Unknown Baby

Unknown Baby
Kado


Kejadian tadi malam berbuntut panjang. Pak Burhan dan seorang pria bernama Kemal berhasil ditangkap dan ditahan polisi, namun Andre berhasil meloloskan diri. Saat ini rumah Pak Burhan dibatasi garis polisi. Awak media tak henti-henti meliput kejadian perkara.


Sekarang hari sabtu. Faiq kesulitan karena dia merupakan saksi mata satu-satunya. Acara ulang tahun Myesha diundur. Kado belum diberikan dan kue yang susah payah dia dapat ditempatkan di kulkas.


Tak apa, Myesha menyadari situasi sekarang di luar perkiraan mereka berdua. Faiq masih di kantor polisi, memberikan kesaksian dari tadi malam.


Dia bersedia ikut setelah detektif Dito berjanji akan mengirim polisi untuk menjaga rumahnya. Andre belum ditemukan, takut datang dan menyakiti Myesha.


"Terima kasih atas bantuannya," ucap kepala penyidik. Ia mengantarkan Faiq keluar dari kantor polisi dari pintu samping. Menghindari awak media.


"Apa mereka sudah mengaku?" tanya Faiq penasaran.


"Ternyata banyak sekali korban mereka, salah satunya mayat perempuan tanpa identitas yang ditemukan tak jauh dari jalan dua jalur beberapa bulan lalu."


Faiq menggelengkan kepala, tak menyangka memiliki tetangga psikopat.


"Sebenarnya apa motif mereka membunuh?" tanya Faiq lagi.


"Yang pertama kita juga belum tahu, karena mayat perempuan itu tak memiliki sangkut pautnya dengan bisnis. Mereka berkata bahwa tersangka Andre hanya menginginkan wanita itu mati tanpa motif yang jelas.


"Yang kedua bisnis, orang-orang yang menghalangi atau pun saingan Pak Burhan menjadi target. Ada juga karena motif dendam. Semua masih kami telusuri."


Mobil Faiq sudah di depan mata. Ada kado untuk Myesha di jok belakang. Ia mengembuskan napas berat, kasihan terhadap istrinya itu.


"Anda tenang saja, seperti pesan detektif Dito kami akan melindungi saksi dan keluarganya sampai kasus ini tuntas."


"Terima kasih."


Faiq tersenyum sebelum mereka berjabat tangan dan berpisah. Sekarang pukul tiga sore. Kepalanya sangat berat karena tidak tidur.


Bersyukur besok adalah hari minggu, dia bisa tidur nyenyak di rumah. Sesampainya di rumah ia disambut myesha yang menggendong Yuno. Bayi dengan rambut jabrik itu tersenyum ceria ketika melihatnya.


"Mas udah makan belum?" tanya Myesha khawatir dengan keadaan Faiq.


Sementara itu Faiq malah mengambil Yuno dari gendongan Myesha. Menimang dan menciumnya gemas. Pipi gembul bau bedak bayi.


"Tolong siapkan ya, aku lapar."


Myesha mengangguk dan segera ke dapur, memanaskan makanan dan menatanya di meja makan. Semalaman dia gelisah dan tidak tidur nyenyak. Memikirkan Faiq yang berada di kantor polisi.


Faiq mengikuti Myesha setelah menaruh Yuno di kereta bayi, mendorongnya sampai di samping kursi dapur. Kemudian berjalan mendekati Myesha yang sedang memanaskan sup.


Perlahan memeluk Myesha dari belakang hingga membuat wanita itu terkejut. Faiq tak peduli, dia melingkarkan tangannya di perut Myesha dan bergelayut manja. Menempelkan dagunya di bahu wanita itu.


"Capek banget, ya?" tanya Myesha sembari mengusap rambut Faiq.


Pria itu mencium leher Myesha dengan cepat dan menempelkan pipi mereka.


"Aku minta maaf, ulang tahunmu jadi kacau."


Myesha mengaduk supnya, mencicipi sup yang baru saja dia tambahkan garam.


"Nggak papa, Mas selamat aja aku udah seneng. Ayo makan."


Myesha mematikan kompor, lalu berbalik memandang Faiq yang berwajah suram. Masih tidak senang karena ulang tahun yang kacau.


Perlahan ia menunduk dan memiringkan wajahnya, mencium bibir lembut Myesha dengan kedua tangan meraih pinggang. Semakin mendekat dan menempelkan tubuh.


Myesha berusaha mengimbangi kegalauan suaminya. Ia meraih leher Faiq. Mengalungkan kedua tangannya di sana.


Pertukaran air liur pun terjadi, lebih nikmat dari pertukaran pelajar. Faiq tak bisa menahan tangannya, terus bergerilya mencari pegunungan seakan mendaki himalaya. Menyibak baju berwarna putih seputih butiran salju.


"Mas, aku lagi datang bulan." Protes Myesha menghentikan ciumannya.


"Iya tahu, cuma nyicil doang kok."


"Bentar lagi," kata Faiq. Tangannya masih meraih puncak gunung. Bermain di sana hingga membuat Myesha harus menahan rasa geli luar biasa. Ciuman itu hendak mendarat lagi tetapi seakan mengerti kondisi emaknya, Yuno menangis. Meminta jatah perhatian dari dua orang yang asik sendiri itu.


Segera Myesha mendorong Faiq menjauh, ia menghampiri Yuno dan menggendongnya.


"Cup cup cup," ucap Myesha. Mencoba menenangkan Yuno.


Faiq kalah, dia akhirnya duduk dan makan. Menghabiskan masakan istrinya yang lumayan asin itu. Tak apa, lidahnya sudah kebal.


Selesai makan dan mandi, Faiq memberikan kado untuk Myesha. Masih terbungkus rapi. Mereka duduk di ruang tengah. Ada Cucut Casper Castilo di sana, sudah Faiq gosok punggungnya dua hari yang lalu.


"Wah makasih."


Myesha menerimanya, sementara Yuno Faiq ambil. Ia yang menggendong bayi itu sekarang. Sangat imut dengan empeng berwarna biru dan rambutnya yang semakin tegak.


"Cepat buka."


Myesha membukanya, album foto. Masih kosong. Ada secarik kertas di sana.


Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Setiap hari, setiap waktu dari bangun tidur sampai tertidur lagi. Dari ijab kabul sampai liang lahat. I love you my wife. Now, tomorrow dan forever.


Myesha terharu, dia merasa dicintai. Sejurus kemudian pelukan untuk Faiq datang. Terasa hangat. Keluarga kecilnya.


"Makasih udah mencintaiku."


Faiq mencium kening Myesha. "Makasih juga karena sudah hadir di hidupku."


"Sebenernya aku ingin memberikan kado lagi, tapi nunggu persetujuan kamu."


"Kado apa pake persetujuan?"


"Aku ingin ngajak kamu honeymoon ke raja ampat. Gimana?"


Myesha terdiam sesaat. "Kalau gitu nunggu Yuno agak besar dikit."


"Yuno titipin ke orang tuaku aja, kita honeymoon berdua. Kita nikah sudah hampir 4 bulan, tapi belum pernah punya waktu berduaan, romantis-romantisan, acara anu-anu juga selalu terganggu."


Myesha duduk tegak. Wajahnya tak bahagia, ia melihat ke Yuno. Bayi itu memegang kerincingan.


"Aku nggak mau ninggalin Yuno," ucap Myesha sembari menggeleng.


Sejak menemukan Yuno, dia tidak pernah berpisah sehari pun dengan bayi itu. Beberapa jam tidak melihatnya saja sudah khawatir apalagi pergi jauh sampai ke Raja Ampat? Meninggalkan Yuno? Tidak! Dia tidak bisa.


"Sha, airnya udah mendidih kayaknya. buatin kopi, ya?" pinta Faiq.


Myesha beranjak. Pergi ke dapur.


Faiq menunduk, tepat berada di telinga Yuno. Membisikkan sesuatu ke bayi itu.


"Ternyata sainganku bukan Andre tapi kamu."


.


.


.


.


Bersambung.


Kagak pindah lapak. Di sini banyak yg sayang sama Yuno, alasan itu aja udah cukup buat bertahan.


Badanku rasanya remuk, cuaca yg buat demam, pilek dn pening. Jaga kesehatan ya gengs. Maaf ya aku up nyesuain kerjaan di dunia nyata. lop lop buat kalian