Unknown Baby

Unknown Baby
Sakit


Ada yang berubah dari Yuno, sejak kemarin dia berubah menjadi pendiam. Padahal, Myesha dan Faiq sudah berkata tidak akan ada yang berubah walaupun kenyataan sudah diungkapkan. Tapi anak itu tetap juga ketus kepada kedua adiknya, merasa bukan bagian dari keluarga dan ingin selalu menyendiri.


Bahkan kepada Pinea yang masih kecil pun dia tidak segan, batita itu menangis karena Yuno mendorongnya, Myesha yang menyaksikan itu semua tidak bisa tinggal diam. Dia tahu Yuno terluka, tapi bersikap kasar kepada orang lain bukan tindakan yang tepat.


"Aku kan sudah bilang tidak mau main!" Dia bahkan membentak bocah batita itu. Membuatnya semakin menangis kencang.


"Yuno! Kenapa kamu jadi kasar? Pinea kan cuma ngajak main." Myesha segera menggendong Pinea yang terjatuh di lantai. Menenangkan anak perempuannya itu.


Kahfi turun ke lantai bawah setelah mendengar keributan. Dia terpaku di tangga melihat keluarganya bertengkar.


"Kenapa Bunda belain Pinea? Apa karena dia anak kandung dan aku bukan?!" teriak Yuno. Merasa semuanya adalah salah. Dia butuh pelampiasan.


Myesha geram melihat tingkah Yuno yang melampiaskan kekesalan kepada semua hal. Pinea tidak bersalah, dia hanya anak kecil yang selalu berlari ke arah Yuno setelah melihat kakaknya itu pulang sekolah. Tapi hari ini, jangankan Yuno menggendongnya, bocah berusia 12 tahun itu malah mendorong Pinea menjauh sampai terjatuh. Tindakan kasar yang belum pernah Yuno lakukan sebelumnya.


"Bunda tidak pernah membedakan kalian!"


"Bohong! Harusnya Bunda nggak ngasih tau aku sampai akhir! Bunda mengatakannya karena pingin bedain kami kan?!"


"Kenapa kamu bicara begitu? Bunda mengatakan yang sebenarnya karena kamu berhak tahu."


"Aku nggak butuh tahu! Aku nggak pingin tahu! Bunda mengatakannya karena nggak sayang sama aku! Bunda cuma sayang sama anak kandung Bunda bukan anak pungut!"


"Kamu salah, Bunda menyayangi kalian dengan cara yang sama. Bunda nggak pernah membedakan kalian!"


"Bunda bohong! Gimanapun Bunda pasti lebih sayang sama anak kandung dan akan membuangku!"


Plak!


Untuk pertama kalinya Myesha menampar Yuno, keras di pipi sebelah kiri. Dia sendiri bahkan tidak sadar melakukan tindakan melukai anak kesayangannya itu.


Kahfi yang melihat itu berlari mendekat, dia belum paham apa yang terjadi. Namun, dia tahu bahwa harus melerai pertengkaran ini.


Tatapan tajam dari Yuno dengan penuh kebencian mengarah ke Myesha, dia melempar tasnya asal dan berlari keluar dari rumah.


"Bang!" Kahfi berlari mengejar Yuno keluar rumah. Namun anak itu sudah mengendarai sepedanya keluar gerbang.


Sementara Myesha masih terpaku di tempat, dia melihat ke tangan kanannya yang untuk memukul Yuno. Tangan yang sangat lembut ketika menidurkan bayi jabriknya, tangan yang wangi sabun ketika memandikan bayi dengan pipi gembul kebanggaannya.


"Yuno!" Myesha berbalik.


Bocah itu sudah tidak ada. Meninggalkannya dengan penuh amarah. Air matanya menetes, sama dengan Pinea yang saat ini sedang menangis.


Myesha pikir Yuno akan mengerti, dia kira Yuno sudah cukup dewasa untuk memahami kasih sayangnya. Ternyata Yuno hanyalah anak biasa yang sedang terluka. Kecupan Yuno di pipinya yang sering bocah itu lakukan dari berumur 2 tahun sampai sekarang terasa memudar. Hatinya sakit melihat kemarahan Yuno, dia merasa bersalah karena telah menamparnya.


Tak jauh berbeda dengan Myesha, saat ini Yuno sedang menangis dengan mengendarai sepedanya dengan kencang. Dia bahkan tak tahu arah tujuan. Pipinya terasa perih karena tamparan Myesha, namun hatinya jauh lebih sakit.


Tikungan di jalan berbatu tak terkenali karena dia dalam kecepatan tinggi, alhasil Yuno jatuh dan sepedanya terpental cukup jauh. Kakinya terluka.


"Kenapa aku bukan anak kandung Ayah dan Bunda?" Yuno menangis, rasa sakit akibat kaki yang terluka tidak terasa sama sekali.


Baju putih dengan celana biru itu kotor, sikunya berdarah. Yuno terus menangis, air matanya jatuh ke tanah. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa bukan anak kandung dari orang tuanya, terlebih dia ternyata berbeda dengan Kahfi dan Pinea.


Tikungan itu sepi, hanya ada sawah kanan dan kiri, jarang orang lewat jika tidak berniat ke panti asuhan atau ke ladang.


"Astagfirullahalazim, Yuno!" Pekik Rizal.


Dia berlari mendekat, membawa bungkusan plastik berwarna putih transparan. Ada sabun mandi di sana, baru beli dari warung pinggir jalan.


Rizal terlihat panik, pasalnya Yuno terus menangis sembari menunduk. Dia melihat lutut dan siku anak itu berdarah.


"Pasti sakit? Ayo aku anter ke dokter."


Rizal mencoba membantu Yuno berdiri, tapi bocah itu tidak mau berdiri. Dia malah menekan dadanya, memukul beberapa kali. "Sakit, di sini rasanya sakit."


Rasa sakit di hatinya melebihi luka fisik akibat jatuh, terlebih akibat tidak bisa menahan rasa sakit dan kecewa itu dia telah melukai bunda dan adik kecilnya. Begitu sesak dan tak ada obat. Yuno terus menangis. Rizal hanya bisa bingung melihatnya, tak tahu harus berbuat apa.


.


.


.


bersambung.