Unknown Baby

Unknown Baby
Bubur Kacang Ijo


Faiq mengerjap setelah mendengar adzan subuh, perlahan matanya terbuka. Masih ada kain kompres di dahi, ia melihat ke samping tempat tidur tak ada Myesha, kemudian dia melihat ke samping kiri dan menemukan Myesha tidur sembari duduk.


Faiq mengambil kain yang berada di dahinya kemudian meletakkan di baskom di samping Myesha, perlahan ia duduk dan memeriksa tubuh panasnya sudah turun tetapi kepalanya masih berdenyut.


Matanya melirik jam dinding, pukul 4.30 pagi. Ia turun dari ranjang sembari mengancingkan baju.


"Kau sudah bekerja keras, terima kasih," ucap Faiq lirih.


Pria itu mengangkat Myesha yang tengah tertidur karena kelelahan ke atas ranjang, "berat banget."


Padahal di film mengangkat tubuh gadis terlihat ringan seperti bulu, tetapi tidak di kenyataan.


Walaupun masih merasa tidak enak badan Faiq tetap menjalankan kewajibannya, ia memutuskan untuk ke kamar mandi dan salat subuh.


Kepalanya masih berdenyut, tidak bisa berlama-lama duduk. Ia mengurangi wiridannya hari ini.


Pemuda itu mengambil air minum dan memutuskan untuk tidur lagi disamping Myesha, entah sejak kapan tapi sekarang di mata Faiq, Meysha tidak lagi jelek. Pemuda itu memandang wajah sang istri yang tengah tertidur lelap, ia menyibakkan anak rambut yang sebagian menutupi wajah. Myesha mendengkur dan ada air liur di sana.


Sinar matahari telah meninggi, Yuno menangis kencang. Seketika itu juga Myesha terbangun, masih linglung dan tak sadar bahwa dia telah berpindah tidur.


"Kapan aku pindah?" Gumamnya.


Buru-buru gadis itu merapikan ikat rambut yang hampir terjatuh, mengelap air liur dan membalik bantal yang basah. Kemudian mengambil kacamata yang berada di atas nakas, lalu turun dari ranjang menghampiri Yuno.


"Pasti popokmu sudah penuh," ucap Myesha melihat popok Yuno.


Benar saja bayi itu tidak nyaman karena popoknya sudah penuh, Myesha segera melepasnya.


Yuno sekarang tidak memakai baju, Myesha segera memandikan bayi itu dan memakaikan popok baru.


Waktu menunjukkan pukul 6.30, setelah Yuno anteng Myesha mengganti pembalut sementara Faiq masih tertidur.


Tak Tega membangunkan Faiq untuk menjaga Yuno, akhirnya gadis itu membawa sang bayi keluar rumah untuk membeli bubur di mini market samping.


Hanya perlu keluar dari gerbang dan berjalan beberapa langkah sampai di minimarket, terlihat Riki sedang merapikan barang.


"Ada bubur kacang ijo nggak?" tanya Meisya pada Riki.


Pemuda itu menunjuk kardus berisi bubur kacang ijo yang pagi ini diantar Mbok Sumi sang penjual bubur keliling.


"Setelah punya anak Meisya tambah cantik saja," gombal Ricky seperti biasa.


Pemuda itu berdiri sembari membawa kardus kosong, menghampiri Myesha yang tengah memilih bubur kacang hijau.


"Utang pulsaku waktu itu udah aku bayar atau belum, aku lupa?" tanya Myesha menoleh ke samping setelah mendapatkan 2 bubur kacang hijau yang dianggap lebih besar dari yang lain.


"Udah aku tagih ke suamimu, kamu kebiasaan lama bayar utang pulsa jadi macet duitnya," keluh Riki.


"Ih kamu. Jangan minta ke Mas Faiq, kalau aku utang kamu nagihnya harus ke aku."


"Aku butuh duit, eh bayi ini tambah besar ya?" Riki tersenyum melihat bayi mungil yang berada di gendongan Myesha.


Meisya mengerutkan kening, "Bukannya Ini pertama kali kamu melihat Yuno?"


Riki memalingkan wajah, ia gugup. "Itu aku pernah melihat sekilas."


"Kapan?" tanya Myesha lagi, semakin penasaran.


"Kapan ya lupa, ini semuanya Rp12.000," ucap Riki mengalihkan pembicaraan sembari menyodorkan plastik hitam berisi dua bubur dan kangkung yang baru saja dimasukkan Myesha.


Myesha mengambil uang yang ada di sakunya menggunakan tangan kiri kemudian memberikan uang itu kepada Riki.


"Kalau sudah ingat beritahu aku ya," sindir Myesha penuh arti. Merasa Riki menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tentu."


Gadis itu keluar dari minimarket dengan perasaan penuh curiga, dari awal Riki sangat mencurigakan.


Tetapi sekarang prioritasnya adalah membuat Faiq sembuh, gadis itu menghembuskan napas berat sembari berjalan menuju rumah.


Iya meletakkan Yuno di box bayi kemudian mengambil mangkok di dapur.


"Mas makan bubur dulu habis itu minum obat," ucap Myesha sembari meletakkan bubur di atas nakas di samping Faiq.


Mata pria itu terbuka perlahan, wajahnya masih pucat. Ia duduk dan memijit kepalanya yang berdenyut.


"Apa panasnya udah turun?" Myesha menempelkan tangannya di dahi Faiq.


Mata pria itu kini memandang Myesha yang khawatir, "sudah baikan."


.


.


.


bersambung.


Vote yg banyak ya, jangan biarkan jari kritingku sia-sia.