Setelah tidur beberapa jam Myesha terbangun, rumah sepi tak ada suara apapun. Ia mendapati Faiq yang tidur pulas di sampingnya. Myesha mendekat mencoba memeluk Faiq tetapi dia merasakan basah di bawah. Gadis itu menyingkap selimut dan mendapati celana Faiq basah.
"Ihh Mas Faiq ngompol." Kata Myesha membuat pria itu bangun. Ia mengucek matanya dan melihat arah pandangan Myesha.
"Itu bukan ngompol, Sha."
"Lalu apa kalau bukan ngompol?"
"Itu bisa ular yang minta keluar."
.
.
...
Bersambung
Maaf gengs, kemaren gk enak badan. hari ini pun sebenernya aku masih pingin istirahat. Tapi inget para readers tercinta, Eaaa...
Hargai aku lewat like, komen, dan vote. Biar aku inget kalian terus. Lop lop deh buat kalian.