
Mata mereka bertemu, pria itu telah banyak berubah. Tetapi satu yang pasti, senyum itu masih sama. Ketika menolong Myesha yang jatuh dari selokan. Awal mula cinta bersemi dan tumbuh subur seperti terkena pupuk kandang.
"Kamu nggak papa 'kan?" tanya Dhamar sembari mengulurkan tangan. Sorot matanya terlihat khawatir melihat adik kelas yang malang.
Dengan tangan kotor terkena air selokan Myesha menyambut uluran tangan itu. Menerima kalimat yang sangat hangat di kala hujan deras. Myesha menggeleng perlahan, kemudian melihat sepatunya terbawa arus. Awal mula dia bisa jatuh keselokan adalah akibat keisengan teman sekelasnya yang melempar sepatunya ke selokan. Myesha mengejar hingga terpeleset dan ikut masuk.
"Ada yang sakit nggak?" tanya Dhamar lagi setelah Myesha berada di jalan samping aspal.
Dua anak laki-laki jail yang mengganggu Myesha lari setelah Dhamar datang. Takut perbuatan mereka dilaporkan ke pihak sekolah.
Sekali lagi Myesha menggeleng. Dhamar menggunakan mantel hujan sementara Myesha basah kuyup dengan seragam putih abu-abu, ia melirik motor tua miliknya.
"Ayo aku anter pulang. Bisa jalan 'kan?"
"Bisa, makasih Kak."
Myesha kenal dengan Dhamar, pria idaman sejuta umat di SMA nya. Pintar, pekerja keras dan ramah. Nada bicaranya manis walaupun hanya berbicara sedikit.
Dibonceng Dhamar sungguh seperti mimpi, walaupun air hujan sangat besar hingga membuat wajahnya sakit jika terkena tetapi perasaan senang itu muncul tak hingga.
Sejak saat itu Myesha menjadi barisan cewek yang setia memberikan kado di laci Dhamar, beruntung Dhamar menjadi anggota clup gambar. Dia semakin bisa dekat dan curi-curi perhatian.
Kembali lagi ke hari ini, setelah sekian lama menyimpan perasaan dia akan mengutarakannya. Bahwa sejak uluran tangan berbau selokan dia jatuh cinta. Ia ingin perasaan yang tersimpan lama tuntas hari ini juga.
"Maaf ya Mye. Lama." Dhamar duduk berhadapan dengan Myesha. Ia mengarahkan pandangan ke sekitar restoran.
"Iya nggak papa. Kita pesen makan dulu yuk."
Myesha memesan makan, ayam bakar dan sop buah. Sementara Dhamar memesan sate kambing, lele bakar dan jus jeruk.
"Gimana kerjaan Kakak, lancar?" Myesha memulai pembicaraan sebelum makanan datang.
"Lancar. Namanya ajudan DPR harus siap siaga. Apalagi kalau nyangkut gelapin uang rakyat harus siap nutupin."
"Hahaha Kakak bisa aja."
Padahal Dhamar serius, tapi dia tidak membahasnya lebih lanjut. Hanya ikut tertawa. Tak pantas juga membahas keburukan dan kebusukkan pejabat yang dia layani.
Mereka bercerita banyak hal, kecuali Myesha menutupi soal baby dan Faiq. Belum, dia akan menceritakannya nanti. Jika sudah mengetahui jawaban Dhamar soal perasaannya.
Makanan datang, disambut dengan perut lapar yang berbunyi. Mereka makan lahap hingga hanya tersisa tulang belulang dan air kobokan. Waktu menunjukkan pukul tiga sore saat mereka selesai makan.
"Oh ya, katanya kamu mau bilang sesuatu," ucap Dhamar sembari meminum jus jeruknya.
"Kalau aku bilang dari dulu aku menyukai Kakak apa Kakak akan percaya?"
"Tentu, mana mungkin kamu membenci orang tapi mau makan bareng."
Mendengar itu Dhamar terdiam sesaat, tak menyangka Myesha akan mengatakannya. Saat itu Dhamar sadar bahwa sorot mata Myesha menunjukkan keseriusan bukan gurauan semata.
"Kamu tahu 'kan kalau aku punya pacar?"
Myesha mengangguk. Dia masih ingin mendengar jawabannya sekalipun mengetahui kenyataan.
"Maaf, Mye. Orang yang kucintai Zara bukan kamu. Aku hanya menganggapmu sebagai adik tak lebih."
Itu adalah jawaban yang sudah ia duga. Ntah kenapa mendengar penolakan hatinya biasa saja. Sebenarnya, Myesha hanya ingin memastikan hal itu. Apakah masih menyukai Dhamar atau tidak? Apakah perasaan masih sama seperti dulu setelah melalui banyak hal bersama Faiq? Apakah jika berjauhan dengan Faiq dan Yuno dia bahagia dan senang? Ternyata jawabannya adalah tidak.
Myesha tertawa dan menepuk pundak Dhamar.
"Hahaha aku bercanda. Aku cuma mau ngasih tahu kalau sebenarnya aku udah nikah." Myesha menunjukkan cincin di jari manisnya sembari tersenyum bangga.
"Eh, serius?" tanya Dhamar kurang percaya.
Myesha mengangguk dengan yakin dan menunjukkan foto pernikahannya.
"Aku juga udah punya anak, namanya Yuno. Dia imut banget, 'kan?" Myesha menunjukkan foto bayi imut itu.
Ketika mengenalkan keluarga kecilnya dengan perasaan bahagia membuat gadis itu yakin bahwa telah menerima Faiq sebagai belahan jiwa. Yuno sebagai anak dan dirinya sebagai istri dan ibu. Ternyata terasa menyenangkan.
Hari ini, Myesha telah mengubur cinta pertamanya dan menyadari cinta baru untuk keluarga kecilnya. Ah, apa kabar Yuno? Apa Mas Faiq bisa mengurus Yuno di rumah? Pertanyaan itu muncul begitu saja.
"Kok kamu nggak bilang kalau nikah, kan aku bisa numpang makan."
"Hahaha maaf, dadakan sih. Kalau mau ngamplop bayarin ini aja ya Kak."
Dhamar mengacak rambut Myesha gemas, "anak yang jatuh ke got ternyata udah besar."
"Hehehe." Myesha tersenyum, rasanya lega.
.
.
.
.
bersambung
jangan lupa vote ya.