Unknown Baby

Unknown Baby
Benda Segi Empat


Myesha segera turun dari ranjang, sedikit berlari ke arah kopernya. Mencari kalung berinisial namanya dan nama Faiq tersebut. Setelah mengecek hampir semua tempat akhirnya ia menemukan kalung perak berbandul bintang itu terselib di bagian bawah.


Terlihat bersinar dan cantik, pertama kali Myesha lihat pun dia merasa itu bukan kalung biasa yang dibuat secara iseng.


"Ini, Mas." Gadis itu memberikan kalung itu kepada Faiq.


Pria itu mengamatinya, melihat lebih detail ukiran yang ada di sana. Keningnya berkerut setelah menemukan sesuatu yang ganjil.


"Sepertinya ini bukan inisial nama kita, tapi kata yang nyambung. MA dan FAA. Kalau digabung MAFAA. Kamu tahu sesuatu tentang ini?"


Kening Myesha berkerut mendengar penuturan Faiq. Ia mengambil kalung itu dan gantian mengamati. Kemudian kepalanya menggeleng tanda tak mengerti.


"Besok kalau sudah sampai Metro, aku coba cari tahu kalung ini di toko emas. Sepertinya ini bukan kalung murahan."


"Iya, kayaknya ini bukan kalung palsu."


Myesha menyimpan kalung itu di dompetnya, kemudian diletakkan di laci.


"Oh ya soal rumah gimana? Terus pembagian jaga Yuno."


Mendengar pertanyaan Myesha, Faiq berpikir keras. Bagaimana menjaga bayi itu ketika mereka harus bekerja.


"Soal rumah aku bisa buka gembok yang menuju tempatmu. Ada tangga ke lantai atas tapi selama ini aku menutupnya. Nanti bisa dibuka supaya kita tinggal satu tempat biar lebih mudah.


"Lalu tentang pekerjaan, kamu bisa menjaga Yuno dari pagi sampai sore, setelah aku pulang kerja kita bisa gantian."


Myesha tampak keberatan, "berarti seharian waktuku terbuang. Deadline numpuk. Apa nggak bisa kita titipin Yuno ke orang?"


"Nggak bisa, kamu tahu sendiri kalau kita sudah dicap buruk. Mana bisa nitipin Yuno? Kamu tenang saja, semua kebutuhan Yuno dan kamu semua aku yang tanggung."


Mendengar itu Myesha mengembuskan napas berat, masih keberatan. Pekerjaannya saja sudah kacau dan sekarang ditambah harus mengurus bayi. Rasanya semakin stres.


Tok tok ....


Pintu diketuk, tatapan Faiq dan Myesha langsung ke arah pintu.


"Faiq, Myesha. Ibu mau ngasih barang penting. Buka bentar." Suara ibu kandung Faiq.


Mereka saling lirik, "gimana?" bisik Myesha.


Faiq mengambil selimut, menutupi dirinya. Kemudian tangannya meraih kancing baju Myesha paling atas. Secara reflek dihentikan tangan Myesha dengan tatapan melotot.


"Kamu yang buka pintunya, kancingmu buka dikit biar Ibu nggak curiga," ucap Faiq berbisik.


Saat itu juga otak lemot Myesha baru paham apa yang dilakukan Faiq. "Aku bisa membuka kancingku sendiri."


Myesha turun dari ranjang sembari membuka tiga kancing baju. Memperlihatkan bra hitamnya. Sangat sexy dengan belahan dada sempurna.


"Ada apa, Bu?"


"Pakaikan ini ke Faiq." Ibu memberikan benda tipis segi empat.


Myesha menerimanya walau tidak tahu apa itu. "Makasih, Bu."


"Kalian silakan lanjutkan." Ibu tersenyum sebelum berlalu meninggalkan Myesha.


Setelah menutup pintu Myesha berbalik menuju ranjang sembari mengamati benda segi empat itu. Sementara Faiq mengambil bajunya dan memakainya kembali.


Akibat rasa penasaran Myesha membuka benda yang ibu Faiq minta untuk dipakaikan ke Faiq. Keningnya berkerut setelah melihat benda yang berada di dalamnya. Ia membenarkan kacamata sebelum menunjukkan benda itu kepada Faiq.


"Kenapa aku harus memakaikan balon padamu?" tanya Myesha sembari menunjukkan benda yang dikira balon tersebut.


Faiq membuang muka, tak ingin melihat Myesha yang menunjukkan benda itu tepat di depan matanya.


"Buang benda itu."


Myesha tak mengerti dan malah duduk di depan Faiq, masih mengamati benda tersebut.


"Ibu emang aneh-aneh sih, yaudah nanti aku buang," kata Myesha sembari meletakkan benda itu di atas nakas.


Faiq masih membuang muka, matanya beralih ke tempat lain karena merasa tak nyaman akan sesuatu. Menyembunyikan rasa malu yang kini hinggap. Ia juga terlalu malu untuk menjelaskan fungsi benda yang tengah dipegang Myesha.


"Ayo, Mas. Kita lanjutin diskusinya."


Kini Myesha kembali ke posisinya. Berhadapan dengan Faiq di ranjang. Tetapi Faiq masih memalingkan wajah membuat Myesha heran.


"Sha, kancingin dulu bajumu," ucap Faiq cangggung.


Seketika Myesha melihat ke kancing bajunya yang terbuka hingga menampakkan belahan dada.


"Akh ... Aku lupa." Myesha menunduk malu dan buru-buru mengancingkan bajunya.


.


.


.


bersambung.


Kalo suka cerita ini jangan lupa like, komen, vote dan share. Makasih.