Unknown Baby

Unknown Baby
Jembatan Penyebrangan


Cinta tidak hadir di setiap rumah tangga, sekeras apapun mencoba jika hati tidak berniat untuk terbuka semua akan sia-sia. Elja sekuat tenaga membuat Ren setia, bisa memandangnya sebagai istri bukan hanya partner dalam menjalankan kekuasaan. Menjauhkan semua gadis yang dekat dengan suaminya itu. Nyatanya apapun yang Elja lakukan Ren tetap tak peduli.


Kini, tangan kekar itu mencekiknya. Punggungnya menghantam tembok. Hembusan napas Ren terasa di wajahnya, kemarahan di mata pria itu terlihat jelas. Sepuluh tahun dia menyembunyikan kebohongan serapat mungkin, namun ntah kenapa Ren bisa mengetahuinya.


"Kau anggap aku bodoh?! Bagaimana bisa kau mengatakan anak yang tidak ada darah keluarga Bagaskara sebagai ahli waris!"


Cekikan itu semakin kuat sampai Elja kesulitan bernapas, dia memukul Ren beberapa kali supaya mengentikan tindakan yang hampir membunuhnya tersebut.


Wajah Elja membiru, butuh oksigen sekarang juga. Dia meronta, tersiksa karena tidak bisa bernapas. Ren melempar leher Elja hingga membuat perempuan itu terjatuh ke lantai. Berkali kali batuk, sekarang Elja bisa bernapas lagi.


"Aku tidak ingin kau bersama anak haram wanita itu!" Elja menatap Ren, masih duduk di lantai dengan memegang lehernya yang merah.


Ren langsung melangkah mendekat dan menjambak rambut bergelombang milik istrinya. Wajahnya terpaksa mendongak ke atas, menatap Ren yang hanya berjarak beberapa centi.


"Aku tidak menerima alasan dengan penghianatanmu! Kau hampir saja membuat darah keluarga Bagaskara tidak bisa berjaya lagi!"


Anak laki-laki yang sepuluh tahun lalu Elja bawa sudah Ren besarkan sebagai ahli waris, tapi baru seminggu ini dia tahu bahwa itu bukan anak kandungnya. Elja berbohong. Menipunya dengan segela bukti palsu. Membuat dia mengakui anak yang salah, sementara ahli waris WterSun yang sesungguhnya masih tidak diketahui keberadaanya.


Kecurigaannya mulai terbukti setelah anak yang dibawa Elja tidak memiliki kecerdasan di atas rata-rata seperti keturunan keluarga Bagaskara, awalnya Ren pikir itu karena didikannya yang salah, namun ketika dia melihat langsung anak itu hanya anak biasa. Tidak mencerminkan keturunannya sama sekali. Terlebih tidak ada kemiripan dengan Archie sama sekali. Dia pun tes DNA. Juga membawa surat tes DNA yang dulu Elja berikan untuk dicocokkan.


Ternyata dugaannya benar, anak itu bukan ahli warisnya. Dia marah besar dan langsung membuang anak berusia 12 tahun yang susah payah dibesarkan.


Tak menyangka Elja akan menipunya habis-habisan selama 10 tahun. Ren langsung mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keturuannya yang asli.


"Maaf, aku sungguh tidak ingin kamu mengingat perempuan itu lewat anak kandungnya." Elja menangis. Dia putus asa karena cinta.


Dari kecil, Elja selalu mendapatkan apapun yang diinginkan. Tak terkecuali Ren, dia mendapatkan raga pria itu tapi tidak dengan hatinya.


"Itu bukan alasan yang masuk akal!" Sekali lagi Ren memukul Elja. Membuat wanita itu semakin frustasi dan hanya bisa menangis di ruang kerja Ren.


Lebih dari Elja, Ren sangat sedih dan kecewa. Dia meninggalkan Elja yang penuh luka lebam. Pergi ke club malam dan melepas beban di sana, berjoget di sana seolah baik-baik saja.


Ren berlari meninggalkan club itu, tanpa supir berjalan di samping jalan raya. Orang-berlalu lalang tak dia pedulikan.


"Archie, di mana anak kita?!" Teriaknya frustasi.


Dia pikir telah menemukan anak itu, dia pikir setidaknya bisa menyelamatkan anak itu, tidak seperti Archie yang mati sia-sia. Setidaknya dia bisa melihat Archie dari sosok anaknya. Namun 10 tahun dia salah besar.


Wanita yang dia kira hanya numpang lewat, ternyata mampu memberi luka di hatinya yang dingin. Senyum hangat dari gadis itu terus membayanginya setiap malam. Bahkan ketika dia bercinta dengan Elja ataupun gadis lain, hanya wajah Archie yang terlihat. Jika ini cinta, apakah dia sudah terlambat menyadarinya?


"Apa jika aku bilang bahwa telah jatuh cinta padamu, kau akan kembali?!" Ren berada di jembatan penyebrangan. Sepi orang. Dia melihat mobil berlalu lalang di bawahnya.


Nyatanya ungkapan cinta itu terlambat 12 tahun. Wanita dengan senyum hangat itu telah tiada, meninggalkan dia dan anak mereka yang tidak diketahui keberadaannya. Waktu 12 tahun tidak bisa diulang. Mereka tidak bisa menjadi keluarga seperti keinginan Archie dulu.


"Archie ... maaf." Ren menunduk, air matanya jatuh di jalan raya. Tanpa sadar kalimat itu terucap.


Semua telah berlalu dan tidak bisa terulang. Orang mati tidak bisa hidup lagi, yang tersisa hanya kenangan berbalut penyesalan.


Orang yang lewat jembatan penyebrangan itu hanya melihat Ren dengan aneh, seorang pria menangis tersedu-sedu sendirian. Tapi saat ini tak ada yang Ren pedulikan, rasa rindu sekaligus rasa sakit di hatinya tidak tertahankan.


Dia pikir sudah menemukan anak Archie, nyatanya selama 12 tahun keberadaan anak itu masih belum diketahui. Dengan bodohnya percaya bahwa Elja akan menjaga anaknya dengan baik. Sekarang, anak itu masih hidup atau tidak Ren tidak mengetahuinya.


Mungkin memang sulit menjadi ayah yang baik, namun Ren berjanji akan memberikan semua yang dia miliki untuk anak itu. Supaya ketika di alam sana saat bertemu Archie dia bisa meminta maaf.


.


.


.bersambung.


vote ya gengs. Buat rank terakhirnya Unknown Baby.