
Mata mereka bertatapan, Faiq masih dalam posisi jongkok di sebelah pohon pisang. Sementara Pak Burhan berdiri dengan tatapan tajam.
Faiq berlutut. "Maaf Pak, saya tidak sengaja. Tolong lepaskan saya."
Andre dan temannya berhenti menggali, ia melihat ke sekitar dan mendapati Pak Burhan dan Faiq. Segera mereka keluar dari lubang yang baru sedengkul orang dewasa itu. Berjalan menghampiri mereka.
Sementara itu melihat Faiq ketakutan Pak Burhan merasa menang. Dia meletakkan sekop yang tadi dalam posisi siaga memukul Faiq.
"Bawa sini ponsel kamu," perintah Pak Burhan sembari mengulurkan tangan.
Faiq mengambil ponselnya yang terjatuh. Dia memencet tombol untuk mematikan layar. Tangannya terulur ke atas perlahan. Tapi bukannya memberikan ponsel Faiq malah langsung berdiri dan meninju wajah Pak Burhan. Pria separuh baya yang shock itu jatuh ke tanah. Faiq menggunakan kesempatan ini untuk kabur.
Sebenarnya dia bisa melawan, tapi posisinya 3 lawan 1. Dan mereka adalah psychopath yang tak segan membunuh orang. Tak ada untungnya untuk melawan mereka saat ini.
Faiq berlari hingga beberapa kali tersandung. Menuju mobil. Napasnya berengah-engah ketika menyalakan mesin mobil. Andre dan temannya berlari hendak menghadang Faiq.
"Turun kamu!" Perintah Andre. Ia mengacungkan skop.
Bodoh jika Faiq menurut. Dia memundurkan mobilnya dengan cepat. Mencari pertigaan untuk kembali ke jalan raya besar. Tapi nahas Andre tetap menghalangi ketika dia hendak berputar. Tak ada pilihan Faiq mengegas mobilnya menabrak Andre.
Pria itu terjerembab ke dalam sawah, hendak ditolong temannya. Faiq tak peduli. Sepenuhnya dia mengegas dengan kencang dan berusaha menjauh dari sana.
Faiq memacu kendaraannya sangat cepat. Ingat kepada Myesha. Jalan menuju rumahnya lebih cepat dari jalan itu sementara dia harus berputar arah karena tidak bisa melewatinya. Ia takut Andre melakukan sesuatu kepada Myesha.
Ia mengecek ponselnya, telpon dari Detektif Dito masuk. Faiq segera mengangkatnya.
"Hallo Faiq, apa kamu baik-baik saja?" tanya Detektif Dito panik.
"Sejauh ini saya masih hidup, tapi mereka akan mengincar saya. Bagaimana ini?"
Faiq masih fokus menyetir. Sebentar lagi jalan raya. Anehnya Andre tak mengikuti. Hal itu malah membuatnya semakin takut.
"Polisi sudah melacak ponsel kamu dan tahu lokasi mereka. Kamu tenang saja polisi akan segera datang."
"Baiklah, saya tutup."
Telpon itu ditutup. Ia menghubungi Myesha, akan tetapi tidak ada sautan dari sebrang. Kekhawatiran itu kini memenuhi dadanya.
Sementara itu di rumah Myesha sedang menyiapkan kembang api. Menunggu Faiq yang tak kunjung pulang. Yuno sudah tidur dari tadi. Ia menunggu Faiq dengan memainkan kembang api berukuran besar di tangan.
Mobil berwarna hitam masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Mereka keluar. Ada Andre, Pak Burhan dan seorang pria pendek yang Myesha kenal.
"Ngapain Andre ke sini?" gumam Myesha heran. Ia mengintip dari jendela.
"Myesha sayang cepat buka pintunya." Kata Andre.
"Dia sudah gila!"
Myesha ingat kata Faiq, tak boleh membiarkan Andre masuk ke dalam rumahnya. Maka dari itu dia tidak akan keluar dari rumah atau pun membiarkan mereka masuk.
"Faiq belum sampai." Kata Pak Burhan.
"Mereka Ngapain sih?" gumam Myesha. Masih mengintip dari jendela.
Brak brak
Mereka menggedor pintu rumah, wanita itu mundur, merasa terancam. Kemudian dia berlari ke pintu belakang dan menguncinya juga. Ia mengingat semua jendela. Sudah terkunci semua.
"Orang itu ternyata belum sampai. Kalau sudah sampai kita bunuh sekalian."
Dari jendela Myesha mengamati pakaian mereka dan terkejut mendengar pembicaraannya. Ada noda darah di baju pria yang Myesha tak kenal dan juga Andre. Tubuh Myesha bergetar. Dia mengingat sesuatu.
Pertama kali bertemu Andre adalah ketika pria itu tak sengaja berpapasan dengannya. 2 tahun lalu. Myesha ke Metro untuk mencari kosan. Berkeliling di daerah sini dengan berjalan kaki.
Saat itu Andre berlumuran darah, dengan khawatir Myesha bertanya. Andre hanya menjawab dia habis dikeroyok. Myesha memberikan tisu dan bersedia menawarkan bantuan ke rumah sakit. Andre menolak dan hanya berterima kasih.
Keesokan harinya ada berita tentang pembunuhan mutilasi di daerah yang tak jauh dari sana. Sebenernya Myesha ada firasat tapi dia tidak ada bukti dan hanya diam.
Suara sirene polisi terdengar. Mereka bertiga panik dan hendak masuk mobil. Suara letusan pistol pun terdengar hingga memekkkan telinga. Yuno menangis dengan kencang.
Dengan ketakutan Myesha menuju kamar, menguncinya dari dalam. Dia takut. Kemudian memeluk Yuno yang menangis.
Ia meraih ponsel, ada 20 panggilan tak terjawab dari Faiq. Suara berisik di luar masih terdengar. Myesha tak berani melihat. Dia menghubungi Faiq.
"Mas di mana?"
"Sha, kamu nggak papa kan?" Faiq malah balik bertanya.
"Aku nggak papa, tapi Andre ada di luar rumah. Ada polisi juga di depan."
"Kamu diam di dalam, jangan keluar sampai aku datang. Ngerti?"
"Iya, cepat pulang, Mas."
"Aku sebentar lagi sampai."
.
.
.
bersambung
cuma mau ngasih tau kalo sebentar lagi season 1 bakal selesai dan hiatus. Sekitar pertengahan bulan ini.
Makasih buat dukungannya lop lop buat kalian semua